Apa itu Plot?


Plot atau alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Dengan demikian, plot merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita sehingga menjadi kerangka utama cerita.

Plot merupakan kerangka dasar yang amat penting. Plot mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus berkaitan satu sama lain, bagaimana suatu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain, serta bagaimana tokoh digambarkan dan berperan dalam peristiwa itu.

Perrine dalam bukunya Literature: Structure, Sound and Sense menjelaskan bahwa “plot is the sequence of incident or events which the story is composed and it may conclude what character says or thinks, as well as what he does, but it leaves out description and analysis and concentrate ordinarily on major happening” (1974:41).
Robert Stanton dalam bukunya An Introduction to Fiction menyatakan “the comflict moves the story because it is generating center out of which the plot grows which becomes the core of the story’s structure. (1965: 16)

William Kenney dalam bukunya How To Analyze Fiction menyatakan “the structure of plots divided into three parts. They are the beginning which consists of the exposition on introduction, the middle which consists of conflict, complication and climax and the end which converses denouement or resolution” (1966:13).

Dalam bentuk sederhana plot dibagi menjadi 3, yaitu:
1. Beginning atau awal cerita
Bagian awal berfungsi sebagai eksposisi yaitu bagian yang memberikan informasi yang diperlukan oleh pembaca agar bisa memahami jalan cerita selanjutnya. Dibagian awal ini biasanya berisi nama tokoh-tokoh, gender, usia, pekerjaan, kondisi sosial, tempat tinggal, dan hal-hal yang menurut penulis penting untuk diketahui oleh pembaca. Pada awal ini biasanya diakhir dengan cerita yang tidak stabil karena cerita yang tidak stabil inilah yang akan memicu kejadian yang akan terjadi berikutnya.
2. Middle atau tengah cerita
Bagian tengah cerita diawali dengan hal-hal yang bisa memicu konflik karena pada bagian tengah cerita ini berupa rangkaian konflik yang intensitasnya semakin tinggi dan mencapai kepuncak dan disebut dengan klimaks sebuah cerita. bagian inilah yang biasanya paling ditunggu oleh pembaca.
3. End atau akhir cerita
Bagian akhir cerita ini berisi penyelesaian atas masalah-masalah yang terjadi dibagian tengah cerita.

Di dalam plot juga terdapat konflik. Konflik yang terjadi disebabkan adanya motivasi dan tindakan serta unsur sebab akibat. Kenney (1966:95) menyatakan ‘motivation as reason why the characters do what they do.’ Sedangkan Gorys Keraf (1982:160-162) menyatakan bahwa ‘dalam sebuah cerita, seorang tokoh dapat mempunyai bermacam-macam motivasi yang mendorongnya melakukan suatu tindakan.’

Penjelasan Potter lebih jelas mengenai konflik adalah
‘the term ‘conflict’ is familiar; it is the result of the oppisition between at least two sides. The conflict may be overt, and violent, or implicit and subdued; it may be visible in action, or it may take place entirely in a character’s mind; it may exist in different levels of meaning; but by definition it is inherent in the concept of plot.’ (1967:25-26)

Tindakan adalah sesuatu yang dilakukan tokoh karena didorong oleh motivasi. Menurut Brooks (1936:7), definisi tindakan adalah
‘The action, then, is the raw material of plot. It is the story behind the story as we find is formed into fiction. The plot is the action as we find it projected, by whatever selection of events and distortion of chronology, into the fiction that we actually confront.’

Menurut Hartoko dalam bukunya yang berjudul Pemandu di Dunia Sastra (1985:48), plot dibedakan menjadi dua jenis:
1. Plot Flash-back (alur campuran)
Tehnik ini digunakan pengarang untuk menampilkan kembali kejadian di masa lalu.
2. Plot Flash-forward (alur maju)
Dalam suatu cerita, teknik ini lebih mudah di pahami pembaca karena cerita yang ditampilkan maju terus ke depan.

Melalui plot pembaca dapat mengikuti urutan cerita lebih mudah. Tatanan plot dalam sebuah cerita yang lebih rinci menurut Mochtar Lubis (1981:17) meliputi:
1. Perkenalan.
Dalam bagian perkenalan berisi mengenai tokoh, konflik, dan latar dari cerita yang dibahas dalam novel.
2. Pemaparan masalah
Bagian dimana cerita mulai berkembang sebelum konflik mencapai puncak.
3. Klimaks
Bagian dimana permasalahan dalam novel mencapai puncaknya.
4. Anti klimaks
Bagian dimana permasalahan dalam cerita mulai ada solusinya.
5. Penyelesaian masalah.
Bagian dimana permasalahan dalam cerita dapat diselesaikan.

Plot mempunyai peranan penting dalam menunjukkan perubahan suatu cerita. Plot yang konsisten dengan cerita atau tidak melompat-lompat akan lebih mudah dimengerti oleh pembaca daripada plot yang melompat-lompat.

Trik Sederhana Menulis Alur dan Plot Cerita

oleh Joni Lis Efendi

http://www.menulisdahsyat.blogsot.com

1. Alur Cerita

Alur adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu, atau rangkaian peristiwa demi peristiwa dari awal sampai akhir cerita. Ada alur progresif yang bergerak runtut dari awal sampai akhir (A-B-C). Alur kilas balik (flash back) yang dimulai dari akhir cerita kemudian bergerak ke awal cerita (C-B-A). Dan, ada alur percampuran antar kedua alur yang disebutkan di atas.

Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi/laku (action) dari tokoh-tokoh cerita. Alur yang baik akan sangat membantu pembaca untuk menangkap gambaran utuh dari cerita yang disuguhkan dalam novel. Bagi penulis, penguasaan alur cerita sangat menolong agar nggak kehilangan jejak, atau mentok di tengah jalan.

Sebaiknya sebelum mulai menulis dibuat terlebih dahulu draf alur ceritanya. Hal ini untuk memudahkan kita saat menulis nanti. Walaupun begitu, kita nggak diharuskan terlalu kaku memegang draf awal dari alur tersebut. Karena biasanya ketika menulis, pergerakan alur cerita akan berkembang dengan sendirinya.

Kamu bisa menulis draf awal sebuah alur cukup dengan beberapa kalimat aja, paling banyak lima kalimat. Tentunya nggak terlalu ribet, kan. Berikut ini contoh alur dari cerpen “Rindu Banjir” yang dimuat di Majalah Ummi edisi Februari 2010.

Contoh Alur:

Salmah selalu merindukan datangnya banjir.
Salmah mendapatkan haid pertama saat musim banjir tiba.
Emak melarang Salmah bermain sama anak laki-laki.
Marlan, sahabat baik Salmah, kaget dengan perubahan sikap Salmah.

2. Plot

Plot adalah hubungan yang mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lainnya sehingga saling berhubungan yang memicu terjadinya krisis dan menggerakkan cerita menuju klimaks (puncak konflik). Dengan kata lain, adanya suatu peristiwa dibenturkan dengan peristiwa lain, yang saling bergesekan sehingga memantik konflik. Plot inilah yang sesungguhnya menggerakan cerita dari awal sampai akhir yang menghiasinya jalannya cerita tersebut dengan ketegangan, konflik dan penyelesaian (ending).

Di dalam plot inilah persoalan-persoalan yang dihadapi para tokoh cerita saling digesekkan, dibenturkan satu sama lain menjadi persoalan baru yang lebih kompleks, diseret ke puncak krisis, lalu dicari pemecahan (penyelesaian)-nya menuju akhir cerita (ending). Plot digerakkan oleh tokoh cerita, gesekan yang timbul karena pergerakan plot inilah yang melahir ketegangan (suspend) yang menyulut api konflik. Kemudian plot yang mengkondisikan tokoh cerita berusaha untuk mencari jalan keluar dari konflik yang terjadi tersebut untuk menurunkan tensinya sampai pada ending.

Contoh plot dalam cerpen “Rindu Banjir”

Salmah mendapatkan haid pertamanya bersamaan dengan datangnya banjir sehingga Emak melarang Salmah bergaul dengan laki-laki termasuk main hujan dan bersampan dengan Marlan. Karena sekarang dia sudah gadis dewasa yang harus menjaga adab pergaulan.
Keinginan Salmah untuk main sampan selama banjir sirna dengan adanya larangan Emak.
Salmah dikurung di rumah selama haid dan tak boleh ke mana-mana.
Marlan, sahabat baik Salmah, heran dengan perubahan sikap Salmah yang terkesan menjauhinya. Sikap Salmah menjadi dingin kepada Marlan, dan Marlan pun akhirnya menjauhinya.

Nah, sekarang timbul pertanyaan, apa beda alur dengan plot?

Beberapa perbedaan antara alur dan plot:

Alur berisi kronologis cerita, walau susunannya bisa maju, kilas balik atau gabungan.
Alur hanya rangkaian cerita dari awal sampai akhir.
Alur bisa dijabarkan dengan gaya narasi, deskripsi, eksposisi dan narasi. Sedangkan plot sebagian besar dengan narasi dan dialog.
Plot adalah pergerakan cerita dari satu kejadian demi kejadian yang saling berkaitan, bahkan terkadang sengaja dibenturkan untuk menimbulkan adanya ketegangan, klimaks (puncak konflik), antiklimak (penurunan konflik) sampai ending.
Alur adalah badan cerita sedangkan plot adalah ruh yang menggerakan cerita.
Alur ada pada jenis tulisan lain seperti feature dan esai. Sedangkan plot khusus ditemukan dalam cerpen dan novel.

Sekarang giliran kamu untuk menulis alur dan plot. Tema kali ini adalah tentang gadis hujan yang selalu merindukan hujan, karena hujan selalu mengingatkannya pada kenangan cinta pertamanya. Walau terkadang dia benci hujan, lantaran cinta pertamannya pun hanyut diseret hujan lebat hatinya.

Nama tokoh dan setting sesuai dengan keinginanmu masing-masing:

Coaching Menulis #003: Plot
November 20, 2009
Pada lanjutan seri Coaching Menulis ketiga ini, saya akan membahas satu topik cukup panjang. Hal ini dikarenakan karena topik ini merupakan salah satu unsur penting dalam menulis. Yah, memang setiap langkah yang saya sajikan di seri Coaching Menulis pasti penting bukan? Ingin tahu lebih lanjut? Silakan cermati.

Coaching Menulis #003: Plot

Seringkali ide yang menarik untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan muncul seketika begitu saja. Kemudian, setelah didapatkan pun ide tersebut perlu dikembangkan menjadi beberapa pokok pikiran, dan tulisan pun dapat segera dimulai. Tapi, apakah bisa semudah itu? Apalagi bagi yang tak terbiasa untuk menulis.
Ada satu langkah yang baiknya dilakukan sebelum langsung menulis, yakni membuat rangkaian ide yang akan ditumpahkan dalam bentuk tulisan. Bahasa resminya adalah plot, atau alur. Keberadaannya cukup penting karena ia akan menjadi benang merah dari tulisan. Sehingga jika di kemudian hari proses penulisan dilanda kemacetan atau stuck, maka ketika kemudian ditinggalkan untuk sementara kita masih akan memiliki panduan untuk menyelesaikan tulisan.
Setiap jenis tulisan tentu memerlukan alur ataupun plot. Fiksi atau nonfiksi, cerita ataupun panduan, hingga biografi ataupun buku laporan peristiwa. Tiap-tiap tulisan tersebut pasti memerlukan sekaligus menggunakan alur atau plot. Tapi setiap jenis tersebut pasti menggunakan plot yang berbeda-beda bergantung kepada bagaimana penulis ingin membangun impresi para pembaca melalui tulisannya.

Susunan Plot
Sebelum melangkah lebih jauh dan menentukan plot tulisan, ada baiknya mengenali susunan plot. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan ketika nanti harus membuat plot yang diterjemahkan ke dalam runutan ide topik, ataupun ketika memilih urutan plot. Ya, memang saya akui ternyata proses menulis itu cukup rumit. Tapi pada praktiknya nanti tidak sulit kok!
Umumnya, plot memiliki 6 unsur utama yang menjadi penyusun plot. Perkenalan, pemunculan masalah, konflik, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian atau kesimpulan. Keenam unsur itulah yang kemudian menjadi susunan utama plot. Tanpa ada salah satunya, tulisan akan terasa janggal karena ada salah satu unsurnya yang hilang.
Tapi kemudian, jika tulisan memang disengaja untuk dibuat menggantung, maka tak perlulah mengkhawatirkan unsur yang hilang tersebut. Walau begitu, mari kita fokus tulisan yang lebih lengkap ketimbang membuat tulisan yang tak sempurna tersebut.
Kembali kepada 6 unsur penyusun plot. Mari kita beda satu persatu dan dimulai secara urut. Perkenalan, biasanya merupakan awalan dari tulisan. Sesuai dengan namanya, perkenalan berisikan pembukaan dari tulisan yang memuat topik apa yang akan dibahas. Dalam tulisan fiksi, perkenalan akan berupa kemunculan tokoh, sementara dalam tulisan nonfiksi akan berupa pembukaan dari topik tulisan.
Pemunculan masalah adalah tahapan selanjutnya setelah Perkenalan. Dalam tulisan seringkali ia merupakan saat di mana keberadaan topik tulisan mulai dipertajam sehingga pembaca akan mengenali maksud dan tujuan dari tulisan tersebut. Pada tulisan fiksi, maka pemunculan masalah biasanya merupakan kejadian yang dialami oleh tokohnya, sementara dalam tulisan nonfiksi berupa unsur-unsur pendukung topik yang dibahas dan bisa berupa contoh-contoh yang dikaitkan.
Ketika topik dikenali dan lebih mengerucut sehingga pembaca mengenalinya, maka kejadian selanjutnya dalam sebuah tulisan adalah terjadinya konflik. Ia merupakan lontaran masalah yang pertama kali timbul sejak pertama kali tulisan dimulai. Seringkali, konflik pun dihadirkan agar tulisan menjadi lebih menarik dan menantang pembacanya untuk melanjutkan dan menyelesaikan bacaannya.
Setiap tulisan pasti memiliki puncak yang paling menjadi daya tarik dari tulisan tersebut. Entah itu situasi yang makin menegang seperti dalam tulisan fiksi, ataupun perbandingan pendapat para ahli yang hadir dalam tulisan nonfiksi. Apapun bentuknya, klimaks haruslah memiliki unsur paling menarik dan paling “WAH” dibanding bagian-bagian lainnya. Klimaks adalah momen-momen penting dalam tulisan, di mana pembaca mengalami pengalaman puncak emosi ataupun rasa ingin tahu yang paling tinggi.
Everything comes up, would comes down. Itulah yang juga berlaku di dalam sebuah tulisan. Tensi yang terus dibangun melalui fase perkenalan hingga klimaks pun “harus” turun dengan membuat antiklimaks. Hal ini dimaksudkan agar tulisan menjadi lebih “menyenangkan” bagi pembaca karena tak harus terus dirundung oleh hype dari tulisan. Antiklimaks juga dimaksudkan agar pembaca tulisan memiliki kesempatan untuk menarik napas sekaligus menunggu akan seperti apa akhir dari tulisan kita.
Ketika semua unsur dari plot tulisan sudah muncul, maka penyelesaian adalah jalan yang paling baik. Dengan membuat fase penyelesaian, maka tulisan akan menjadi lengkap karena dapat berisikan kesimpulan pada tulisan nonfiksi maupun juga bagian akhir dari cerita fiksi yang bisa dipilih apakah berakhir bahagia, sedih, ataupun menggantung.

Memilih Jenis Plot
Terdapat 3 macam alur yang paling utama dan dikenal serta sering digunakan oleh kebanyakan penulis. Maju, mundur, serta campuran. Ketiga jenis plot tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang dapat membangun setiap tulisan sehingga terlihat lebih menarik bagi para pembacanya. Ingin tahu lebih jauh? Lanjutkan membaca tulisan ini.
Plot maju adalah plot yang paling umum dan sering digunakan di setiap tulisan. Ia memiliki ciri tulisan yang bergerak urut dari awal hingga akhir tulisan. Setiap bagian dari tulisan tertata dengan baik, sehingga pembaca tulisan pun takkan kehilangan setiap momen. Runutan peristiwanya membuat impresi yang dibangun oleh penulis seperti mendaki gunung kemudian menuruninya kembali. Perkenalan, pemunculan masalah, konflik, klimaks, antiklimaks, penyelesaian adalah fase plot yang disusun secara urut dan tidak berloncatan.
Kebalikan dari plot maju, tentu adalah plot mundur yang susunannya sudah tentu merupakan kebalikan dari plot maju. Penyelesaian, antiklimaks, klimaks, konflik, pemunculan masalah, dan perkenalan sebagai urutan fase terbalik yang sudah barang tentu akan membuat tulisan menjadi “berbeda” karena tuturan cerita akan terbalik dengan ditampilkannya amanat ataupun kesimpulan cerita terlebih dahulu, baru kemudian mengetahui masalah yang diakhiri dengan keterangan pelaku masalah tersebut.
Jika plot mundur cukup membuat bingung untuk diterapkan, namun plot maju pun tak terlalu menarik karena terlalu runut, maka ada pilihan lainnya. Gunakanlah plot campuran yang merupakan hasil paduan antara plot maju dan mundur. Ini dimungkinkan karena plot bersifat fleksibel sehingga dapat membuat tulisan menjadi lebih menarik.
Plot campuran yang merupakan hasil paduan dari maju dan mundur ini, tentunya masih menggunakan 6 unsur penyusun plot. Meski demikian, susunannya dapat diganti dan disusun ulang tanpa berurutan. Namun, apapun awalnya penyelesaian akan tetap hadir di bagian belakang. Contohnya plot campuran antara lain konflik – pemunculan masalah – perkenalan – klimaks – antiklimaks – penyelesaian.
Namun kembali lagi, apa pun plot yang akan dipilih sebagai panduan benang merah tulisan, pastikanlah bagian-bagian tulisan terus menempel dengan plot sehingga ketika urutannya akan diputarbalik akan mudah dikerjakan. Selamat menulis!
Sudah tahu plot seperti apa untuk tulisan Anda?

30 thoughts on “Apa itu Plot?

  1. Semoga kalian semua mengerti akan untaian pikiran yang membentuk sebuah tulisan pena dari saudara eva yang pintar dan soleha ini, good girl #i_like_your_style good luck
    and Visit ““

  2. akhirnya ada info juga yang bisa gua dapatkan untuk membuat sebuaah plot untuk sebuah film pendek yang akan gua buat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s