PUTRI DAN RUMAH TUA


Yang mau baca cernak ane, silahkan monggo ya :)) Ditunggu kritik pedasnya….

PUTRI DAN RUMAH TUA
Oleh: Eva Riyanty Lubis

            Mama sudah berulang kali mengingatkan Putri agar jangan bermain ke rumah tua yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah mereka. Rumah tua itu berwarna hitam. Gelap. Penuh dengan sampah, sarang laba-laba, bahkan kotoran dari berbagai macam hewan. Hal itu membuat orang yang melihat dan melintasinya menjadi takut. Pasalnya rumah itu juga tidak terurus sebab sudah lama tidak ditempati. Kata orang-orang yang tinggal di sana, dulu di rumah itu terjadi kasus pembunuhan.

Putri tidak peduli dengan semua itu. Bahkan karena larangan mama yang semakin keras kepadanya, dia malah semakin penasaran ingin memasuki rumah tua itu. Sejak pindah rumah ke desa itu kurang lebih dua bulan yang lalu hingga kini, niatnya itu belum tersampaikan.

Hari Minggu tiba. Papa dan mama Putri berangkat ke kota karena ada urusan. Putri menolak untuk ikut dan berbohong kalau kepalanya sedang sakit. Mereka percaya dan akhirnya meninggalkan Putri dan Bibi Minah di rumah.

Putri girang bukan main. Itu artinya dia mempunyai kesempatan untuk memasuki rumah tua itu. Dengan alasan ingin menemui teman sekolah, Putri meminta izin kepada Bibi Minah. Dan sudah pasti Bibi Minah tidak akan menolak. Apalagi dengan raut wajah Putri yang penuh harap.

Putri bersorak dalam hati. Diambilnya senter dan segera berlari mengendap-endap menuju rumah tua itu.

Kreeek…. Pintu berderit. Aroma debu menyerbu hidung Putri. Putri langsung menutup hidungnya dan mulai menyalakan senter. Rumah tua itu benar-benar gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk melalui pentilasi. Putri mengitari seluruh isi rumah. Dia berdecak kagum. Rumah tua itu tidak sepenuhnya jelek dan menakutkan. Masih banyak perabotan di sana. Kelihatannya dulu penghuni rumah itu merupakan orang kaya.

“Siapa kamu?“ seseorang mengagetkan Putri. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding. Tetapi dengan segera bocah delapan tahun itu membalikkan badan dan menatap siempunya suara.

Putri tampak kikuk. Walau begitu diberikannya juga seulas senyum kepada bocah berambut panjang dihadapannya itu. “Namaku Putri.” Putri menyodorkan tangannya. Beberapa menit ia menunggu, namun tidak ada balasan.

“Ngapain kamu ke sini?”

“Aku hanya ingin melihat isi rumah ini. Lalu kamu sendiri ngapain di sini? Setahuku rumah ini sudah tidak berpenghuni,“ ucap Putri dengan wajah sedikit bingung.

“Aku hantu.“

Putri melongo. “Mana ada hantu cantik kaya kamu,” ucap Putri asal. Bocah dihadapannya terkikik.

“Loh, kok ketawa?” Tanya Putri bingung.

“Kamu lucu.” Jawabnya masih dengan tawa.

“Oh ya, aku Bella.” Tambahnya.

“Waw…. Namamu manis. Kalau begitu, maukah kau menjadi temanku?” tanya Putri antusias.

“Kamu tidak takut kepadaku?“

“Kenapa harus takut? Kamu cantik. Punya rambut panjang. Wajahmu juga imut. Umur kita juga keliatannya sama.“ Jelas Putri.

“Aku berbeda denganmu. Lihat, kakiku tidak menginjak tanah,“ dia menunjukkan kakinya yang tidak menyentuh lantai.

Bukannya takut, Putri malah berdecak kagum. “Hebat kamu Bel. Jadi kamu bisa terbang dong?“

Bella tersenyum sambil mengangguk.

“Maukah kau mengajakku terbang?“ tanya Putri yang masih menunjukkan wajah kebahagiaan. Lagi-lagi Bella mengangguk.

“Datanglah ke sini kapanpun kau mau. Kita akan terbang dan bermain bersama.“ Ucap Bella dengan senyumnya yang manis.

Maka sejak hari itu mereka berdua menjadi akrab. Bahkan mereka berjanji akan menjadi sahabat sampai kapanpun juga.

Suatu hari tatkala mereka tengah bercengkrama pada salah satu kamar di rumah tua itu, seseorang muncul. Wajahnya menyeramkan. Rambutnya panjang menjuntai tak terurus. Dia memakai jubah putih yang sudah kusam. Namun ada sayap yang begitu indah di balik punggungnya. Sontak Putri terkejut dan langsung bersembunyi ke belakang tubuh Bella.

“Apa yang kamu lakukan di sini?“ tanya Bella kepada wanita itu.

“Ini kesempatanmu. Bukankah kau masih ingin menjadi seorang peri?“ tanya wanita itu dengan sorot matanya yang tajam.

Bella mengangguk.

“Hei bocah cilik!“ dia menunjuk Putri. “Apa kamu menyayangi Bella?“ tanyanya pada Putri. Putri yang tadi bersembunyi di balik punggung Bella akhirnya menampakkan diri.

“Ya, aku sangat menyayanginya.“ Ucap Putri pelan. Tak berani menatap mata wanita seram itu.

“Ok. Akan kujelaskan padamu. Putri bukan manusia. Bukan juga hantu. Dia seorang peri yang kukutuk. Namaku Elda. Aku peri hakim. Yang bertugas mengutuk peri-peri yang berbuat salah. Bella telah melakukan kesalahan. Dia tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. Maka aku membuangnya ke bumi ini. Sudah bertahun-tahun dia di sini. Sendirian tanpa teman. Itu sebelum kau muncul.“

Putri terkejut mendengar penjelasan wanita itu.

“Kutukannya hilang kalau kau dibunuh dan darahmu diminum oleh Bella.“

“TIDAK! Aku tidak mau Putri mati. Lebih baik aku tetap di sini dari pada melihatnya mati!“ Bella membentak wanita itu dan menatapnya tajam.

Wanita seram itu tersenyum. “Bagaimana menurutmu, Putri?“ tanyanya pada Putri.

“Aku rela dibunuh. Aku menyayangi Bella.“

Sedetik kemudian sebilah pisau telah ada dalam genggaman tangan wanita itu. “Pejamkan matamu. Dan semuanya akan berakhir.“

Putri menurut. Sedang Bella menangis histeris.

“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak…. Jangan lakukan itu.“

Pisau telah menyentuh leher Putri. Dan seketika tubuh Bella berubah. Parasnya semakin cantik. Sepasang sayap berwarna bening muncul dari balik punggungnya.

“Kau lulus ujian, Putri. Kau telah menyelamatkan Bella dengan sikapmu yang tulus kepadanya.“ Ujar wanita itu dengan seulas senyum dari sudut bibirnya.

Ternyata Putri tidak dibunuh. Rasa tulus Putrilah yang menghapus kutukan itu. Seketika wanita itu menghilang.

Bella memeluk Putri. “Aku menyayangimu, Putri.“ Bisik Bella dan seketika terbang meninggalkan Putri.

Sejak saat itu, rumah tua tidak lagi menyeramkan.

2 thoughts on “PUTRI DAN RUMAH TUA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s