IHSAN DAN SI PUTRI (CERNAK: HARIAN ANALISA. MINGGU, 03 JUNI 2012)


IHSAN DAN SI PUTRI

Oleh: Eva Riyanty Lubis

Ihsan berangkat ke sekolah dengan wajah cemberut. Hal itu sudah terjadi selama beberapa hari ini. Ibu dan ayahnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu. Mereka sudah berulang kali menanyakan apa yang terjadi dengan Ihsan, namun bocah kecil itu selalu mengatakan kalau semua baik-baik saja. Padahal mimik wajahnya tidak bisa berbohong.

Siang itu Ihsan bersin-bersin berulang kali. Hidungnya sudah berubah memerah.

“Loh, kamu flu toh Ihsan? Aneh, hari panas gini kamu malah flu. Kamu makan dulu gih. Tadi Ibu masak sup.” Ujar ibu Ihsan sembari menyuruh bocah itu melangkahkan kaki ke dapur. “Ibu ke pasar dulu ya. Makanan si Putri sudah habis. Nanti dia keburu lapar.”

Ibu Ihsan melangkah ke luar rumah. Sedang ayah Ihsan masih bekerja di kantor. Alhasil, Ihsan harus seorang diri di rumah.

Bukannya mengambil makanan di dapur, Ihsan malah melangkahkan kakinya menuju kamar. Di sudut kasurnya, si Putri tengah mendengkur pulas. Putri adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya kepada seekor kucing betina Rusia. Kucing itu berwarna putih dengan bulu yang sangat lebat.

Orang tua Ihsan memang tergila-gila pada kucing. Beberapa hari yang lalu, kucing American mereka yang bernama Bella meninggal karena tertabrak kendaraan. Mereka sedih luar biasa. Apalagi kucing itu sudah lama tinggal bersama mereka. Kurang lebih tiga tahun.

Ihsan sangat membenci kucing. Sudah lama orang tuanya mengetahui hal itu. Sejak kepergian Bella, kedua orang tuanya kemudian mencari kucing pengganti. Lalu ditemukanlah Putri.

Ihsan mempunyai alergi terhadap bulu kucing. Dulu awal-awal memiliki Bella, Ihsan sampai harus di rawat di rumah sakit karena alerginya itu. Namun lambat laun penyakit alerginya sembuh sendiri.

Kali ini Putri kembali membuatnya alergi kepada kucing itu. Berulang kali Ihsan berusaha menjauhkan kucing itu dari dirinya, namun kucing itu tidak pernah mau. Sepertinya dia menyukai Ihsan. Sedang orang tua Ihsan tidak menyadari kalau Ihsan bersin-bersin lagi karena kucing baru mereka itu.

“Kamu menyebalkan! Kupikir sejak si Bella mati, aku sudah bisa gembira. Eh, sekarang kamu malah muncul.” Ihsan membentak Putri. Kucing manis itu hanya menatap Ihsan sebentar, kemudian kembali melanjutkan tidurnya.

Ihsan mendengus kesal.

“Gara-gara kamu aku jadi tidak bisa konsen melakukan apapun.” Tambah Ihsan lagi.

Kemudian Ihsan pergi ke dapur untuk mengambil karung. Lalu dengan hati-hati dimasukkannya kucing itu ke dalamnya. Kucing itu tidak mengeong. Hanya sedikit keheranan melihat kelakuan majikannya kepadanya.

“Nah, sekarang kamu bebas. Kamu bebas kemana pun kamu mau. Tapi bukan di rumah ini lagi.” Tawa sinis Ihsan tampak di sudut bibirnya.

Ketika ia hendak membawa kucing itu keluar, tiba-tiba Kak Aisyah, sepupunya yang paling besar mengetuk pintu. Ihsan membukanya dengan pelan sambil menyembunyikan karung di belakang tubuhnya.

“Apa yang kamu sembunyikan, Ihsan?” tanya Kak Aisyah sembari menaikkan sebelah alis matanya.

Ihsan nyengir. “Nggak ada apa-apa kok, Kak.” Ujar Ihsan berbohong.

“Coba kakak lihat,” Ihsan berusaha mengelak. Namun karena Kak Aisyah terus memaksannya, akhirnya Ihsan harus memberikan karung itu kepada Kak Aisyah.

Mata Kak Aisyah terbelalak.

“Ihsaaaaaaan. Ini kucing mau kamu apakan? Kamu buang? Kamu tahu, kalau Kakak telat sedikit aja membuka karung ini, dia akan mati. Dia nggak bernapas, Ihsan.”

Ihsan menundukkan wajahnya.

“Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Kak Aisyah sambil berkacak pinggang.

“Ihsan nggak suka kucing, Kak. Dia buat Ihsan jadi bersin-bersin lagi. Gara-gara itu Ihsan jadi nggak konsen dalam melakukan apapun. Padahal Ihsan dah bilang nggak usah melihara kucing lagi pas Bella mati. Tapi Ibu ama Ayah nggak setuju.” Raut wajah Ihsan mendadak sedih.

Kak Aisyah membelai lembut rambut Ihsan.

“San, tau nggak kalau bersin itu nggak selamanya menyakitkan? Bersin juga memiliki manfaat yakni menjaga agar hidung tetap bersih, bersin yang terjadi berulang-ulang diharapkan dapat membantu upaya pembersihan dalam rongga hidung. Jadi nggak usah kesal karena hal itu. Toh waktu punya kucing yang lama bersin-bersinnya kan nggak lama?”

“Dan satu lagi, Nabi Muhammad mewajibkan kita untuk menjaga dan memelihara hewan. Termasuk kucing. Kalau kita membunuh mereka, atau ketika kita tidak mau memberi mereka makan, kita akan berdosa dan langsung masuk api neraka. Ihsan mau masuk neraka?”

Ihsan bergidik ngeri. Kemudian ia mengucap Istigfar.

“Janji tidak akan melukai kucing lagi?”

“Iya, Kak.” Jawab Ihsan bersemangat.

Lalu Ihsan memunduk. Membelai lembut bulu Putri. Kucing itu mengibas-ibaskan ekornya. Kemudian berlari-lari kecil mengelilingi Ihsan.

“Tuh kan, dia sayang sama Ihsan.” Ujar Kak Aisyah tersenyum.

“Maafkan Ihsan ya, Putri.” Dielusnya kucing manis itu.

Kucing itu menggoyang-goyangkan ekornya seperti mengatakan iya. Sejak saat itu Ihsan tidak lagi membenci kucing. Penyakit bersinnya juga lambat laun mulai mereda.

            Padangsidimpuan, 23 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s