DIBALIK TRAGEDI


DIBALIK TRAGEDI

Oleh: Eva Riyanty Lubis

“KEMBALIKAN AYAHKU!” Rina berteriak sambil menangis histeris di pemakaman sang ayah yang baru beberapa jam dikebumikan.

“Udah sayang, jangan menangis lagi. Kamu nggak ingin melihat ayahmu tersiksa karena tangisanmu kan Rin?” Seorang wanita cantik berusia tiga puluh limaan menenangkan hati Rina.

“Kita pulang ya sayang, ini udah sore,” tambah wanita itu lagi.

“TINGGALKAN AKU SENDIRI!” Jawab Rina berteriak tanpa menoleh kepada sipemilik suara tersebut.

Wanita itu terkejut dan perlahan meninggalkan Rina dengan perasaan kecewa.

“Ayah jahat, kenapa musti ninggalin aku disaat seperti ini? Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi yah….” Air mata mengucur deras diwajah tirus Rina.

@@@

Malam harinya, Rina duduk termenung disamping jendela kamarnya. Terangnya bintang tidak membuat Rina merasa senang. Padahal sebelumnya, bintang merupakan sahabat sejati Rina. Tetapi kali ini hatinya benar-benar hampa. Sesekali air mata masih mengucur diwajahnya. Kemudian terdengar langkah kaki seseorang mendekati Rina.

“Sayang, kamu makan dulu….” Wanita itu mengelus rambut Rina dengan lembut.

“Kenapa sih tante jadi sok perhatian gini?” Rina mengibaskan tangan tante dari rambutnya. “Tante senang kan sekarang liat aku hidup sebatang kara? Aku… BENCI sama tante,” Rina menatap tantenya dengan penuh kebencian. Aura kemarahan tampak jelas dimata coklat Rina.

“Kenapa kamu selalu benci sama Tante? Tante salah apa Rina?” Mata wanita itu mulai berkaca-kaca.

“Belum sadar juga? Atau pura-pura bego?” Senyum sinis Rina berikan kepada wanita itu.

Perlahan air mata menetes diwajah wanita itu. Kemudian dia berbalik meninggalkan Rina.

“Bintang, kamu lihat, dia bahkan tidak tahu dimana letak kesalahannya. Aku benar-benar muak melihat dia. Bahkan aku ingin mencabik-cabik wajah sok sucinya itu. Aku benci dia. Benar-benar benci….”

@@@

Pengajian yang digelar buat ayah Rina selama tiga malam telah berakhir. Sebahagian saudara Rina telah kembali ke kampung halamannya masing-masing. Sungguh, Rina merasa kesepian. Tidak mempunyai ayah, ibu, dan saudara.

“Tante ingin kamu tinggal bersama tante, Rina.” Perkataan wanita itu mengejutkan Rina.

“Jangan sembarangan masuk kamar orang, ini bukan rumah tante,” ujar Rina geram.

“Okey…. Tante tau kamu benci sama tante. Walaupun sampai sekarang tante tidak tahu masalahnya apa. Tetapi tante nggak tega melihat kamu tinggal disini sendirian,”

“Peduli apasih sama aku? Lagian aku nggak butuh perhatian dari tante!”

“Tetapi kenapa?” Wajah tante penuh tanda tanya.

“Aku muak sama tante. Tante yang udah ngebunuh ayah sama ibuku. Tante itu manusia iblis. Bajingan. Brengsek…” belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, tiba-tiba….

PLAK….

Tamparan panas melayang dipipiku.

“Tante nampar aku? SEHARUSNYA AKU YANG NAMPAR TANTE! Tante benar-bener keterlaluan. Tante nyadar nggak sih kalau tante udah ngerebut ayah dari ibuku? Tante selingkuhin kakak tante sendiri. Otak tante ditaruh dimana hah? Gara-gara kelakuan tante ibu jadi sakit dan akhirnya meninggal. Ini semua karena tante….”

Wanita itu benar-benar terkejut. Tampak nafasnya naik turun tidak beraturan. Tiba-tiba dia mendekati Rina dan mencekik lehernya. Matanya memerah. Rina terkejut. Bahkan Rina menjadi takut. Semakin Rina ingin melepas cekikannya, tante semakin kuat mencekik Rina. Kemudian Rina jatuh tersungkur. Perlahan tenaga Rina mulai habis. Tanpa disadari Rina, air mata mengalir dipelupuk matanya.

“Ammpuuun…. Aku udah nggak kuat Tante….” Suara Rina melemah. Tetapi wanita itu tidak menggubris ucapan Rina. Pandangan Rina semakin kabur.

@@@

            Udara yang masuk melalui lobang hidung benar-benar membuat sempoyongan. Perlahan kedua bola mata Rina terbuka. Serba putih.

“Dimana ini?”

“Rumah sakit, Rin.” Jawab seseorang cepat.

“Apa yang telah kamu perbuat pada tantemu?” Tambah lelaki itu yang ternyata omnya Rina.

“Maksud om apa?” Tanya Rina heran.

“Tantemu tidak pernah selingkuh dengan ayahmu. Bahkan dia dengan tulus ikhlas memberikan ayahmu pada ibumu. Kamu tau Rina, ayah dan tantemu saling mencintai. Tetapi ibumu tidak terima. Dia terlanjur jatuh cinta pada ayahmu sejak tantemu mengenalkan ayahmu pada keluarga kita.”

“Walau dengan berat hati, tantemu mengikhlaskan mereka untuk menikah. Tetapi itu tidak berarti dia sudah tidak mencintai ayahmu. Dia menjaga cinta sucinya, Rina. Hingga sekarang dia tidak menikah. Kamu tau itu kan?”

“Nggak! Om Hardy bohong!” Rina berteriak histeris.

“Ibumu meninggal gara-gara sakit, Rina. Dan tantemu hanya berusaha menghibur ayahmu. Dia nggak ada niat mengambil kesempatan atau apapun seperti yang kamu pikirkan.” Raut wajah Om Hardy mengeras.

“Om bohong! Ya Allah…. Kenapa jadi seperti ini?” ujar Rina sembari menangis. Panyesalan tampak diwajahnya.

“Mereka saudaraku Rina, aku kenal mereka….” Suara Om Hardy memelan.

“Ayahmu baru beberapa hari dimakamkan, dan kamu sudah berbuat masalah. Berpikirlah secara realistis Rina. Jangan kekanak-kanakan! Hilangkan semua dendam yang ada pada dirimu. Cobalah melihat sisi baik seseorang. Kenali tantemu lebih jauh.” Jelas Om Hardy.

“Kenapa baru sekarang Om mengatakannya padaku?” Ujar Rina lirih.

“Di mana Tante Jenny?” Tanya Rina kemudian.

@@@

            Dibalik jeruji putih, wanita itu terlihat lusuh. Pandangannya merawang entah kemana. Rambutnya tidak terurus. Dia mendekap lututnya dengan erat. Seakan takut kehilangan sisa-sisa yang dia miliki.

Perlahan Rina mendekatinya. Rina menghadapkan wajahnya tepat beberapa centi dari wajah sang tante. Rasa menyesal meliputi raga Rina.

“Rina minta maaf.” Kata Rina pelan.

Wanita itu tidak bergeming.

“Rina yang salah, tante. Rina minta maaf. Rina nggak mau tante seperti ini. Rina minta maaf Tante.” Ulang Rina lagi. Sia-sia. Tangis Rina mulai pecah.

“Tante, jangan diamin Rina dong,” lalu Rina memeluk Tante Jenny dengan erat.

“Rina udah tau semuanya tante. Rina yang salah udah nuduh tante macam-macam. Rina minta maaf. Rina sayang sama tante.” Bisik Rina.

Tanpa sepengetahuan Rina, Tante Jenny juga meneteskan air mata.

2 thoughts on “DIBALIK TRAGEDI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s