Fitri


FITRI

Oleh: Eva Riyanty Lubis

Aku cemburu. Rasa ini bahkan membuatku meringis kesakitan tatkala melihat mereka. Harusnya aku salah satu dari mereka. Tetapi karena hal itu, aku harus di sini. Diam termenung meratapi keadaanku. Waktu itu aku masih ingat, kami memiliki mimpi yang sama. Kuliah di universitas terkemuka. Misalnya USU, UNRI, atau bahkan UI.

Tetapi apa yang diinginkan memang tidak akan terkabul begitu saja. Aku benar-benar kecewa. Marah terhadap keadaan. Teman-teman yang seharusnya jauh di bawahku, kini harus kurelakan berada jauh dari pandanganku. Mereka mengejar mimpi-mimpi itu. Tanpa ada aku, di sana.

***

”Kasihan ya si Fitri. Pinter-pinter tapi nggak kuliah. Harusnya dia kuliah seperti teman-temannya itu. Aku dengar-dengar dulu dia ingin menjadi reporter. Wajar sih, dia cakap ngomong.”

”Sekarang dia malah kerja nggak karuan. Pulang-pulang malam. Aku juga tahu kalau gajinya nggak seberapa. Kalau banyak ya nggak mungkin dia mau kerja lembur. Ya nggak, Bu Kun?”

Kupingku panas tatkala aku menemukan mereka bergosip ria di warung Bu Prima. Mereka berceloteh seenakya tanpa tahu apa yang kurasakan.

”Eh, Fitri ada di sini toh,” Bu Kun menatapku serba salah. Ya, aku tengah berada di warung Bu Prima dan dengan jelas aku mendengar perbincangan Bu Kun dengan si biang gosip, Bu Risah. Aku menatap mereka dengan tajam. Lalu kedapati wajah mereka mulai memerah. Dan kemudian mereka menundukkan pandangannya ke arah lantai. Mungkin mereka malu ketahuan olehku.

Adong juo rasa maila ni alai,“[1] ucapku dalam hati. Aku mengacuhkan mereka yang masih dengan perasaan serba salahnya. Setelah membeli bahan-bahan untuk dimasak hari ini, aku pergi tanpa menatap mereka lagi.

“Biasanya dia marah tuh kalau dibicarain. Sekarang liat aja noh, mulutnya seakan terkunci.“ Bu Risah kembali memulai lapak gosipnya. Bibirnya yang dower tampak memberikan beberapa hinaaan sinis kepada Fitri.

Bu Kun hanya mengangguk-angguk. Memang kebanyakan ibu-ibu di kampung ini selalu mudah terperdaya oleh cerita Bu Risah. Padahal yang dia ceritakan kebanyakan hanya bualan.

“Udah, udah. Kalian masih pagi udah menggosip. Belanja juga nggak. Nyemakin warung gue aja kalian ini. Noh, dipojokan menggosip.“ Bu Prima mengusir mereka. Bu Prima terkenal dengan sikapnya yang tegas. Namun sesekali ia juga turut dalam pembincangan Bu Risah.

***

Hari ini aku kembali bekerja. Aku bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Karyawannya lumayan banyak. Pekerjaannya juga banyak. Bahkan saking banyaknya aku harus mengambil lembur. Yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana supaya aku mempunyai uang yang banyak. Sehingga lembur yang membuat badanku serasa remuk itu tidak begitu kuhiraukan.

Namaku Fitri Wiraya. Dulunya aku merupakan murid dengan prestasi gemilang di kampung ini. Berbagai macam penghargaan telah kuraih. Namun itu tidak cukup untuk meraih mimpiku.

Kadang kala aku masih menangis tatkala mengingat itu semua. Ikhlas. Itu yang belum bisa aku jalankan. Akhirnya, hari-hariku berakhir dengan monoton. Tak ada gairah untuk menjalankannya.

Malam ini, Erpin, sahabat sekaligus orang yang kusukai ketika SMA menghubungiku agar kami berjumpa. Ternyata dia tengah liburan sehingga bisa pulang kampung.

“Gimana kuliahmu?“ tanyaku tatkala kami sudah sampai di warung nasi goreng Pak Rik. Ketika SMA, di sinilah kami biasanya berkumpul untuk sekedar bersenda gurau.

“Baik-baik aja. Kemaren aku baru pulang dari Malaysia. Ada pertukaran pelajar dan aku terpilih sebagai wakil dari universitasku.“

Aku menelan ludah mendengar jawabannya. Dia kuliah pada salah satu universitas terkemuka di Jakarta. Wajar saja sih kalau dia bisa terpilih.

“Bagaimana kabar Sidimpuan? Kau menjaganya dengan baik?“ tanyanya sambil terkekeh. Aku tahu dia sebenarnya ingin bercanda. Namun hatiku masih belum bisa menerimanya. Akhirnya aku hanya menggeleng.

“Duh, kok jadi lemas begitu? Tai madung mangan doho. Semangat bo!“[2]

Aku tidak menjawab. Hanya menyeruput sisa-sisa jus pokat yang ada di hadapanku.

“Fit, semua yang kita inginkan belum tentu terkabul. Dia memberikan kita apa yang kita butuhkan. Bukan apa yang kita inginkan.” Erpin mulai berceloteh. Aku tahu dia menyadari perubahan sikapku.

Aku hanya mengangguk-angguk tidak jelas.

“Jangan berubah, Fit. Tetaplah menjadi Fitri yang dulu. Fitri yang selalu menatap dunia dengan penuh senyuman. Fitri yang mengatakan kalau semua ada solusinya. Jangan pernah putus asa, sebab akan terjadi sesuatu yang indah di balik ini semua.“

Aku memandang Erpin dengan kesal. Bukan ceramah yang seharusnya ingin kudengar.

“Sejak kita bertemu, aku belum menemukan senyummu, Fit.“

“Aduh…. Kamu ini apa-apaan sih? Aku capek pulang kerja, jadi wajar dong kalau mukaku seperti ini,“

“Biasanya juga nggak seperti ini.“

“Nah…. Ini buat kamu. Puas?“ akhirnya aku memberi dia sebuah senyuman. Dan dibalas dengan senyuman yang begitu manis.

“Sering-sering gitu kan cakep, Fit.”

Aku mendengus kesal.

“Fit, kamu kenapa nggak kuliah sih? Bukannya kamu ingin jadi reporter? Hm…. Aku tahu kamu nggak kuliah dari Yully. Tapi dia ceritanya nggak jelas,“

Aku memandangnya sebentar sebelum kembali menyeruput jus pokatku yang sebenarnya sudah habis. Aku memang belum menceritakan kepada siapapun tentang ini.

Jawab bo[3], Fitri.“

“Aku yakin dengan kemampuanmu. Tetapi aku tidak habis pikir dengan keputusanmu untuk bekerja dan menetap di kampung ini. Bahkan kamu nggak kuliah untuk mengejar cita-citamu, Fit. Setan apa yang telah merasukimu?“

“Dulu, aku ingin kita sama-sama kuliah di Jakarta. Kamu jadi reporter, dan aku jadi wartawan. Perpaduan yang pas bukan? Kalau Ayumi dan Hylla memilih USU. Sedang Dhoi, Nyi dan Andri memilih di UNRI. Kita bertujuh sudah berjanji akan saling mengejar mimpi. Namun aku terkejut dengan pilihanmu. Sudah dari dulu ingin kuutarakan, namun selalu terhambat oleh waktu.“

“Fit, aku udah bicara panjang lebar tapi kamu kok diam aja sih?“

Aku mematapnya dengan tajam.

“Aku ingin kuliah, Erpin. Aku ingin mengejar cita-citaku. Aku juga cemburu dengan kalian.”

“Lalu kenapa kamu masih di kampung ini?”

“Kalian nggak tahu apa yang kurasakan. Di saat aku membutuhkan sahabat-sahabatku, di saat aku rapuh, di saat aku kesepian, kalian tidak ada kan untukku? Kalian hanya sibuk dengan urusan-urusan kalian!“ aku membentaknya. Untuk yang pertama kali aku melakukan itu terhadapanya. Aku tahu dia terkejut dengan ucapanku.

Namun tiba-tiba air mataku pun mendarat dipipiku.

“Ayah dan ibuku cerai, Pin. Dan kini aku tinggal dengan ibu. Ayah menikah lagi tanpa meninggalkan harta kepada kami. Sedang ibu sakit-sakitan. Aku anak ibu satu-satunya dan sudah pasti aku nggak bisa ninggalin ibu. Harta kami sudah nggak ada, Erpin. Dan kalian tidak pernah tahu itu!” air mata dipipiku mengalir semakin deras.

“Astagfirullohaladzhim…. Sungguh, aku sedih mendengarnya, Fit. Aku merasa malu sebagai sahabat namun tidak tahu penderitaan sahabatku sendiri. Aku tidak bisa mengatakan kalau aku mengerti apa yang kau rasakan. Namun satu yang kuinginkan darimu. Jangan menyerah. Aku nggak mau kamu putus asa gara-gara masalah ini. Banyak orang yang mempunyai masalah lebih besar darimu, tapi mereka telah membuktikan kalau mereka bisa mengatasinya. Dan aku yakin kamu juga bisa.“

wa man ya tawakkal alallah fahuwa hasbuh,
(barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)-nya.” QS. At-Thalaq: 3). Ikhlas, Fit. Jalani semuanya dengan lapang dada. InsyaAllah pertolongan-Nya akan selalu menghampirimu.“

***

Lima tahun kemudian, aku berhasil meraih sarjana. Sarjana Ekomoni. Melenceng dari yang kuinginkan. Tapi aku tahu, itulah yang kubutuhkan. Sebab kini Dia telah memberiku sebuah amanah, sebagai salah satu pengusaha wanita sukses di kampungku, Sidimpuan.

Dan karena merekalah aku bisa bertahan. Ibu dan juga suamiku, Erpin.


[1] Ada juga rasa malu mereka

[2] Kamu kan sudah makan. Ayo dong semangat!

[3] Jawab dong, Fitri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s