Jangan Bermain Api (CERNAK – MAJALAH IMUT Edisi 29 2012)


JANGAN BERMAIN API!

Oleh: Eva Riyanty Lubis

Siang itu Icha dan Winda tengah bermain masak-masakan di depan rumah Winda. Keduanya tampak bermain dengan gembira.

“Cha, kita masak sup aja yuk. Lapar nieh…” ujar Winda dengan mulutnya yang maju beberapa senti ke depan.

“Winda, sup itu nggak enak. Kita masak nasi goreng aja. Kenyang tau makan nasi goreng.” Jawab Icha sok dewasa.

“Kamu mah nggak mau ngalah sama Winda.“ Bocah berusia sebelas tahun itu tampak ngambek.

“Aduh…. Jangan ngambek. Iya, iya. Kita masak sup. Jangan ngambek lagi ya Winda,” Icha menenangkan Winda dengan menepuk-nepuk pelan pungggung bocah itu.

Lalu mereka pun kembali melanjutkan masak-memasaknya. Icha dan Winda sebenarnya sebaya. Hanya saja Winda lebih cengeng dan manja. Berbanding terbalik dengan Icha. Walau demikian, Icha tetap selalu mengalah demi sahabatnya itu.

Beberapa menit kemudian, Anto dan Wawan muncul dari balik pagar. Mereka satu kelas dengan Icha dan Winda. Mereka merupakan siswa pembuat onar di kelas. Rumahnya tidak jauh dari rumah Winda.

“Aduh, dua anak cengeng lagi main masak-masakan. Kita mau dong dibuatin makanan.“ Ujar Anto sambil cengengesan.

Icha mendengus kesal.

“Gadis manis, masakin mie goreng buat abang ya,“ ledek Wawan yang disambut dengan tawa Anto.

“Kalian ngapain sih ke sini? Sana balik!” bentak Icha.

“Alah…. Nggak bisa masak juga udah sok. Gimana kalau beneran bisa masak? Ya nggak Wan?“ yang ditanya menganggukkan kepala dengan cepat.

“Aku bisa masak!“ bentak Winda.

“Nggak usah diladenin, Win. Mereka itu sinting.“ Kata Icha.

Winda tidak menggubris perkataan sahabatnya itu.

“Kalian mau dimasakin apa? Tetapi kalau aku beneran bisa masak, kalian mau ngasih apa imbalannya sama aku?“ tantang Winda.

“Kami traktir di kantin selama tiga hari.“ Ujar Wawan masih dengan senyum meremehkan.

“Udah, sana masak! Keburu lapar.“ Perintah Anto.

Dengan sigap Winda langsung memasuki dapur.

“Kamu apa-apaan sih, Win? Kamu kan nggak bisa masak. Kenapa bilang seperti itu sama mereka?“ Icha tampak khawatir.

“Lihat aja, Cha. Aku bisa masak. Aku sering liat Mama masak. Untung hari ini cuma ada kita di sini. Jadi bisa masak tanpa dimarahi Mama.“ Winda tersenyum menatap Icha.

“Tetap aja berbahaya. Masak pakai api lho, Win. Pokoknya aku nggak setuju. Jangan bermain dengan api kalau belum benar-benar faham!”

“Kamu bawel banget sih, Cha!“

Winda benar-benar tidak menggubris larangan sahabatnya. Dengan perasaan sok tau, dia mulai memasak. Tetapi kejadian yang Icha bayangkan mulai terjadi. Ketika Winda memasukkan telur ceplok ke dalam kuali, dia terkena cipratan minyak yang panas. Alhasil dia mengaduh kesakitan meminta tolong kepada Icha.

“Tuh kan, makanya jangan bermain dengan api!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s