MIMPI ADALAH REPRESENTASI DARI KEMAJUAN


MIMPI ADALAH REPRESENTASI DARI KEMAJUAN

“When you want it the most there’s no easy way out
When you’re ready to go and your heart’s left in doubt
Don’t give up on your faith
Love comes to those who believe it
And that’s the way it is

Setiap orang pasti mempunyai mimpi. Karena mimpilah kita bisa terus bertahan hidup di dunia ini. Mimpi kita bisa jadi sama dengan mimpi-mimpi beratus juta orang yang berada di dunia ini. Namun, perbedaannya adalah bagaimana cara kita menyikapi mimpi itu. Dan mimpi tidak akan berarti apa-apa jika mimpi itu tidak mempengaruhi bagaimana cara kita menyikapi kenyataan hidup yang sebenarnya.

Ketika SMA, guru bahasa Indonesiaku selalu mengatakan kalimat ini kepada kami, “jangan berpikir seperti orang kebanyakan. Berpikirlah di luar orang kebanyakan.” Berkali-kali dia lontarkan kalimat itu. Namun tak berpengaruh sama sekali kepadaku sampai kemudian aku mengalami kejadian-kejadian beruntun itu.

Di sekolah, aku termasuk salah satu siswi berprestasi. Alhamdulillah masuk juara dan selalu ikut berpartisipasi dalam perlombaan. Aku juga aktif diberbagai kegiatan ekstrakulikuler.

Ketika itu mimpiku yang paling besar adalah bisa melanjutkan sekolah hingga ke jenjang universitas. Ya, aku ingin kuliah. Aku ingin mengecap ilmu pengetahuan setinggi-tingginya. Melanjutkan cita-cita orangtuaku yang tidak bisa merasakan kuliah dikarenakan kondisi ekonomi.

Suatu hari, aku ditawarkan masuk universitas terkemuka tanpa melalui test. Yaitu Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Diponegoro (UNDIP). Aku masih ingat, guru-guruku itu menawariku untuk mengambil jurusan kesehatan. Aku mendapat rekomendasi itu dikarenakan prestasi-prestasi yang sudah kubuat.

Sejujurnya aku merasa sangat bangga dan bahagia. Bahkan ingin berteriak kepada seisi dunia untuk mengatakan bahwa aku sangat bahagia kala itu. Namun sayang, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Orangtuaku menolak keinginanku untuk mengambil tawaran itu dikarenakan biaya kuliah di jurusan kesehatan amatlah besar. Belum lagi biaya hidup di kota besar. Aku sedih bukan main. Tetapi bukan Eva namanya kalau langsung down.

Kemudian aku mencari universitas dengan biaya yang lebih murah, bahkan mencari universitas yang menawarkan beasiswa. Sebelumnya orangtuaku memang menyuruhku untuk kuliah di dalam kota saja. Namun karena gengsi, aku menolak. Sebab aku iri melihat teman-teman yang rata-rata kuliah di luar kota.

Alhamdulillah aku menemukan universitas seperti yang ku mau. Tempatnya tetap di luar kota. Mereka pun setuju dengan pilihanku. Aku kembali bersemangat untuk menggapai mimpiku itu. Namun belum resmi aku menjadi mahasiswa, aku dikejutkan oleh suatu berita yang meluluhlantahkan semua mimpiku. Aku harus kembali ke kampung halaman, Padangsidimpuan. Sebab ayah, penopang hidup kami, pergi menghadapNya untuk selamanya. Meninggalkan aku, ibu, beserta ketiga adik-adikku.

Dan sejak saat itu, kehidupanku yang biasanya berjalan dengan mulus, harus berubah. Aku dipaksa oleh keadaan untuk lebih cepat bersikap dewasa. Aku dan ibu juga harus berjuang untuk menghidupi keluarga kami. Bekerja apa pun dilakukan asalkan halal. Mulai dari menjual pulsa, menjual gorengan, bahkan mencuci pakaian orang.

Namun di balik kesusahan pasti ada kemudahan. Allah memberiku sebuah kejutan. Alhamdulillah aku diterima menjadi karyawati di sebuah perusahaan swasta pada bagian administrasi. Tetapi yang namanya hidup, tidak akan pernah lepas dari yang namanya cobaan.

Berulang kali aku mendapat tekanan di kantor. Salah sedikit saja, mereka akan membentak-bentakku. Mencaci, mencibir, bahkan mengolok-olokku. Pernah juga mereka melontarkan kata-kata kotor kepadaku.

Ingin kumenangis, menumpahkan segala rasa yang ada di hatiku. Tapi aku tahu, kalau aku bersedih, pasti orang-orang yang menyayangiku juga akan bersedih. Aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak mau terlihat rapuh di hadapan mereka.

Oleh karena itu, aku tetap mempertahankan pekerjaanku. Sebab aku juga masih membutuhkan uang. Dan mencari pekerjaan dengan modal lulusan SMA tidaklah gampang. Wong yang tamatan sarjana saja masih banyak yang nganggur….

Cacian dan makian dari mereka sudah menjadi lagu bagiku. Bisa dibilang telingaku sudah kebal menghadapinya. Asal bukan pimpinan perusahaan yang melakukan seperti itu, aku yakin kalau aku pasti bisa untuk bertahan.

Setelah kejadian-kejadian itu, aku jadi terbiasa untuk mencurahkan segala rasa yang kualami pada tulisan. Apalagi kalau pekerjaanku tidak banyak. Akan kuisi semuanya dengan menulis. Lumayan bisa memakai komputer gratis. Hehehe….

Apakah kini aku boleh berharap?

Sebab mimpi itu kembali menyerangku…. Mimpi menjadi penulis.

Aku pun bergiat di dunia maya. Bergabung dengan berbagai macam grup kepenulisan. Bertemu dengan teman-teman yang mempunyai impian yang sama denganku. Bahkan aku bisa berteman –walau kehadiranku mungkin tidak terasa bagi mereka- dengan penulis-penulis senior. Mereka dengan kesehajaannya membuatku semakin semangat untuk menulis. Aku bangga bisa mengenal mereka. Mereka selalu bisa membuatku terkesan dengan tulisan-tulisannya.

Beberapa di antara mereka adalah Joni Lis Efendi, Pipiet Senja, Reni Teratai Air, Herlina P Dewi, Asma Nadia, Donatus A. Nugroho, dll.

Berbagai event perlombaan di facebook kuikuti. Empat bulan pertama tidak ada satu pun yang membuahkan hasil. Sempat merasa putus asa, apalagi melihat teman-teman yang usianya jauh di bawahku namun kepiawaian menulis mereka patut diacungi jempol dan nama mereka selalu muncul sebagai jawara.

Malam itu aku kembali menitikkan air mata. Dengan gemetar aku melihat pengumuman lomba menulis cerpen, dan ternyata namaku tidak ada diantara mereka. Padahal kata teman-teman yang telah membaca tulisanku, mereka optimis karyaku lolos.

Tidak. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Memang aku bukanlah yang terbaik. Tetapi aku akan belajar untuk bisa. Bukankah Allah selalu bersama orang-orang yang berusaha dan tidak putus asa?

“Tidak ada seorang penulis yang berhasil dalam sekejap. Butuh usaha, doa, dan kerja keras.” Itu nasehat orang-orang yang menyayangiku tatkala aku berkeluh kesah kepada mereka.

Aku kembali giat untuk menulis. Asal ada ide yang tiba-tiba muncul, dengan segera kutulis di notes handphoneku.

Allah tidak pernah mendustai janjiNya. Setiap kerja keras akan membuahkan hasil yang setimpal. Dan tulisan-tulisanku pun perlahan-lahan berhasil menjadi nominator beberapa perlombaan. Gila…. Luar biasa senangnya. Padahal masih menjadi nominator. Gimana kalau juara? Bisa-bisa aku malah lompat-lompat nggak karuan. Hihihi….

Sejak itu aku menyadari kalau tidak ada alasan untuk tidak bisa menulis. Semuanya bisa. Asalkan ada usaha, doa, dan kemauan.

Seseorang pernah bertanya kepadaku, “kamu kenapa ingin jadi penulis? Uangnya nggak banyak lho. Mending kamu cari kegiatan lain aja. Atau gimana kalau kamu ikut kursus SNMPTN? Biar tahun depan ikut test. Cari universitas yang biayanya murah. Kalau masalah beasiswa pasti banyak itu di PTN…. Bukankah mimpimu itu ingin kuliah?”

Ya, aku tahu kuliah adalah salah satu impianku. Melihat teman-teman yang kuliah di luar kota, apalagi ketika mereka menceritakan segala aktifitasnya membuatku merasa sedikit cemburu.

Tapi banyak cara menuju Roma. Kalau belum bisa kuliah, harus cari cara yang kreatif agar tetap bisa berkarya dan berprestasi. Makanya aku memilih untuk menulis. Paling tidak sebelum bisa membanggakan ibuku, atau bahkan kota kelahiranku – Padangsidimpuan- aku merasa enjoy dengan aktifitas itu. Bahkan kadang kala aku bangga dengan tulisan yang telah kubuat. Meski hanya coret-coretan kecil.

“Kita adalah ratu dari tulisan kita. Karena hal itu, tidaklah boleh mencaci tulisan kita sendiri.”

Tujuan pertamaku menulis adalah supaya bisa memberikan manfaat bagi sipembaca. Paling tidak adalah yang bisa diingat dari tulisanku itu. Hehehe….

Aku percaya pada keindahan mimpi-mimpiku. Dan selama aku bisa, aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Namun hasil akhir tetaplah ada pada Allah.

Alhamdullillah semakin banyak antologiku yang telah terbit. Bahkan kumpulan cerpenku sendiri pun sudah terbit. Luar biasa bahagia. Ada kepuasan tersendiri. Dan perlahan-lahan rasa cemburu kepada teman-teman pun menghilang.

Setiap orang punya jalan masing-masing untuk meraih mimpinya. Sama seperti yang guruku dulu katakan, “jangan berpikir seperti orang kebanyakan.”

Bukankah sukses itu bukan berarti harus kuliah? Ya, aku tahu kalau kuliah itu bagus. Namun terkadang keadaan dan keinginan tidaklah berbanding lurus. Banyak kok yang sudah jadi sarjana tapi hidupnya masih terlunta-lunta…. Namun banyak juga yang mengalami sebaliknya.

Karena menulis, aku jadi mendapatkan banyak ilmu, banyak teman, dan berjumpa dengan orang-orang yang luar biasa. Mereka mengajariku untuk kuat dalam menghadapi hidup. Mereka juga yang mengajariku tentang cara berpikir yang benar.

Oh ya, kamu harus tahu kalau sekarang aku sudah menjadi mahasiswi. Dan ini merupakan anugrah terbesar dalam hidupku. Bagaimana ini bisa terjadi? Hm…. Karena menulis. Seseorang nun jauh di sana bersedia membiayai kuliahku. Luar biasa bukan?

Karena menulis, maka aku ada. Kerena menulis jugalah mimpi-mimpiku sedikit demi sedikit bisa kugenggam.

‎“Mimpi berbanding lurus dengan usaha untuk mewujudkannya. Dan berdasarkan ilmu fisika, usaha itu berbanding lurus dengan gaya dan kemajuannya. Jadi, mimpi itu bisa diartikan sebagai representasi dari seberapa jauh kemajuan yang mau di capai.”[1]

“Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.” [Michael Crichton]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Diambil dari status sahabatku di facebook. (Ihsan Ahmad Zulkarnain)

13 thoughts on “MIMPI ADALAH REPRESENTASI DARI KEMAJUAN

  1. Kadang hidup berawal dari mmpi seperti kata “Bondan ft Fade2Back”🙂

    Kita tidak tahu apa masa depan kita dan kita imajinasikan pada mimpi kita seperti Cita-cita, kita bermimpi menjadi apa dan berusaha mencapai yang ternaik agar capain kita terlaksana🙂

    ****
    Seneng bisa liat tulisannya lagi meski kebanyakan, bikin lama aku bacanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s