PUTRI PING (CERNAK: HARIAN ANALISA MEDAN. MINGGU, 15 JULI 2012)


PUTRI PING

Oleh: Eva Riyanty Lubis

            Gadis itu bernama Aurora Ping. Tetapi mereka lebih suka menyebut nama belakanganya. Ping merupakan putri dari salah satu selir Raja Andrian. Tetapi sang raja tidak pernah menganggap Ping sebagai putrinya. Sebab penampilan Ping tidak seperti putrinya yang lain. Benar-benar jauh dari figure seorang putri kerajaan.

“Kau selalu membuatku malu, Ping.” Ucap raja suatu hari.

Ping terkejut. “Apa kesalahan Ping sehingga membuat Ayah malu?” tanya Ping pelan namun tegas.

“Penampilanmu benar-benar compang-camping. Layaknya seorang pembantu. Jauh berbeda dengan saudara-saudaramu yang lain. Mohon  jangan kau tunjukkan kalau kau ini kurang kasih sayang dari seorang ibu. Walaupun sebenarnya ibumu telah meninggal, kau harus tetap bersikap dewasa.”

Pernyataan raja bagai halilintar bagi Ping. Tubuhnya mendadak lemas.

“Hanya gara-gara penampilan Ayah malu telah mempunyai anak seperti aku?” tanya Ping lirih.

“Tidak pantas. Bukan malu. Tolong koreksi kata-katamu.”

“Itu yang barusan Ayah ucapkan padaku. Ayah, aku tidak pernah minta apa-apa dari Ayah. Aku juga merasa kalau selama ini aku tidak pernah merepotkan Ayah. Kalau memang Ayah keberatan dengan kehadiranku disini, Ayah katakan saja.” Suara Ping serak menahan tangis.

“Perkataanmu benar-benar tidak sopan.” Muka raja tampak memerah.

“Maafkan aku, Ayah.” Ping menunduk.

“Sudah berulang kali aku menyuruhmu agar bisa meniru tingkah laku saudara-saudaramu. Etika Ping! Kau putri raja! Tetapi kau tidak pernah melaksanakannya. Dengar Ping, kalau kau masih ingin tinggal di kerajaan ini, ikuti semua peraturannya.” Raja menatap Ping tajam, dan kemudian pergi meninggalkan Ping yang tengah bersedih.

Ping mendesah, berat.

“Semua yang kulakukan selalu salah dimata Ayah.” Ujar Ping dalam hati.

Sejak kematian ibunya, Ping seperti kehilangan tumpuan hidup. Ayahnya juga telah berubah. Tidak pernah lagi menunjukkan kasih sayang kepada Ping. Karena itu, Ping pun berubah menjadi sosok gadis yang muram. Dia tidak pernah mau terlibat dengan urusan kerajaan. Makanya tak heran kalau seisi kerajaan tidak ada yang menyukainya.

Tidak hanya itu, saudara-saudara tirinya juga sering mengejek Ping. Sebab hanya Ping lah diantara mereka yang tidak mempunyai ibu.

“Hei Aurora…. Oh, tidak. Nama itu tidak pantas buatmu. Terlalu bagus. Ping! Ya, Ping memang lebih baik. Kau benar-benar gadis bandel. Ayah telah menyuruhmu merubah penampilan tetapi kau tetap tidak menghiraukan perkataannya. Kami malu mempunyai saudara sepertimu.” Ujar Isabella.

“Benar-benar kampungan. Tidak pantas menjadi putri raja.” Balas Ayudia.

“Apa guna penampilan bagus kalau dalamnya kotor?” balas Ping sengit.

“Wah…. Kau sudah berani melawan ya gadis kampung?” Isabella menatap Ping kesal. Dia berjalan mendekati Ping. Matanya melotot tajam.

***

Malam itu istana sedang kedatangan tamu istimewa. Pangeran Yudha. Putra Mahkota kerajaan terbesar saat itu.

“Aku hendak mencari istri. Kudengar Anda memiliki banyak putri. Boleh aku meminang salah satu di antara mereka?” tanya Pangeran kepada Raja.

“Ini suatu kehormatan bagiku.” Raja tersenyum lepas.

“Pelayan, suruh semua putri datang kemari.” Perintah Raja kemudian.

Hanya butuh beberapa menit untuk mengumpulkan mereka. Apalagi mereka memang sangat mengidamkan Pangeran Yudha. Sosok pangeran yang sangat dipuja-puja oleh para putri kerajaan masa itu.

“Silahkan kamu pilih.” Ujar Raja sambil melirik bangga pada putri-putrinya.

Pangeran Yudha tersenyum dan mengamati mereka satu persatu. Mereka balas tersenyum, sebahagian tersipu malu.

Tiba-tiba Ping menyeruak dari balik pintu. Semua memandangnya dengan geram karena ia membanting pintu dengan keras.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak akan merusak acara kalian.” Ujar Ping tegas.

Lalu ia berjalan mendekati raja. Tanpa ia sadari, Pengeran Yudha tengah memperhatikannya.

“Aku akan pergi dari istana ini. Aku hanya ingin berterima kasih padamu, Ayah. Maaf telah merepotkanmu. Selamat tinggal.” Ping membungkukkan badannya kemudian berjalan menjauh dari sang Raja yang tampak mengerutkan keningnya.

“Tunggu…”

Ping membalikkan badannya. Seseorang telah memanggilnya.

“Aku menginginkanmu menjadi permaisuriku.”

Seisi ruangan gempar. Mereka menetap Ping dengan kesal, sebal, dan marah. Yang lain mengumpat. Ping terkejut bukan main. Ditatapnya lelaki tampan di hadapannya itu dengan kening berkerut. “Apa maksud perkataanmu?”

“Aku masih ingat tatkala kau menyelamatkanku di hutan ketika seekor harimau ingin membunuhku. Sejak hari itu aku selalu mencari tahu keberadaan dirimu. Aku terus mencari dirimu. Dan aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu kini ada di hadapanku. Tidakkah kamu mengingat kejadian itu?” tanya pangeran. Matanya berbinar-binar.

Ping mengamati pangeran sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Pangeran Yudha, Ping tidak pantas untukmu. Kau bisa memilih putriku yang lain. Mereka lebih cantik dan lebih pintar dari Ping.” Ucap raja.

Pangeran tersenyum. “Aku tidak melihat seseorang dari penampilan. Aku melihat sifatnya. Jadi tolong, izinkan aku menikahi putrimu, Ping.”

Beberapa hari kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Maka berakhirlah semua penderitaan Ping. Keluarga yang dulu membencinya kini berbalik menyayanginya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s