MERINGANKAN BEBAN IBU


Halo agan-agan semua. Masih pada sehat kah?🙂

Ini ada satu cerpen anak saya yang semalam (Minggu, 21 Oktober 2012)  diterbitkan di Harian Analisa Medan, Rubrik Taman Riang. Jika berkenan mohon dikasih masukan ya agan-agan.

 

 

MERINGANKAN BEBAN IBU

Eva Riyanty Lubis

Namanya Winny Khodijah Lubis. Biasa dipanggil dengan sebutan Ny. Dia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya bernama Muhammad Risky. Ny sekarang duduk di kelas enam SD sedangkan Risky duduk di kelas tiga SD. Keduanya sekolah di tempat yang sama. Setiap hendak berangkat ke sekolah, mereka akan pergi bersama-sama.

Ny dan Risky tinggal bersama ibu mereka. Ayah mereka sudah pergi menghadap Yang Maha Kuasa sejak tua tahun yang lalu. Maka sekarang ibulah yang jadi tulang punggung keluarga. Ibu membuka warung kelontong kecil-kecilan di depan rumah. Untungnya Alhamdulillah bisa untuk menyekolahkan Ny dan Risky serta untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari.

Namun beberapa hari terakhir ini ibu tidak dapat berbelanja ke pasar untuk warung mereka. Ibu demam panas. Untuk berjualan saja tubuh ibu sudah lemah. Ny sangat sedih melihat kondisi fisik ibunya. Dengan berbekal sisa uang jajan, Ny pergi ke toko obat dan membelikan obat buat ibu.

“Ibu minum obat dulu ya, biar cepat sembuh.” Ujar Ny lembut. Diberinya ibu dua butir pil demam dan segelas air putih. Ibu mengangguk dan kemudian meminum obat itu.

“Ny nggak usah sekolah dulu ya, Bu. Ny bantu ibu jualan di warung aja.” Pinta Ny.

“Pergilah sekolah, Ny. Kamu nggak boleh libur. Nggak lama lagi kalian akan UAN. Ibu nggak mau nilai Ny buruk. Ibu baik-baik saja kok. Ny tetap harus semangat sekolahnya. Jadi contoh yang baik untuk Risky. Janji sama Ibu ya, Ny.” Jelas ibu panjang lebar.

Ny hanya bisa mengangguk lemah. Dalam hati dia merasa sedih melihat kondisi ibu.

*

“Kenapa kamu murung terus, Ny? Cerita sama aku.” Ujar Dore, sahabat Ny.

“Kasihan ibu, Dore. Ibu sakit. Jualan kami mulai habis gara-gara ibu nggak bisa belanja ke pasar. Modalnya dipake buat kebutuhan sehari-hari kami.” Jawab Ny sedih.

Dore mengelus lembut punggung Ny. “Yang sabar ya, Ny. Ibumu pasti akan sembuh.”

“Ibu nggak punya uang, Dore. Gimana mau nambah jualan di warung kami? Bisa-bisa warung kami tutup karena kehabisan modal.” Jawab Ny sedih.

“Aku ada ide…” ujar Dore setelah berpikir beberapa saat.

“Apa?” Tanya Ny penasaran.

“Hari Sabtu ada perlombaan dance di alun-alun. Perlombaannya untuk anak SD hingga SMA. Kamu ikut aja, Ny. Gimana?” Dore mengerlingkan matanya berkali-kali.

“Hah? Tapi aku belum pernah ikut lomba dance, Dore. Lagian kalau ikut lomba dance harus punya kostum.”

“Aku sering lihat tarianmu, Ny. Kamu melakukannya persis seperti yang ada di TV. Keren. Suer deh! Makanya kamu harus ikut lomba ini. Kalau kamu menang, bakalan dapat duit. Cukup untuk bantu modal warung kalianlah.” Dore memberi semangat.

“Berapa?” Tanya Ny penasaran.

“Setengah juta, Ny.”

“Waaaaaaaaaaaaaaa….” Ny teriak keras. Antara terkejut dan senang.

“Tapi kostumnya gimana?” Ny kembali bersedih.

“Tenang, bisa diatur.” Jawab Dore tersenyum penuh arti.

Dan malamnya Dore datang ke rumah Ny dengan sebuah kantong plastik di sebelah tangannya.

“Wah, ini keren banget kostumnya. Kamu dapat dari mana, Dore?” Tanya Ny senang. Sebuah kaos tak bertangan berwarna hitam dan dipadukan dengan celana pendek berwarna silver. Ada sepatu ketsnya juga dan aksesoris pelengkap kostum.

“Udah, nggak usah dipikirin. Pokoknya kamu harus menang. Kamu harus buat ibumu bangga. Minimal kamu bisa membantu ibumu. Aku percaya kok kalau kamu bisa.” Dore tersenyum manis.

Ny menganggukkan kepalanya cepat.

“Makasih ya, Dore. Kamu sahabat terbaik aku. Aku janji akan melakukan yang terbaik.”

*

Hari Sabtu sepulang sekolah dengan ditemani Dore mereka berangkat ke alun-alun.

“Aku grogi, Dore.” Ny memegang tangan Dore erat.

“Kamu kan sudah latihan beberapa hari ini. Masa pada hari H kamu malah grogi sih? Mana ratu dance yang aku kenal?” Ujar Dore sedikit kesal.

“Udah minta restu untuk lomba sama ibumu?”

Ny menggeleng. “Ibu belum tahu kalau aku ikut lomba.”

“Haduh, Ny. Kamu ini gimana sih? Yaudah, pokoknya nanti kamu harus berikan yang terbaik. Buktikan kalau kamu bisa dance walaupun kamu belum pernah ikut lomba dance.”

Ny mengangguk cepat.

*

Nama Winny Khodijah lubis dipanggil. Lagu Mr. Simple milik Super Junior atau yang sering disebut dengan SuJu mulai terdengar. Ny mulai menggerakkan tubuhnya. Sebuah tarian modern yang ia padukan dengan tarian kreasi Ny sendiri terlihat sangat indah. Meliuk ke sana kemari dengan lincahnya. Penonton bersorak heboh.

Aku harus bisa. Aku harus bisa banggain ibu dan adikku Risky. Harus bisa jadi juara supaya bisa bantu modal buat ibu. Harus bisa karena sabahatku tak pernah lelah mendukungku. Aku harus bisa banggain orang-orang yang kusayang.” Sahut Winny dalam hati.

“Winny kereeeeeeeeeeen….” Teriak Dore keras sambil bertepuk tangan.

Ny mengakhiri tariannya dengan sempurna. Lompat berputar ke atas dan merentangkan kedua kakinya lurus di atas podium. Tepuk tangan semakin membahana untuk Ny. Keringat mengucur deras di tubuh Winny. Dia berhasil. Latihannya selama beberapa hari ini tidak sia-sia. Paling tidak itulah yang dirasakan Ny saat ini.

*

“Dan pemenang pertamanya adalah… Winny Khodijah dari SD 10.”

*

“Winny, dari mana saja kok pulangnya jam sembilan malam? Ibu nungguin kamu dari tadi. Sudah ibu cariin ke mana-mana tapi nggak ketemu. Apa yang kamu lakukan di luar sampai jam segini?” Sahut ibu kesal.

“Maafin Winny, Bu.” Jawab Ny merasa bersalah.

Tiba-tiba ibu memandang Winny dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Eh, kamu kenapa bajunya? Kaya anak punk. Terus itu piala siapa?”

Ny nyengir lebar. “Winny baru ikut lomba dance, Bu. Ny juara satu. Ini ada sedikit uang untuk Ibu. Hadiah juara.” Ujar Ny sembari memberikan amplop putih kepada ibu.

Ibu menerima amplop itu dan membuka isinya. “Wah, Ny. Ini banyak banget.”

“Untuk nambah modal warung kita ya, Bu. Ny cuma bisa bantu ini sama Ibu.”

“Ny,” Ibu menangis terharu dan memeluk Winny erat. “Tapi besok-besok jangan ikut lomba tanpa sepengetahuan ibu ya, Nak.  Ibu bangga sama Winny.”

 

Sebenarnya judul awal cerpen anak ini adalah: Ratu Dance. Namun diganti editornya menjadi Meringankan beban ibu.🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s