KUTU BERTENGGER DI RAMBUT EKA (CERNAK: HARIAN ANALISA. MINGGU, 24 JUNI 2012)


KUTU DI RAMBUT EKA

Oleh: Eva Riyanty Lubis

Rumah Eka letaknya dekat dengan sungai. Hanya berjarak kurang lebih lima belas meter. Beberapa tahun yang lalu, ayahnya membeli rumah itu dikarenakan harganya yang relatif murah. Meski begitu, rumah tersebut sangat indah karena memiliki berbagai macam tanaman di sekitar pekarangannya. Yang jelas, polusi udara masih jauh dari tempat itu. Pokoknya suasana rumahnya sangat asri. Tetangga-tetangganya pun begitu ramah.

Eka merupakan anak kedua dari keluarga tersebut. Kakaknya bernama Indah, namun kini kakaknya itu tinggal di Batam bersama paman mereka. Dia memilih untuk kuliah di sana.

Karena kedua orang tua Eka disibukkan oleh usaha dagang mereka di pasar, Eka berubah menjadi anak yang nakal. Pulang sekolah bukannya membereskan pakaian, atau mengerjakan tugas, dia malah pergi ke sungai untuk berendam bersama teman-teman samping rumahnya. Padahal ibunya selalu berpesan untuk tidak berendam di sungai.

Meski matahari tengah bersinar dengan teriknya, mereka tidak peduli itu. Mereka malah tampak sangat asyik.

”Eka, kita pulang yuk.” Ajak Desy. Sebab mereka sudah berendam hampir dua jam. Namun Eka tidak menggubris perkataan temannya itu. Alhasil, Desy dan teman-teman yang lain Eka di sungai.

*

”Eka, kamu mandi dulu sana. Habis itu kita belajar.” Ucap ibunya tatkala wanita itu sudah tiba di rumah.

”Eka sudah mandi, Bu.” Jawab Eka cepat.

”Tapi dari tadi Ibu liat kamu asyik menggaruk-garuk kepalamu. Itu artinya kepalamu kotor. Yaudah, sana mandi lagi. Jangan lupa keramas!” suruh ibunya lagi.

Tapi Eka tidak peduli. Dia malah tetap keasyikan menggaruk-garuk kepalanya.

”Kamu punya kutu ya?” tanya ibunya sembari memicingkan mata ke arah Eka. Gadis kecil itu kemudian mengerutkan keningnya.

”Enak aja. Ibu jangan nuduh sembarangan dong!” jawab Eka tampak kesal. Lalu gadis itu beranjak ke kamarnya. Ia mengambil bukunya hendak mengerjakan tugas. Namun karena rambutnya masih gatal, ia malah mengurungkan niatnya dan kembali bergiat dalam menggaruk-garuk rambut hitamnya.

*

Nilai Eka menurun. Ibunya protes bukan main. ”Kamu kalau ditinggalin di rumah bukannya belajar malah asyik berendam di sungai! Ibu sudah bilang berapa kali sama kamu kalau berendam itu tidak baik! Boleh sih boleh mandi di sungai, tapi jangan keseringan dan itu pun tidak dengan waktu yang lama!” jelas ibu panjang lebar.

”Ih, sapa yang mandi di sungai? Eka belajar kok di rumah!” jawab Eka berbohong.

”Terus kenapa nilaimu bisa menjadi rendah?” tanya ibu sengit.

”Gurunya tuh pilih kasih!” jawab Eka asal.

”Nggak! Kerjaanmu di kelas cuma garuk-garuk kepala. Karena hal itu kamu jadi nggak konsen belajar!”

”Ih, ibu jangan asal nuduh dong!” Eka masih berkilah. Ia malu kalau disebut mempunyai kutu.

Karena kesal, ibu mengambil sisir kutu dan menarik Eka untuk mendekat kepadanya. Eka meronta-ronta namun ibunya nggak peduli. Rambut Eka pun disisir. Lalu…. Bleeeeeeees! Berjatuhanlah berpuluh-puluh ekor kutu di atas meja.

”Dasar kamu jorok! Itu akibatnya kalau keseringan berendam lama-lama di sungai. Udah kulitmu jadi hitam, nilaimu pun menjadi rendah. Mulai besok jangan ulagi lagi kejadian ini!” ucap ibunya tegas.

Eka hanya menggangguk-angguk malu lalu meminta maaf kepada wanita yang telah  melahirkannya itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s