DEVY DAN SAHABATKU


DEVY DAN SAHABATKU

Oleh: Va Ayana Lubis

“Ops…. Gila! Ni cewek cakep amat.” Seruku dalam hati waktu melihat foto profil facebook seseorang. Lalu aku menambahkannya sebagai teman. Tak lama berselang, dia pun menerimaku. Rupanya cewek itu juga online. Kemudian kami chatting. Orangnya lumayan asyik. Dia setahun lebih tua dariku. Dan ternyata rumahnya tak jauh dari tempatku.

Hampir setiap hari kami online. Kemudian muncul seseorang yang bernama Putra. Dia selalu online tepat setelah Devy (teman baruku) offline.  Pembicaraan kami ujung-ujungnya pasti mengarah ke Devy. Dan dia selalu mengejek teman baruku itu.

Ternyata Putra dan Devy satu sekolah, bahkan satu kelas. Mereka selalu saling mengejek dan akhirnya bertengkar. Dan aku yang jadi penengah bagi mereka. Oya, kami bertiga ternyata alumni SMP yang sama. Tetapi aku tidak ingat bahkan tidak kenal mereka. Apalagi Putra, dia sama sekali tidak menampilkan foto aslinya di facebook. Tapi tidak apalah. Soalnya aku senang punya teman yang gokil dan lucu seperti mereka.

Pertemanan kami berubah menjadi persahabatan. Kami bertiga saling terbuka. Menyenangkan sekali. Beberapa hari yang lalu beredar kabar  kalau aku jadian sama Putra. Teman-teman sekolahku jadi sering godain aku.  Huuh… Ini pasti ulah Devy.

DevY cute calling

“Tumben nelpon? Ada apa Dev?”

“Ih… jutek banget sih. Lia, ketemuan yuk…. Udah penasaran nih pengen ketemu kamu.”

“Hah? Yang benar?” Jawabku kaget dengan suara setengah teriak.

“Aduh… suaramu kencang banget sih. Bisa pekak nih telinga aku.”

“Hehehe. Aku senang Dev. Dari kemaren aku ajak ketemuan jawabannya sibuuuuuuk terus.”

“Iya, iya. Maaf adekku sayang. Jangan manyun gitu dong. Bibirnya jadi dower tuh!”

“Enak aja! Jadi ketemuan di mana nih?” Tanyaku antusias.

“Ok, ok.” Jawabku lagi sambil menutup telpon dengan wajah sumbringah.

Walaupun kami sudah bersahabat di facebook kurang lebih 6 bulan, kami belum pernah berjumpa. Makanya aku kaget dan senang waktu Devy ngajak ketemuan. Jujur aku agak grogi entah bagaimana nanti pertemuan kami. Sebenarnya aku anaknya pemalu, cengeng, dan juga pendiam. Tetapi kalau di dunia maya kepribadianku selalu aku rubah menjadi sebaliknya. Makanya aku lebih mudah bergaul di dunia maya dari pada di dunia yang sebenarnya.

Lalu aku mengajak sahabat baikku Fina untuk bertemu Devy. Sesampainya di tempat yang disepakati, yakni rumah Devy, aku dan Fina benar-benar takjub dengan keindahan rumah Devy. Begitu megah dan berkelas. Kemudian kami dipersilahkan masuk dan disuruh menunggu Devy , soalnya dia masih belanja di supermarket.

Tak beberapa lama, Devy muncul dari balik pintu. Aku benar-benar tertegun dengan kecantikannya. Tubuh indahnya ditutupi kaos ungu dan dipadukan dengan rok mini. Rambut gelombangnya beterbangan ditiup angin. Wow…. Cantik banget. Dia menghampiri kami dan mengajak kami masuk ke kamarnya. Orangnya benar-benar asyik. Tidak jauh beda seperti yang di dunia maya. Kami pun mengobrol banyak. Fina pun cepat akrab dengan Devy.

“Lia, Putranya mana?” Tanya Devy dengan mimik pengen tau.

“Apaan sih Dev!” Jawabku manyun.

“Tau nggak Fin, si Lia ini selalu saja belain Putra. Padahal Putra kan sering jahat sama aku.” Balas Devy dengan mimik sedih yang dibuat-buat. Fina hanya tersenyum mendengarnya.

“Kamu dan Putra lucu deh. Kayak kucing dan tikus. Selalu berantem tapi nggak bisa dipisahin. Awas lho jadi cinta,”  Jawabku sambil tertawa.

“Putra itu siapa sih?” Tanya Fina tiba-tiba.

“Itu tuh, pacarnya Lia.” Jawab Devy spontan.

“Yaela, si Devy ini bandel banget sih dibilangin.”  Kataku geram.

“Udahlah… nggak usah bohong. Kalian benaran jadian kan? Kalau iya juga nggak apa-apa kok. Dia baik, truz lumayan keren juga.”

Dengan cepat kuambil bantal dan melemparkannya pada Devy. Hm… suasana ini benar-benar menyenangkan.

*  *  *

Kudengar kabar kalau Devy dan Fina semakin akrab. Mereka sering berjumpa tanpa mengajak aku. Ternyata dulu mereka satu SD. Aku benar-bener kesal pada mereka. Suatu hari mereka mengajakku ketemuan. Tetapi apa yang kudapatkan? Aku seperti orang bego di situ. Benar-benar tidak mereka hiraukan. Mereka bercerita yang tidak kumengerti. Ingin nangis rasanya.

“Aku pulang duluan,” kataku sambil meninggalkan mereka yang kaget dengan sikapku.

Sejak hari itu, persahabatan yang sudah lama kami bina mulai retak. Fina sudah tidak memperdulikan aku. Dia semakin akrab dengan Devy. Sering kupergoki mereka jalan berdua. Sama halnya dengan Fina, Devy pun tidak penghiraukanku lagi. Setelah puas merebut Devy dariku, sekarang Fina malah ingin dekat dengan Putra. Aku tidak bisa menolak permintannya. Dengan berat hati, aku pun mengenalkan Putra padanya.

*  *  *

Waktu istirahat

“Fin, aku pengen bicara empat mata sama kamu.”

“Yaudah, bicara aja.” Jawab Fina cuek dan tidak menoleh ke arahku.

“Fin, kamu kenapa ngejauhin aku? Kita udah sahabatan dari SMP Fin. Tetapi kenapa sekarang kamu berubah? Aku nggak mau persahabat ini sia-sia Fin,” kataku ingin menangis.

Tiba-tiba Fina berdiri tepat di hadapanku. “Kamu kenapa sih? Nggak terima kalau aku berubah? Sadar dong, emang kamu siapa aku?” Katanya benar-benar menusuk jantungku.

“Aku serius Fin.” Mataku mulai berkaca-kaca.

“Jadi kamu pikir aku nggak serius? Dengar ya Lia. Aku udah bosan temanan sama kamu. Nggak ada untungnya temanan sama kamu. Udah kere, jelek, dan nggak gaul. Untungnya temanan sama kamu ya karena kamu agak pintar aja. Jadi mudah buat nyontek. Dan kamu tau Lia, sekarang aku sudah dapat apa yang aku mau. Aku benar-benar puas. Apalagi sejak temanan sama Devy. Hidupku benar-benar berubah.”  Fina tersenyum sinis sambil meninggalkanku yang sudah meneskan air mata.

* * *

Di taman

“Aku kesal sama mereka Putra.”  Aku menangis sesenggukan. Putra pun menenangkanku.

“Lihat dan dengar aku ya Lia. Nggak ada gunanya kamu merasa sedih seperti ini. Bodoh tau nggak sih. Mereka berdua itu cewek nggak benar. Dulu, Devy teman baikku. Bahkan aku pernah jatuh cinta padanya. Tetapi dia nggak pernah menerima cintaku.”

“Sampai suatu hari aku memergokinya sedang berciuman dengan teman sekelasku di taman belakang sekolah. Kamu tau dengan siapa dia berciuman? Sama cewek. Aku benar-benar shock. Makanya sejak saat itu, siapa pun cewek yang dia incar, aku selalu berusaha menghalangi rencananya. Pas Devy ngajak kamu ketemuan, aku benar-benar khawatir. Tetapi ternyata setelah bertemu kamu, dia lebih menyukai Fina. Dan Fina juga menerima Devy karena Devy selalu memberinya apa yang dia inginkan. Benar-benar konyol.” Putra mendengus kesal.

Aku benar-benar shock mendengarnya. Air mata mengucur deras dari pipiku.

“Kenapa jadi begini? Kasihan Fina. Dia gadis yang baik, Ra.” Kataku memelas.

“Bodoh… nggak usah nangis gara-gara hal tolol seperti itu. Aku akan setia jadi teman kamu kok. Jadi nggak usah merasa sendirianlah.”

Putra memalingkan wajahnya yang merah padam. Aku pun menghapus air mataku dan mulai tersenyum.

* * *

Kantor, 7 Februari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s