MOM’S DAY


Maaf telat posting. Maklum, sibuk banget di kantor akhir tahun >.<  Tulisan yang memang spesial untuk ibuku.

 

DIA SEMPURNA DI MATAKU

Oleh: Eva Riyanty Lubis

          Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Ungkapan yang sangat indah dan tepat yang diberikan kepada wanita luar biasa dalam menjalankan eksistensinya di dunia ini. Sosok yang berperan sebagai ibu rumah tangga, namun tidak jarang juga kita dapati mereka berperan ganda yaitu sebagai pencari nafkah. Sungguh sangat luar biasa.

Ibu, wanita paling cantik bagiku. Kecantikannya mengalahkan para miss universe atau bahkan aktris Hollywood sekalipun.

Ibu, wanita paling baik hati bagiku. Kebaikan hatinya mengalahkan para hero yang sudah terkenal di dunia ini. Batman, Spiderman, Superman, Ben 10, atau apapun itu. Semuanya, kalah!

Ibu, wanita paling pintar bagiku. Dibanding guru sekalipun. Sebab kalau bukan karena dia, aku tidak akan bisa tumbuh hingga seperti ini.

Ibu, wanita paling tangguh bagiku. Dia tetap bisa bertahan meski berbagai macam masalah datang silih berganti menimpanya. Dan dia masih bisa tersenyum di balik kesedihannya. Aku ingat kalau aku menanyakan kabarnya, dia selalu mengatakan kalau dia baik-baik saja. Meski dia mempunyai masalah sekali pun. Oh, Ibu. C’mon, aku juga ingin mendengar keluh kesahmu. Kita berbagi bersama.

Ibu, wanita yang kusebut sebagai malaikat tanpa sayap. Dialah penolong di kala aku susah dan ketika mengalami kesulitan. Dia selalu ada kapan pun aku mau. Bahkan ketika jam sudah menunjukkan pukul dini hari, dia masih siap sedia mendengar keluh kesahku. Padahal itu waktunya untuk beristiharat dari berbagai macam aktivitas padat yang telah ia lakukan.

Kusimpulkan bahwa ibuku adalah wanita paling sempurna di mataku. Dan dia tidak akan pernah tergantikan, sampai kapan pun.

*

01 Nopember 2010. Aku kehilangan seorang ayah. Seorang imam dalam keluarga kami. Dan hal itu mau tidak mau membuat kami menjadi sedih. Sedikit hampa. Sebab kehilangan. Namun dengan keyakinan penuh, ibu berdiri di depan kami. Kobaran semangat bisa kulihat dari dirinya.

“Tanpa ayah, kita juga pasti bisa. Kalian harus yakin itu. Namun kalian dan ibu harus saling menguatkan. Bukankah nabi kita juga seorang yatim? Bahkan piatu. Tapi dia tidak bersedih. Ingatlah, Nak. Semua yang ada di dunia ini tidak ada yang kekal. Cepat atau lambat Dia akan mengambilnya kembali. Karena kita merupakan milikNya.”

Ibu terus menerus berusaha menguatkan kami. Mengesampingkan perasaanya yang juga merasa sedih dan kehilangan.

*

“Ibu, aku ingin kuliah. Semua teman-temanku kuliah. Aku cemburu pada mereka.” Ucapku suatu hari.

Ibu memandangku dengan mata teduhnya. “Tapi kamu kan kerja. Apa kamu bisa bagi waktu?”

Dengan mantap aku menganggukkan kepala.

“Tapi aku nggak punya uang lagi, Bu.” Ucapku lagi.

“Berapa uang yang harus diperlukan?”

“Rp 1.450.000.”

Jumlah segitu sudah merupakan uang yang sangat banyak bagi keluarga kami. Sebenarnya aku tahu ibu tidak punya uang. Tapi waktu pendaftaran kuliah gelombang terakhir pada salah satu kampus di kotaku tinggal beberapa hari lagi. Bila aku tidak mendaftar, maka habislah kesempatanku dan aku harus kembali menunggu tahun depan. Aku tidak memilih kampus lain karena hanya kampus ini yang biayanya paling murah.

Dengan egosinya kupaksa ibu mencari uang sebanyak itu.

Terakhir barulah aku ketahui, bahwa uang yang diberikan ibu kepadaku adalah hasil penjualan anting adik perempuanku yang paling kecil.

*

“Bagaimana kuliahmu?” tanya ibu suatu hari.

Aku keringat dingin. Sebab aku sudah tidak pernah lagi masuk ke kampus itu. Hanya sebulan aku menjadi mahasiswa. Aku mendapat peringatan dari tempat kerja karena terlalu sering permisi. Dan akhirnya aku memilih untuk berhenti kuliah. Aku belum menceritakan hal itu kepada ibu, karena aku takut dia marah. Sebab aku telah menyia-nyiakan uang pemberian darinya.

Namun secara tiba-tiba dia datang menghampiriku. Sangat dekat. Kukira dia akan memukulku, namun ternyata dia memelukku. Ya Tuhan… begitu hangat.

“Kamu pindah kampus kan, Sayang? Semalam kamu daftar di sekolah tekhnik kan? Syukurlah ada kelas malamnya. Pokoknya, Ibu percaya sama kamu. Dan kamu jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada.”

Mataku berkaca-kaca. Dan perlahan kristal bening itu pun luruh.

“Maafkan aku, Bu. Uang ibu jadi terbuang sia-sia. Harusnya aku tidak buru-buru dalam mengambil keputusan.”

Ibu tersenyum. Sangat manis. “Belum rezeki, Nak.”

*

“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Dia sangat sempurna di mataku. Always love you, Mom.

 

CINTA SELUAS SAMUDRA

Oleh: Eva Riyanty Lubis

          Ibu adalah malaikat tak bersayap. Ya, gelar itu patut disandangkan kepadanya. Tak terasa hampir dua puluh tahun aku bersamanya. Berbagai macam peristiwa telah kami lalui bersama. Asin, manis, pahit, pokoknya semua rasa sudah bercampur baur. Bagiku, dia sosok yang luar biasa dan tak tergantikan.

Aku masih ingat, waktu aku TK, ibu memberikan seorang adik kepadaku. Ihsan Hakim Lubis. Seketika hidupku berubah 180o. Aku yang biasanya mendapat kasih sayang penuh dari ibu, harus rela berbagi cinta dengannya. Belum lagi ketika muncul adik kedua dan ketiga. Sungguh, aku merasa hampir gila. Aku cemburu sebab perhatian ibu kini mengarah kepada mereka. Maka sejak saat itu, aku mulai menarik diri.

“Ibu pilih kasih!” teriakku suatu hari. Namun ibu hanya diam. Tak membalas bahkan ketika semua dinding kamarnya kutulisi dengan kalimat yang sama.

Tatkala aku mendapat juara kelas, orang pertama yang akan kutemui adalah ibu. “Oh…. Nilaimu lumayan bagus.” Hanya itu kalimat yang terlontar dari mulutnya. Padahal aku berharap ada ucapan selamat atau sebagainya yang bisa menyenangkan hatiku. Hal itu membuat aku semakin merasa kesal kepada ibu.

Namun tatkala aku menginjak remaja, barulah aku menyadari kalau ibu tak seperti yang kupikirkan. Dia berbuat demikian hanya di hadapanku. Tapi di belakangku dia malah berbuat sebaliknya. Di depan ayah, atau di depan sanak saudara dia selalu memujiku. Aku juga pernah mendapatinya sedang melantunkan doa untukku dalam sujudnya. Dia benar-benar menyembunyikan rasa cintanya padaku.

Ketika keluarga kami mengalami perpecahan, bahkan ketika ayah harus pergi menghadapNya, ibulah yang selalu ada untuk kami. Mengajari kami banyak hal. Menguatkanku agar tidak menjadi manusia lemah. Meski masih dengan cara penyampaiannya yang cuek, tapi kini aku tahu bahwa cintanya seluas samudra untukku. Ya, untukku dan untuk adik-adikku.

 

 

 

Sabtu, 22 Desember 2012

Teruntuk malaikat tak bersayap

yang kupanggil dengan sebutan, “Umak”. Umakku Nurawal

3 thoughts on “MOM’S DAY

  1. Pingback: Sunshine Award | My sToRy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s