MURID BARU DI KELAS WINNY (CERNAK: HARIAN ANALISA MEDAN. MINGGU, 5 AGUSTUS 2012)


MURID BARU DI KELAS WINNY

Oleh: Eva Riyanty Lubis

            Winny merupakan murid tersegalanya di kelas lima SD Merah Putih. Paling cantik, paling pintar,  paling manis, paling kaya, dan paling ramah. Tak heran hampir seluruh siswa di sekolah itu kenal dengannya. Winny juga menjadi murid teladan di sekolah itu.

“Memang tak ada yang bisa ngalahin kamu ya. Kamu benar-benar keren pokoknya. Aku bangga menjadi sahabatmu.” Ujar Chaca sumringah.

Winny mencubit pelan lengan Chasa. Mukanya  bersemu merah. “Kamu bisa aja deh, Cha. Semua orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kamu juga punya kelebihan. Bisa ngedance, melukis, dan bisa nari. Nah, aku aja nggak bisa ngelakuin itu semua.” Ujar Winny meyakinkan.

Chaca mengangguk pelan seraya tersenyum manis. “Pokoknya kita harus jadi anak yang membanggakan. Sesuai dengan keinginan orang tua kita. Lagian Bu guru juga selalu nyuruh kita supaya menjadi yang terbaik kan?”

Winny mengangguk mantap. “Selain pintar di bidang seni, kamu juga dewasa Chasa. Senangnya aku punya sahabat seperti kamu. Aku nggak tahu kalau aku sampai nggak punya teman sepertimu.”

“Ih, lebay ah si Winny.” Chaca mengamit lengan Winny kemudian mereka berjalan bersama menuju kelas karena sebentar lagi Pak Siregar akan masuk kelas.

Winny dan Chaca sudah menjadi sahabat sejak masih kecil. Keduanya tinggal di komplek perumahan yang sama. Bahkan rumah mereka berdampingan. Kedua orang tua mereka juga sudah bersahabat sejak dulu. Karena itulah mereka menjadi sangat akrab. Malah mereka sudah seperti saudara. Di mana ada Winny disitu ada Chaca. Begitu pun sebaliknya.

Mereka tidak bisa dipisahkan. Kalau salah satu satu dari mereka sakit, maka tiba-tiba yang satunya lagi juga ikut-ikutan sakit.  Hadeh, udah lebih-lebih seperti saudara kembar aja.

Winny sangat jago di bidang akademi, sedangkan Chaca jago di bidang seni. Mereka berdua selalu saling melengkapi.

“Aku ingin menjadi professor.” Ucap Winny suatu hari.

“Aku ingin menjadi sastrawan.” Chaca balas menjawab.

“Pokoknya kita harus berhasil ya, Cha. Dan lebih dari itu  aku ingin menjadi sahabatmu selamanya, Cha. Aku sayang sama kamu.” Winny menatap Chaca dengan mata sendunya.

“Aku juga sangat menyayangimu, Winny.” Mereka berdua berpelukan dengan erat. Ah, indahnya persahabatan. Siapapun yang melihat kedekatan mereka pasti akan cemburu.

*

“Hari ini kita kedatangan murid baru. Dia pindahan dari Siantar. Namanya Diana.” Bu Zahrona mempersilahkan murid yang di maksud untuk masuk ke dalam kelas.

Lalu muncullah seorang gadis berambut panjang  dikepang dua. Badannya kurus, dan wajahnya tampak tidak bersemangat.

Seisi kelas memandangnya tak berkedip. Bukannya memandang kami, dia malah menjatuhkan pandangannya ke arah lantai.

“Ayo Diana. Perkenalkan dirimu.” Suruh Bu Zahrona dengan lembut.

Diana mengangguk pelan seraya tersenyum kepada Bu guru imut itu. Lalu dia mulai menatap kami satu persatu.

“Perkenalkan, nama saya Diana. Pindahan dari Siantar.” Ucap Diana pelan.

“Udah tahu kali. Kan tadi dikasih tahu sama Bu Guru.” Ucok murid paling bandel angkat suara.

Sebahagian mencibir, sebahagian lagi hanya berdehem-dehem.

“Sudah-sudah. Kalian ini tidak bisa sopan sedikit ya.” Bu Zahrona menatap Ucok dengan mata melotot. “Diana, kamu duduk dengan Chaca ya.” Bu guru menunjuk bangku kosong di samping Chaca.

“Ibu ini gimana sih. Kan ini kursi Winny. Dia lagi izin melihat neneknya yang sakit. Lusa juga udah balik.” Ujar Chaca dengan kening berkerut.

“Chaca, Winny bisa duduk dengan Ucok. Kalau Diana yang duduk disana bisa-bisa Ucok ngejahatin dia terus.”

Chaca akhirnya hanya bisa mengangguk lemah.

*

“Kamu jahat, Cha. Kamu udah ninggalin aku dan dapat sahabat baru. Kamu benar-benar nggak setia kawan, Cha. Aku benci sama kamu.” Winny melampiaskan kekesalannya tatkala Chaca menghampirinya ketika waktu istirahat tiba.

“Winny, ceritanya bukan seperti itu,” belum sempat Chaca menjelaskannya kepada Winny, Winny langsung pergi meninggalkan Chaca.

Pagi itu Winny mendapati Chaca tengah tertawa terbahak-bahak dengan murid baru yang duduk di sampingnya.

“Siapa dia, Cha? Kok bisa duduk di samping kamu?”

Belum sempat Chaca menjelaskan Ucok sudah datang merecoki dan menjelaskan dengan agak sedikit berlebihan. Kontan saja Winny jadi emosi dan langsung pergi meninggalkan Chaca menuju kursi belakang paling sudut di samping Ucok. Satu-satunya kursi kosong di kelas mereka.

*

Setelah kejadian itu hubungan Winny dan Chaca mulai renggang. Winny juga tak hanya kesal kepada Chaca, tapi dia juga kesal setengah ampun kepada Diana. Meski sebenarnya Chaca sudah berulang kali mengatan maaf kepada Winny. Tapi Winny tetap saja tidak menggubrisnya.

Sebaliknya karena hal tersebut, Chaca dan Diana malah semakin akrab. Membuat Winny semakin sakit hati.

*

“Murid-murid semua. Ibu ingin mengatakan sesuatu.” Bu Zahrona menandang seisi kelas dengan raut wajah tegang. Karena hal itu murid seisi kelas juga ikut-ikutan menjadi tegang.

“Sudah tiga hari Diana sakit. Dan ibu dapat kabar kalau sekarang dia sudah dilarikan ke rumah Sakit Adam Malik. Diana bukan terkena demam biasa. Namun dia terkena penyakit tipes. Saat ini kondisinya benar-benar tidak stabil. Jadi Ibu mohon doa dari kalian semua agar Diana bisa cepat sembuh.”

Seisi kelas tampak terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Diana bisa terkena tipes.

“Emang tipes itu apa, Bu?” Tanya Ucok di tengah keheningan kelas.

Bu guru menarik napas panjang sebelum mulai menjelaskan. “Tipes adalah penyakit yang ditularkan karena bakteri melalui makanan dan minuman. Tipes dan tipus itu berbeda. Nanti Ibu akan menjelaskannya secara lebih detail. Namun untuk saat ini sebaiknya kita berangkat ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaan Diana.”

*

“Orang tua Diana selalu berantem, Winny. Dan dia yang menjadi korban. Dia sering kena pukul. Karena itulah  kesehatannya menjadi seperti ini. Katanya sebelum ke Medan ini kedua orang tuanya akhirnya memilih untuk bercerai dan tak ada dari mereka yang mau tinggal bersamanya. Makanya dia pergi ke rumah neneknya yang tinggal di Medan ini.”

Winny terhenyak. Dia benar-benar tidak menyangka. “Aku sudah berbuat kesalahan, Cha. Tidak seharusnya aku membenci kalian berdua. Harusnya aku mendengar penjelasanmu dari dulu. Maafkan aku Cha. Aku sahabat yang tidak tahu diri. Aku juga sudah jahat kepada Diana.” Winny meneteskan air matanya. Kemudian Chaca memeluk Winny dengan erat.

*

Malam itu ditemanani kedua orang tua Winny dan Chaca, mereka pergi lagi ke rumah sakit untuk menjenguk Diana.

Diana yang kurus tampak semakin kurus.

“Diana, kamu kok makin kurus sih? Harus cepat sembuh dong. Teman-teman udah pada kangen sama kamu.” Ujar Winny dengan penuh semangat.

“Mulai besok, kita bertiga akan bersama-sama. Kami akan menjadi sahabatmu, Diana. Kami menyayangimu. Makanya kamu harus cepat sembuh.”

Winny dan Chaca mendekap jemari Diana dengan lembut.

“Kita bertiga akan menjadi sahabat yang luar biasa. Cepatlah sembuh Diana. Kamu tidak akan sendirian lagi. Aku dan Chaca akan selalu ada untukmu.”

Di luar, kedua orang tua Winny dan Chaca tampak meneteskan air mata melihat tingkah putri semata wayang mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s