SIMARSAYANG, CINTA SEMARGA (MEDAN BISNIS) Minggu, 30 September 2012.


 

SIMARSAYANG, CINTA SEMARGA

Oleh: Eva Riyanty Lubis

Kau berlari dengan tergopoh-gopoh. Peluh keringat membasahi wajahmu yang manis. Putih, bersih, dengan tubuh tinggi langsing. Sangat sempurna. Kau begitu indah meski peluh membanjiri tubuhmu. Kau berdiri sambil berkacak pinggang di samping sebuah gubuk kecil yang hanya muat diduduki maksimal tiga orang manusia. Kau menghadap ke arah hamparan luas yang memperlihatkan kotamu, kotaku juga. Kota Padangsidimpuan. Kota kecil yang terletak di Sumatera Utara. Luasnya kurang lebih 114 km2. Rumah-rumah penduduk yang tidak beraturan tampak begitu kecil, seperti kotak-kotak.

Napasmu naik turun tidak beraturan. Matamu menatap hamparan Padangsidimpuan yang ditumbuhi oleh banyak pohon kelapa dengan nanar. Kau terus menebar pandang dengan jelaja retinamu yang indah. Kadang-kadang kau berbalik dan berjalan ke arah yang lain dengan napas yang masih berderu dengan cepat. Kau terus menebar jejaring pandangmu. Tak peduli hingga berapa jam telah kau habiskan waktu dengan berlari ke sana kemari. Tak peduli begitu luas Bukit Simarsayang itu kau telusuri. Kau tetap bergerak ke sana kemari.

Akhir-akhir ini kau datang hampir setiap hari. Dengan kondisi yang masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Apa kau mencari seseorang, Gadis Cantik? Oh Gadis Cantik, kadang aku ingin berlari ke arahmu dan menanyakan kepada siapakah gerangan kau tujukan kerlingan matamu yang hitam pekat itu.

Hari ini kau datang ke bukit Simarsayang ini dengan balutan kaos berwarna merah yang dipadukan dengan jeans panjang berwarna hitam. Sebuah jeket turut pula menempel di badanmu tanpa kau kancingkan sehingga kaos berwarna merahmu masih bisa kulihat dengan jelas. Meski di bukit ini sangat dingin, kau tetap selalu penuh dengan keringat. Oh, kali ini ada satu yang berbeda. Kau amat sangat cantik. Ya, tidak salah lagi. Kau begitu cantik hari ini. Rambutmu yang hitam panjang sepunggung tergerai dengan sangat indah. Ah, aku baru tahu kalau kau memiliki rambut seindah itu. Sangat berkilau apalagi di bawah sinar matahari.

Kau masih berlari ke sana kemari. Mencari seseorang. Ya, tidak salah lagi. Meski kau tidak melontarkan apa-apa, aku yakin kau tengah mencari seseorang. Atau tengah menunggu seseorang yang tak jua hadir.

“Andriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….” Kau berteriak kencang. Aku sampai terhuyung mendengar teriakanmu. Meski begitu, aku menyukai nada suaramu yang penuh dengan ketegasan.

“Andriiiiiiiiiiii…. Di mana kau?” teriakmu lagi.

Air matamu menetes. Sangat deras. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Matamu hanya berkaca-kaca. Kini kau terjongkok sambil menenggelamkan wajahmu ke dalam kedua telapak tangan. Badanmu terguncang dengan hebat. Tubuhmu yang kuat tiba-tiba terlihat sangat rapuh. Aku ingin menjamahmu, ingin ikut merasakan kepedihanmu. Tapi aku tidak bisa. Ku lihat kau masih menangis, tak peduli dengan orang-orang yang lewat dan melihatmu dengan penuh keheranan. Ya, Bukit Simarsayang ini tak pernah sepi dari pengunjung. Karena tempat ini salah satu tempat pariwisata yang dimiliki oleh warga Padangsidimpuan.

Andri, siapa sebenarnya lelaki yang membuat kau menangis? Aku berpikir keras untuk membuka file-file yang berhubungan dengan nama lelaki itu. Butuh beberapa menit untuk mengingatnya hingga akhirnya memoriku berhasil mencari data lelaki itu. Lalu muncullah slide-slide yang berhubungan dengan nama tersebut.

Por rohakku di ho[1], Desi.” Ucap seorang lelaki berparas rupawan kepada gadis di dahadapannya. Seorang lelaki dengan tubuh atletis. Gadis itu, gadis yang kusebut sebagai Gadis Cantik. Kau! Dia menatapnya dengan penuh ketulusan. Aku yakin kalau aku tidak salah dalam mengartikan pandangan sendunya itu. Dan kau menundukkan wajah malu-malu. Ah, ternyata kau juga merasakan hal yang sama dengan lelaki itu. Andri.

Uboto do polo hita sikola dope, tai hagiotku, homa naron na manjadi umak ni daganakku.[2]

Kau mengangkat wajahmu menggadapnya. Kau balas pandangan sendu Andri dengan pandangan yang mengisyaratkan kasih sayang. Ya, kalian sama-sama mencintai. Simarsayang akan menjadi bukti cinta dua sejoli remaja itu.

Meski kau tidak menjawab isi hati Andri, tapi aku juga yakin kalau rasa yang ada dalam hatimu juga sudah tersampaikan kepada Andri. Aku bisa melihat bahwa kalian selalu menunjukkan wajah bahagia. Sejak hari di mana Andri menyatakan perasaannya kepadamu, kalian kian sering datang ke Bukit ini. Pulang sekolah, atau kadang di hari Minggu sambil lari-lari kecil bersama.

Kalian sangat bahagia. Aku bisa merasakan hal itu.

Suatu hari kau mendatangi Andri yang sudah menunggu sejak beberapa menit yang lalu. Mukamu menunjukkan raut kesedihan.

Mangua doho, Anggi[3]?” tanya Andri dengan cemas.

Kau menundukkan wajahmu. Lalu kau menangis. Andri mengelus pundakmu pelan. Ia tak berniat memintamu untuk bercerita. Sebab dia yakin cepat atau lambat, kau pasti akan bercerita tentang masalah yang kau hadapi.

“Keluarga sudah mengetahui hubungan kita. Mereka marah besar kepadaku, Andri. Mereka juga marah kepadamu. Mereka tak ingin kita meneruskan hubungan ini.” Ujarmu dengan isak tangis yang makin mengencang.

Raut wajah Andri tiba-tiba menegang. Sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Aku memandang mereka dengan lekat.

Harana ita samarga[4]?” tanya Andri pelan. Tenggorokannya seperti tercekat mengutarakan hal itu.

Kau menganggukkan kepalamu pelan. Isak tangismu kembali mengencang. Andri membawamu ke dalam dekapannya. Aku bisa melihat kalau ada ketakutan yang juga terpancar di wajahnya meski ia berusaha untuk menutupinya darimu.

Oh, ternyata mereka berdua mempunyai marga yang sama. Mereka berdua bermarga Lubis. Salah satu marga Batak dari rumpun Mandailing. Dalam Batak memang tidak diizinkan untuk menikah dengan orang yang bermarga sama. Pada tradisi suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan sehingga jika ada yang menikah dia harus mencari pasangan hidup dari marga lain selain marganya. Apabila yang menikah adalah seseorang yang bukan dari suku Batak maka dia harus diadopsi oleh salah satu marga Batak (berbeda klan).

Andri berusaha meyakinkan Desi kalau semua akan baik-baik saja.

Tenang maho. Adong gok cara so tetap bisa ita marsatu.[5]” Ucap Andri lirih. Tapi aku tahu sebenarnya ia tak seyakin kalimat yang baru saja ia lontarkan.

Kau mulai tersenyum. Kau sudah begitu yakin dengan pujaan hatimu itu. Kau menaruh harapan besar kepada Andri. Lalu beberapa menit kemudian, Andri menyeka sisa air mata yang membasahi wajah cantikmu itu.

Mereka berdua saling berpandangan dan tertawa bersama. Seolah beban berat yang tadi menyelusup hati mereka sudah sirna.

Ah, mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu. Namun sudah berpikir dewasa untuk kelangsungan hidup mereka nantinya. Sungguh, aku salut dengan pemuda yang berpikir seperti itu.

Tiba-tiba dua buah motor butut yang sepertinya biasa digunakan ke sawah berhenti tepat di dekat mereka. Mereka menatap orang yang datang menghampiri mereka itu dengan mata membulat. Sangat ketakutan sehingga mereka akhirnya berdiri dari duduknya. Kedua tangan mereka berpengangan sangat erat.

Umak[6],” ucapmu pelan.

“Apa maksudmu tetap berduaan dengannya, Desi? Sudah kukatakan jangan berhubungan dengannya lagi!” ibumu menatap Andri dengan tampangnya yang kejam.

“Ibu, Desi mencintai Andri. Desi nggak bisa membohongi perasaan Desi sendiri.” Ujarmu memelas. Ibu dan ayahmu geleng-geleng kepala dan hendak menarik tanganmu dari Andri. Namun kau dengan tegas menolak dan berjalan mundur dari kedua orang tuamu itu.

“Sudah berapa kali kami katakan, Desi. Kalian semarga. Tidak bisa berhubungan!” kali ini ayahmu yang bersuara.

Kau geleng-geleng kepala dengan cepat.

“Desi bisa ganti marga, Ayah. Ayolah Ayah, jangan persulit ini.” Pintamu sambil mendekap jemari Andri semakin erat.

Udak, marjanji au polo au bisa mambahagiaon, Desi.[7]” Ucap Andri menimpali.

Kedua orang tua itu makin berang. Ayahmu juga menjelaskan kepada Andri kalau tanpa berhubungan khusus pun keluarga kalian sudah berhubungan karena semarga. Ibu Desi turut memarahi kalian karena begitu bodohnya sampai tidak bisa mencari pasangan yang berbeda marga dengan kalian.

Lalu ayahmu menarikmu dengan paksa sehingga akhirnya tanganmu terlepas dari genggaman tangan Andri. Kau menangis keras. Tapi mereka tidak perduli.

Ulang uida amube rap![8]” ancam ayahmu sebelum menyuruhmu dengan paksa naik ke atas motor.

Kau masih menangis di boncengan ayahmu. Sedang ibumu sudah melaju bersama supir yang mempunyai motor.

“Desiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…. Tunggu aku tiga tahun lagi. Aku pasti menjemputmu dan semua akan baik-baik sajaaaaaaaaaa! Kita bertemu di siniiiiiiiiiiii….” Andri berteriak dengan kencang. Membuat beberapa pasang mata beralih kepadanya.

Kau mengangguk pelan. Dan aku tahu kalau kau mempercayai pemuda itu. Ah, aku jadi sangat penasaran dengan kisah kalian.

Sungguh, Batak memang tidak mengizinkan kedua insan semarga untuk menikah. Meski mereka tidak pernah berkenalan sebelumnya. Meski ada beberapa cara untuk menghalalkan adat itu, misalnya jika salah satu mereka harus rela berganti marga. Namun melihat orang tua Desi yang sangat memengang kukuh adat istiadat, aku jadi belum bisa menyimpulkan kisah cinta mereka.

Kemudian sejak hari itu, tak pernah lagi aku melihat kedua batang hidung manusia tersebut.

Lalu hari ini aku baru tersadar kalau Gadis Cantik yang selalu tampak gelisah di hadapanku adalah dia, Desi. Gadis yang sudah bermetamorfosis menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Berparas jelita.

Oh, rupanya tiga tahun sudah berlalu. Dan dia masih memegang teguh janji dari kekasihnya.

“Andriiiiiiii…. Kau di mana? Aku sudah menantimu selama berhari-hari di sini,” Kau terisak sambil menyilangkan kedua tangan di dadamu. Kau berbicara kepada hamparan yang terbentang luas di hadapamu.

Aku ingin berlari. Menghampiri dan menguatkanmu yang tampak begitu lemah. Tapi aku tidak bisa. Tetap tidak bisa…. Dari dulu hingga kini.

“Dek, apakah kamu mencari lelaki yang bernama Andri?” tanya seseorang yang mendadak muncul di belakangmu. Kau terkesiap lalu berbalik badan.

“Andri, ya Andri. Apa Bapak tahu di mana dia sekarang?” tanyamu dengan suara sumringah.

“Dia… sudah menikah. Minggu lalu dia datang kepada saya dan mengatakan bahwa Nak Desi jangan menunggu dia lagi. Dia sudah bahagia dengan pilihan kedua orang tuanya. Maaf saya baru bisa menyampaikannya hari ini.”

Tidak! Jangan katakan hal yang membuatnya menjadi hancur. Jangan membuat hatinya semakin remuk. Dia tak bersalah. Dia gadis cantik yang setia. Lelaki itu sudah berjanji kepadanya. Aku menjadi saksinya. Tidak! Bukan hanya aku. Dia sudah berjanji di Bukit Simarsayang ini.

Kusaksikan awan pekat mengaburi pandanganmu. Kau berjalan terhuyung, sambil sesekali menyeka air mata yang mengalir deras di wajah indahmu.

Kamu mengambil keputusan yang salah, Andri. Kekasihmu telah berharap banyak kepadamu. Dan kamu berhasil menghancurkan perasaannya. Tiga tahun lamanya kau membuat dia menanti. Tiga tahun! Aku menjadi saksi. Aku, pohon pinus yang sudah tertancap sejak dulu sebelum kalian melukiskan kisah cinta di Bukit Simarsayang ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Aku cinta kamu, Desi.

[2] Aku tahu kalau kita masih sekolah, tapi harapanku, kaulah kelak yang akan menjadi ibu dari anak-anakku.

[3] Kamu kenapa, Adik?

[4] Karena kita semarga?

[5] Kamu yang tenang ya. Ada banyak cara supaya kita tetap bisa bersatu.

[6] Ibu

[7] Paman, aku berjanji kalau aku akan membahagiakan, Desi.

[8] Jangan sampai aku melihat kalian lagi bersama-sama!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s