BUDI HUTASUHUT


Semalam siang ketika hujan deras mengguyur Padangsidimpuan, aku mendapat telephon dari salah seorang penulis Sumatera Utara. Inilah dia, Budi Hatess atau Budi Hutasuhut. Dua kata untuk beliau, Luar biasa!

 

Nama Budi P. Hatees lebih dikenal di dunia tulis-menulis dibandingkan nama aslinya Budi Parlindungan Hutasuhut. Budi P. Hatees dilahirkan di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada 3 Juni 1970. Budi, anak kedua dari enam bersaudara pasangan Rencong P. Hutasuhut dan Nurhayati S. Nainggolan, banyak menghabiskan masa kecilnya di Sipirok.

Sipirok dengan segala keindahan alamnya telah membuat Budi jatuh cinta kepada sastra. Kecintaan Budi dengan sastra bermula ketika Budi penasaran dengan satu desa yang bernama Desa Labu Jelok. Desa Labu Jelok yang disebut-sebut dalam roman Azab dan Sengsara (Balai Pustaka, 1921) karya Merari Siregar kebetulan berdekatan dengan desa tempat Budi tinggal, Desa Hutasuhut. Untuk menghilangkan rasa penasarannya itu, Budi berkunjung ke desa tersebut. Ketika tiba di sana, Budi terkesima. Desa Labu Jelok yang digambarkan dalam Azab dan Sengsara sama seperti apa yang dilihatnya. Kunjungan Budi ke desa itulah yang membuat dirinya bercita-cita untuk menulis sebuah cerita yang berlatar kampung halamannya. Selain itu, sastrawan-sastrawan besar yang lahir di sana, seperti Merari Siregar, dua bersaudara Sanusi dan Armijn Pane serta pamannya sendiri, Bokor Hutasuhut, juga ikut memacu Budi untuk terjun ke dunia sastra.

Selain faktor lingkungan, faktor keluarga juga mempunyai peran besar menyulut keinginan Budi untuk menjadi penulis, terutama sang ibu. Ketika Budi P. Hatees masih kecil, ibunya yang seorang seniman perajin kain adat di daerah Sipirok kerap menyuruh Budi untuk menceritakan kembali semua komik yang telah dibacanya. Selain itu, Budi juga rajin membaca koran Simponi, Swadesi, dan Sinar Harapan. Di koran tersebut, selain memuat informasi undian Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) atau Porkas yang menjadi alasan utama ayah Budi membeli Simponi, juga memuat karya sastra, seperti puisi dan cerpen.

Kegemaran Budi untuk mencintai sastra makin berkembang ketika dia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Negeri Sipirok. Perpustakaan sekolah tempat Budi menimba ilmu mempunyai koleksi karya sastra yang cukup banyak, di antaranya karya Putu Wijaya, Merari Siregar, dan Budi Darma. Budi yang mulai keranjingan sastra merasa waktu di sekolah tidak cukup untuk membaca. Hampir semua buku yang bermuatan sastra pernah dipinjam Budi untuk kemudian dibaca di rumah. Suatu ketika, Budi berkeinginan untuk meminjam novel karya Budi Darma yang berjudul Orang-Orang Bloomington (1950). Sayangnya, Budi tidak diizinkan oleh pustakawan untuk membawa pulang karena koleksi buku itu hanya satu buah. Larangan dari pustakawan sekolahnya itu tidak membuat Budi menyerah begitu saja. Dengan kecerdikannya, Budi merobek beberapa halaman per hari agar dia bisa membaca dan memiliki novel karya Budi Darma itu. Sampai saat ini, sobekan Orang-Orang Bloomington dari halaman pertama sampai terakhir masih tersimpan dengan rapi di rumah orang tuanya.

Kegemaran Budi untuk menulis tidak serta-merta didukung oleh seluruh keluarga. Ayahnya sering kali memarahi Budi ketika dia menulis. Alasannya, Budi selalu memakai perangkat kerja ayahnya, seperti mesin tik dan kertas. Ayahnya yang waktu itu menjabat sebagai lurah di Kelurahan Hutasuhut tidak ingin mesin tik yang digunakan untuk keperluan dinas dipakai untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan tugas kelurahan. Untuk merayu ayahnya, Budi membelikan satu bungkus rokok dengan harapan ayahnya mau meminjamkan mesin tik untuk melampiaskan kegemarannya menulis. Uang yang dibelikan rokok untuk ayahnya itu merupakan hasil jerih payahnya menulis cerpen. Cerpennya yang berjudul “Astuti” dimuat di majalah Anita Cemerlang. “Astuti”, adalah judul yang terinspirasi dari nama teman wanitanya di sekolah. Sayangnya, ayah Budi tetap pada pendiriannya untuk tidak meminjamkan mesin tik untuk keperluan di luar urusan dinas. Namun hal itu tidak menyurutkan niat Budi untuk menulis. Dia tetap memakai mesin tik kepunyaan ayahnya itu pada malam hari.

Sebenarnya, karya Budi yang pertama dimuat di media massa bukanlah cerpen, melainkan puisi. Puisi Budi pertama kali dimuat di koran Demi Massa, sebuah koran yang hanya terbit di daerah Sipirok, berjudul ”Kemarau I”, ”Kemarau II”, ”Kemarau III”, ”Kemarau IV”, dan ”Kemarau V”. Meski tidak mendapat honor, Budi merasa puas karena puisi-puisi tersebut dimuat di koran. Di samping itu, ia mendapatkan kebanggan tersendiri karena dapat menggambarkan kondisi desanya dalam sebuah karya, seperti yang dicita-citakan ketika dia berkunjung ke Desa Labu Jelok.

Karya-karya Budi P. Hatees saat ini tidak jauh berbeda dengan karyanya ketika pertama kali terjun ke dunia tulis-menulis. Hampir dari keseluruhan karyanya merupakan buah kontemplasi terhadap permasalahan yang terjadi di sekelilingnya. Mulai dari diri, lingkungan, budaya sampai politik pernah diluapkan Budi melalui tulisan-tulisannya. ”Sebambangan” cerpen yang bertemakan tentang tradisi pernikahan adat Lampung, ”Becak” sebuah artikel berisi tentang kehidupan tukang becak yang biasa beroperasi di Bandarlampung, ”Membangkitkan Ayah” puisi untuk anaknya, hanyalah sebagian tulisan yang merupakan bentuk kepekaan Budi terhadap lingkungan sekitarnya.

Setelah lulus SMP, Budi P. Hatees melanjutkan di SMAN Sipirok. Sejak masuk SMA, karya-karya Budi, seperti cerpen, sajak, cerita bersambung, dan esai, banyak dimuat di media cetak terbitan Medan, Jakarta, dan daerah lainnya. Beberapa media yang pernah memuat karyanya, seperti Taruna Baru, Waspada, Bintang dan Sport, Sinar Indonesia Baru, Simponi, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Bali Post, Singgalang, Anita Cemerlang, Mode, Gadis, Ceria, Majalah Keluarga, Citra, Nova, Suara Pembaruan, Jayakarta, Suara Karya, Mutiara, Paron, Swadesi, Majalah Ummi, Annida, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, dan Bisnis Indonesia. Di SMAN Sipirok, kesibukan Budi tidak hanya menulis, dia juga serius berorganisasi di sekolah. Menjadi ketua OSIS SMAN Sipirok merupakan wujud nyata keseriusaannya.

Pada tahun 1991, setelah menyelesaikan studinya di SMA, Budi pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studinya di Jurusan Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Institut tersebut didirikan oleh pamannya, A.M. Hutasuhut, bersama wartawan dan sastrawan. Di IISIP, Budi akrab dengan Azhar, seorang penyair yang biasa menulis di Swadesi dan koran-koran yang terbit di Jakarta. Dia juga berkenalan dengan Erwinto Samsunu Aji dan beberapa penulis sastra yang juga mahasiswa IISIP. Pada tahun itu pula, Budi bersama kawan-kawan di Forum Mahasiswa Komunikasi mendirikan Tabloid Format. Akan tetapi, Budi memutuskan meninggalkan kegiatan itu karena kesibukan sebagai wartawan lepas di koran Jayakarta, Suara Pembaruan, Tabloid Paron, dan Suara Karya. Dia juga sempat bekerja sebagai reporter di Majalah INFO BISNIS milik DPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).

Selama di Jakarta, Budi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di bidang kesastraan pada tahun 1994 sampai 1995, di antaranya dengan mengikuti kegiatan di Sanggar Sastra DIHA yang dikelola oleh sastrawan Diha Hadaning. Ketika bergabung dengan sanggar itu, Budi banyak bergaul dengan sastrawan dari berbagai daerah. Sanggar Sastra DIHA memiliki kegiatan sastrawan yang kadang dihadiri sastrawan dari luar Jakarta. Dalam sanggar ini Budi mengenal Diha Hadaning, Endang Supriyadi, Wowok Hesti Prabowo, Nanang Suprihatin, Remi Novaris DM, Slamet Rahardjo Rais, Zacki El Makmur, dll. Dari perkenalannya dengan sastrawan-sastrwan dari luar Jakarta, Budi melakukan pembacaan puisi keliling Pulau Jawa.

Bukan hanya bidang sastra, melainkan juga bidang seni juga digeluti oleh Budi. Salah satunya, ia begabung dengan Perkumpulan Masyarakat Adat Sipirok Jakarta (1992—1995) yang bergiat di bidang seni tradisional. Diperkumpulan adat itu, Budi menjadi penari dan pemukul gendang. Tujuan dari perkumpulan seni tradisional itu ingin mengajak warga keturunan Batak Angkola (Sipirok) yang tinggal di Jakarta agar mengenal adat-istiadat nenek moyangnya. Tari, teater, dan menyanyi menjadi kegiatan rutin perkumpulan adat itu. Perkumpulan tersebut pernah pentas di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1993, membawakan ”Gondang Sipirok”.

Pada tahun 1995, Budi kembali ke Medan. Sesampainya di sana, Budi mendaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Dakwah, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Belum genap satu tahun berkuliah, Budi memutuskan untuk tidak meneruskan studinya karena dia merasa jenuh dan tidak berminat menjadi seorang pendakwah.

Tahun 1996, Budi bersama sejumlah sastrawan di Sumatera Utara seperti Harta Pinem, Thomson Hs, Romulus ZI Siahaan, Teja Purnama, Sn Ratman, dan Suyadi San mendirikan Forum Kreasi Sastra (FKS) di Medan. Komunitas ini memiliki kegiatan berupa diskusi sastra, proses kreatif, dan menerbitkan beberapa antologi puisi.

Setelah FKS berdiri, Budi mendapatkan kesempatan untuk menjadi penulis pentas seni (kritikus) di Taman Budaya Sumatera Utara. Di tahun ini pula, Budi menjadi Juara I lomba menulis puisi dalam rangka ulang tahun Medan bertajuk Medan Bestari.

Setahun di Medan membuatnya rindu dengan kawan-kawannya di Jakarta. Tetapi, Jakarta yang padat juga membuatnya gerah. Tidak sampai empat bulan di Jakarta, Budi memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Dalam perjalanan pulang, dia menjumpai beberapa kawannya yang hendak pergi ke Lampung untuk melamar pekerjaan. Mendengar kawannya ingin melamar pekerjaan, hati Budi tergoda untuk ikut serta mencari peruntungan di Lampung. Sesampainya di Lampung, Budi melamar pekerjaan sebagai wartawan di Harian Lampung Post. Setelah mengikuti berbagai tes, dari kesepuluh orang kawannya yang ikut melamar, ternyata Budi yang diterima bekerja. Ikatan kerja dengan Lampung Post membuat Budi memutuskan pindah ke Lampung. Sejak saat itu, mulailah Budi bersinggungan dengan ranah Lampung. Ternyata, Budi juga memiliki alasan tersendiri ketika dia memutuskan untuk menetap di Lampung. Menurutnya, Lampung memiliki keunikan. Kondisi geografis yang cukup menarik, daerah pegunungan dan lautan bertemu, membuat nalurinya dapat merasakan bahwa suasana yang seperti itulah yang akan memberikannya berbagai inspirasi dalam menulis.

Tahun 1997, Budi berkenalan dengan seorang gadis bernama Hesma Eryani, rekan kerjanya di Lampung Post. Mereka memutuskan untuk mengarungi bahtera rumah tangga di tahun yang sama. Pasangan tersebut dikaruniai buah hati seorang gadis cantik bernama Raraz Asghari Ghiffarina Hutasuhut. Ada sekitar lima belas puisi Budi yang dimuat di media massa atau hanya dipajang di ruang maya (budihatees.blogspot.com) terinspirasi oleh Raraz.

Di Lampung, Budi tetap aktif berkreasi. Dia mengikuti sejumlah pendidikan non-formal seperti Pelatihan Communications for Good Governance di Mataram, Nusa Tenggara Barat, yang diselenggarakan UNDP pada tahun 2000. Selain itu, Budi ikut menggagas munculnya sastra dunia maya bersama Yayasan Multimedia Sastra. Di tahun itu pula, ia aktif sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP) dan ikut memprakarsai berdirinya FLP Lampung. Sampai sekarang, Budi menjadi pembina FLP di Lampung.

Tahun 2004, Budi bersama Y. Wibowo mendirikan Penerbitan Matakata dan Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL). Di SKL, Budi mengajar penulisan kreatif. Budi juga aktif menjadi juri dan panitia dalam berbagai perlombaan penulisan karya sastra, baik cerpen maupun sajak, salah satunya menjadi juri sekaligus menjadi ketua panitia Krakatau Award pada Lomba Penulisan Sajak Dewan Kesenian Lampung pada tahun 2006.

Budi P. Hatees memang pekerja keras. Bekerja sebagai jurnalis dan menjadi penanggungjawab Lampung Post Online tidak cukup membuatnya puas. Di luar Lampung Post, Budi menjabat ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung periode 2004 sampai dengan 2007. Di samping itu, ia pun menjadi anggota Tim Pusat Kajian Budaya (PUSAKA) Lampung yang meneliti masalah kebudayaan Lampung.

Sebagai seorang sastrawan yang telah banyak menghasilkan karya, tak pelak Budi P. Hatees mendapatkan sanjungan dan kritikan dari sesama sastrawan maupun dari pembacanya. Zulkarnain Zubairi (lebih dikenal dengan Udo Z. Karzi), teman sejawat Budi yang juga sastrawan dan sama-sama pengurus di Matakata (penerbit), berkomentar tentang sajak Budi yang berjudul “Cerita tentang Perahu”. Udo Z. Karzi mengatakan bahwa sajak ini menyodorkan sebuah nilai kebenaran, kejujuran, dan kesabaran dari sudut pandang lain, berbeda sama sekali. Tambahnya lagi, cinta adalah sebuah kegilaan. Setidaknya itu yang dapat ditangkap dari sajak ini. Entah bagaimana perahu Nuh—sebagaimana dikisahkan dalam cerita-cerita nabi—menjelma dalam kepala seseorang, entah siapa, dan bukan siapa-siapa. Anak-anak menyebutnya gila. Tetapi, itulah cinta. Dan, Budi pun mengakhiri puisi ini dengan humor pahit dan sedikit (tidak) jorok: “tolol, ini kemaluanku.”

Udo juga tertarik menyimak gambaran imaji Budi P. Hatees mengenai Lampung, lebih tepatnya Bandarlampung, seperti pada puisi “Kota ini Mengutuk Siapa Saja”, ”Seandainya”, ”Lampung”, dan “Gedung-Gedung di Kota”. Melalui puisi-puisi tersebut dapat dilihat pandangan Budi tentang Lampung, sebuah daerah asing yang kemudian menjadi tempat Budi bermukim sejak sembilan tahun lalu.
Udo berkomentar bahwa dirinya tak mengerti mengapa Budi berkata: dikutuk di kota ini, tinggal sendiri/ memanjakan kekufuran, mengabaikan kematian (“Kota Ini Mengutuk Siapa saja”). Bandarlampungkah yang dimaksud? Tapi, jangan-jangan semua kota telah mengutuk siapa saja. Tak hanya Budi.

Soal kemelut politik di Lampung yang tak juga usai, boleh jadi inilah yang hendak dipotret Budi: sudah!sudah!sudah kataku!/ sudah lama ruang ini didekap gelap/ hingga kita selalu meraba dan saling menabrak/ kita selalu mengaduh oleh rasa sakit yang sama/ nyeri yang tak terawat (“Lampung”). Akhirnya, cinta adalah sumber energi yang tak habis. Tak pernah basi. ”Budi bertutur apa saja, tentang siapa saja–tentu, banyak hal yang luput dari amatan saya—muaranya sama: Cinta,” ujar Udo Z. Karzi.

Tak hanya sanjungan yang dituai Budi P. Hatees. Rudi Rofandi Utama dalam sebuah esai yang berjudul ”Menafsir Ulang Kebudayaan Lampung dalam Sastra” (Lampung Post, 12 Juni 2005) mengkritik cerpen Budi yang berjudul “Sebambangan” (Lampung post, 29 Mei 2005). Rudi mengatakan bahwa Sebambangan merupakan persetujuan antara bujang-gadis untuk memilih jalan kedua setelah lamaran. Dasarnya adalah kesadaran akan ketidaksanggupan dari segi ekonomi jika harus melakukan lamaran. Hal ini ditegaskan Rudi karena cerpen ”Sebambangan” karya Budi tidak sesuai dengan tradisi Sebambangan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Lampung. Rudi menyoroti catatan kaki yang ada pada cerpen tersebut. Dalam catatan kaki, Budi menjelaskan bahwa kearifan lokal ini sering disalahgunakan untuk memaksa para gadis menikah dengan laki-laki meskipun mereka tidak saling mengenal. Rudi mengkritik keterangan Budi tersebut. Ketika sepakat untuk Sebambangan, si gadis akan meninggalkan sebuah surat peninggalan dengan kerelaan, tanpa paksaan. Buktinya, bisa dilihat dari isi surat yang menyatakan bahwa dia telah ada di tempat si lelaki pilihannya, dalam surat ini juga terdapat sejumlah uang peninggalan. Rudi menekankan bahwa tidak ada paksaan dari pihak laki-laki dalam sebambangan.

Tapi Budi tetap Budi, apapun kritik yang datang kepada dirinya selalu ditanggapi dengan bijak. Selama berkarya, Budi telah menghasilkan sejumlah karya, berikut ini beberapa di antaranya.

1. Puisi
1) ”Cuaca Buruk” Republika, 3 Januari 1998.
2) Beranda Sunyi (Antologi Puisi Tunggal). Medan: Panggung Sastra. 1995.
3) Perjalanan Sunyi (Antologi Puisi Tunggal). Medan: Panggung Sastra. 1996.
4) Graffiti Grattituted (Antologi Bersama Puisi Cyber). Bandung: Yayasan Multimedia Sastra. 2000.
5) Dua Generasi (Antologi Bersama Puisi). Lampung: Yayasan Jung. 2003.
6) Dua Wajah (Antologi Bersama Puisi). Jakarta: Masyarakat Sastra Jakarta. 2003.
7) Konser Ujung Pulau (Antologi puisi). Lampung: Dewan Kesenian Lampung. 2003
8) Sastrawan Dua Generasi (Antologi Cerpen dan Sajak). Lampung: Yayasan Jung. 2004.

2. Cerita Pendek
1) ”Astuti” Anita Cemerlang, 1988.
2) Ketika Duka Tersenyum (Antologi Bersama Cerpen). Jakarta: FBA Press. 2000.
3) Ini Sirkus Senyum (Antologi Bersama Cerpen). Yogyakarta: Penerbit Bumimanusia. 2001.
4) Cermin dan Malam Ganjil (Antologi Bersama Cerpen). Jakarta: FBA Press. 2003.
5) ”Partonun” Tabloid Nova, April 2003.
6) Accident 2 U (Antologi Bersama Cerpen). Jakarta: FBA Press. 2004.
7) Anak Sepasang Bintang (Antologi Bersama Cerpen). Jakarta: Penerbit Senayan Abadi. 2005.
8) “Sebambangan” Lampung Post, 29 Mei 2005.

http://paratokohlampung.blogspot.com/2008/12/budi-p-hatees.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s