UNTAIAN NADA FIOLIN


UNTAIAN NADA FIOLIN

Oleh: Eva Riyanty Lubis

            Fiolin, gadis itu memainkan gitar dengan perpaduan suaranya yang khas. Orang yang memandang serta mendengar nyanyiannya turut terhanyut. Ada kesedihan dalam nada-nada yang ia timbulkan.

jangan berakhir aku tak ingin berakhir
satu jam saja kuingin diam berdua
mengenang yang pernah ada
jangan berakhir karena esok takkan lagi
satu jam saja hingga kurasa bahagia
mengakhiri segalanya

tapi kini tak mungkin lagi
katamu semua sudah tak berarti
satu jam saja
itupun tak mungkin, tak mungkin lagi

jangan berakhir kuingin sebentar lagi
satu jam saja ijinkan aku merasa
rasa itu pernah ada
[1]

Tepuk tangan yang begitu meriah penonton berikan kepada gadis berambut lurus panjang itu. Tak lupa ia berikan senyum simpul pada saat mengakhiri penampilannya.

***

“Penampilanmu selalu mengesankan. Kenapa sih kamu betah nyayi di café ini? Aku yakin kamu bisa nyanyi di atas panggung yang lebih besar. Hellow…. Kamu sudah membuktikan itu di Prancis. Kamu musisi, Fio. Suaramu bagus, paras cantik, bahkan mahir memainkan berbagai alat musik. Beri aku alasan logis kenapa kamu tidak pernah mau mengikuti saranku,“

Fiolin kembali tersenyum. Ben, pemilik cafe yang selalu menyuruh Fiolin menjadi penyanyi.

“Waktunya aja yang belum pas, Ben.“ Jawab Fiolin sambil memamerkan gigi putihnya yang berderet rapi.

“Jadi kapan waktu yang pas itu? Ingat, umurmu nggak akan pernah berkurang. Selagi masih bisa dan ada kesempatan, kamu pergunakan dong dengan baik,“ Ben kembali berceloteh.

Fiolin terkikik yang membuat Ben kesal dan kemudian meninggalkan Fiolin sendiri di meja paling sudut samping jendela. Tempat favorit Fiolin. Kini mata gadis berambut panjang itu beralih ke balik jendela. Dia mendesah, panjang.

PERJODOHAN

Satu tahun lalu.

“Ma, Fiolin nggak mau dijodohin. Zaman udah berubah, Ma. Mama ngertiin Fiolin dong.“ Fiolin bersikeras.

“Mama takut nantinya kamu terikut-ikut pergaulan bebas. Makanya lebih baik kami yang mencarikan calon pendampingmu.“

“Ma, Fio udah gede. Udah tamat SMA. Kok Mama jadi parno gitu sih?“ Fiolin tampak kesal.

“Itu semua demi kebaikanmu, Nak. Kamu putri kami satu-satunya.“ Mata Mamanya menunjukkan kesedihan.

Fiolin menghembuskan nafas, panjang. Hal yang selalu ia lakukan ketika berada dalam situasi sulit.

“Mama nggak ngejodohin Fio karena urusan perusahaankan?“ tambah Fiolin.

Mama tampak sedikit terkejut.

“Huahhhh Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. Mama kok segitu mudahnya sih ngambil keputusan? Dari awal Fio udah yakin itu alasannya. Fio juga udah tahu kalau kondisi perusahaan Papa memburuk. Tapi jangan ngorbanin perasaan Fio dong, Ma.” Fiolin tampak merengek.

“Kita nggak punya jalan lain, Nak. Kamu pasti suka kok dengan calonmu itu,”

“Nggak, Ma. Cowok kaya itu belagu, Ma.“

Please, Sayang.“ Mama menatap Fiolin dengan penuh harap. Karena tidak tega Fiolin terpaksa mengalah.

“Iya deh. Asal kalian senang.“ Selesai mengucapkan kalimat itu, Fiolin pergi meninggalkan Mama. Tampak kekesalan masih menghinggapi wajahnya yang cantik. Sedang Mamanya juga merasa sedikit bersalah.

Malam pertemuan Fiolin dengan calon jodohnya tampaknya tidak akan berjalan mulus. Dua jam sudah Fiolin menunggu di café tempat mereka berjanji, tetapi batang hidung lelaki itu tak jua muncul. Perasaan kesal dan kecewa kembali menyerang Fiolin.

“Dasar cowok sialan. Bisa-bisanya membuatku menunggu sampai selama ini,” umpat Fiolin dalam hati.

Tatkala Fiolin hendak meninggalkan café, seorang lelaki tampak menghampirinya. Astaga, laki-laki itu bisa membuat Fiolin tampak linglung. Bagaimana tidak, lelaki itu begitu rupawan. Tampangnya cool dan sangat berkarisma. Perawakannya mirip dengan Brat Pitt. Rambutnya yang lurus tampak melambai-lambai tertiup angin. Mukanya bersih tanpa jerawat. Alis matanya tebal. Tatapan matanya tajam. Kemeja putih yang melekat ditubuhnya membuat dia tampak begitu sempurna.

Serasa dunia berhenti. Dalam pikiran Fiolin, sang pangeran akan datang menjemputnya.

“Apa dia orangnya” Tanya Fiolin dalam hati. “Uppz…. Tidak mungkin. Dia terlalu keren. Tapi kalau memang dia, aku pasti tidak menolak.“ Tambah Fiolin dalam hati. Ia tampak tersenyum malu. Wajah putihnya merona merah.

“Kamu yang namanya Fiolin?“ tanya laki-laki keren itu. Kini ia berada di hadapan Fiolin. Hanya berjarak beberapa puluh senti.

Jantung Fiolin berdetak tidak menentu. Getaran aneh tiba-tiba datang mengerayangi tubuhnya.

“Hei… kok bengong sih?“

Fiolin tiba-tiba tersadar dari lamunannya.

“Eh, kamu nanya namaku? Iya, aku Fiolin,“ Fiolin mengulurkan tangannya. Tetapi sayang, laki-laki keren itu tidak membalas.

“Aku ingin bicara serius.”

Mereka akhirnya mengambil tempat duduk paling sudut.

“Sebelum kamu bicara serius, aku pengen ngasih sesuatu padamu.” Fiolin memberikan kedipan mata kepada lelaki itu sebelum menghilang dari hadapan sang lelaki.

“Lagu ini spesial buat seseorang yang sudah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya.”

Semua mata tertuju padanya. Fiolin. Kini dengan gitar ditangannya akan memulai memainkan nada-nada. Laki-laki keren itu tampak terkejut. Tetapi kemudian ada seulas senyum tipis yang muncul dari sudut bibirnya.

aku jatuh cinta pada pandangan pertama
berbunga-bunga hatiku saat menatapnya
aku pun terlena dia sangat mempesona
inikah rasanya cinta pada pandangan pertama[2]

Semua penonton memberi tepuk tangan yang meriah.

“Penampilanmu benar-benar memukau. Aku baru tahu kalau kamu bisa bermain musik sambil bernyanyi.”

“Itu untukmu,” ucap Fiolin masih dengan senyumnya yang manis. Lelaki itu tampak tersenyum. Sangat memukau. Membuat debaran di hati Fiolin menjadi tak menentu.

“Aku cinta padamu pada pandangan pertama.” Tanpa malu Fiolin langsung mengungkapkan isi hatinya. Lelaki di hadapannya tampak sedikit terkejut.

“Kau tidak tahu arti cinta. Kau bahkan terlalu naïf dengan mengucapkan perasaanmu dengan tiba-tiba.”

“Aku mengerti dengan apa yang kuucapkan. Dan aku tidak akan menyesali itu.”

“Kau hanya anak kecil yang baru tamat SMA.”

“Cinta tidak mengenal usia. Harusnya kamu tahu itu,”

“Jalanmu untuk mencari cinta masih panjang. Kau boleh menolak perjodohan ini. Karena aku juga tidak ingin meneruskannya.”

“Aku sudah menemukan cintaku. Jadi untuk apa aku mundur dari perjodohan ini?”

“Secepat itukah?”

“Ya.”

“Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentangku. Secepat kau mencintaiku. Secepat itu pula kau melupakanku. Aku bisa memastikan itu.“

“Nggak. Kamu nggak bisa menarik kesimpulan secepat itu.“

“Kau naif. Aku tahu kau juga menolak perjodohan ini,“

“Ya, itu sebelum aku bertemu denganmu. Kini, aku ingin tahu semua tentangmu.“

“Kalau kau cinta kepadaku, tidak seharusnya kamu menanyakan itu padaku. Oh ya, aku bisa menyimpulkan kalau kau menyukaiku karena fisikku. Iya kan?“

“Ok. Diam berarti benar. Aku memutuskan perjodohan ini. Aku tidak bisa mencintai anak kecil. Tenang saja, aku akan membantu keuangan perusahaan ayahmu.”

Fiolin terkejut. Tanpa menunggu persetujuan dari Fiolin, lelaki itu berjalan meninggalkannya. Fiolin kesal setengah mati. Berbagai umpatan ia berikan kepada si lelaki. Tetapi bukan Fiolin namanya kalau langsung menyerah begitu saja.

Setelah kejadian itu, Fiolin mencari tahu semua tentang si lelaki. Ternyata lekaki itu bernama Revano. Lulusan Ekonomi UI. Usianya 24 tahun. Merupakan salah satu pengusaha termuda di Indonesia. Tetapi yang mengejutkan Fiolin, tidak ada satu berita pun yang mengatakan kalau Revan pernah dekat dengan perempuan. Meski kurang yakin, Fiolin tetap berharap diberi kesempatan dari Revan.

***

“Revan,“ panggil Fiolin. Fiolin tengah berada di kantornya Revan.

Revan tampak terkejut. “Ngapain ke sini? Bukannya perusahaan ayahmu telah membaik?” cibir Revan.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

“Ok, sekarang kamu ingin apa?“ tanya Revan denang gayanya yang cool.

“Walau kamu tak suka padaku, aku akan tetap menyukaimu. Walau nantinya sudah ada wanita lain di hatimu, aku tetap menyukaimu.”

Revan tersenyum sinis. “Dasar anak kecil. Baru belajar ngegombal ya?”

“Terserah kamu nganggap aku apa. Jujur, aku capek, Van. Bayangmu selalu menghantuiku. Aku juga sudah berusaha melupakanmu. Tapi tetap saja nggak bisa. Terserah kamu bilang aku cewek apa. Yang jelas aku tak ingin rasa ini terpendam. Aku benar-benar sudah jatuh cinta sama kamu.“ Butiran air mata mengalir lembut dari sudut mata Fiolin.

“Malam ini aku akan berangkat ke Prancis. Aku kuliah di sana. Empat tahun lagi, aku ingin kita bertemu. Di cafe tempat pertama kali kita bertemu. Akan kubuktikan kalau aku bukan anak kecil lagi. Akan kubuktikan kalau rasa ini tidak akan pernah pupus.“

***
Fiolin pulang dari Prancis dengan membawa segudang prestasi. Bahkan namanya sangat melejit di sana sebagai pemain biola dari Asia. Ya, di sana dia mengambil jurusan musik.

Empat tahun sudah berlalu. Dan kini Fiolin selalu setia menanti Revan di café itu. Namun hingga berbulan-bulan ia tak jua datang.

“Lagi-lagi melamun. Dasar musisi mellow,” Ben datang sembari membawa cappucino untuk Fiolin.

Fiolin tak menyahut.

“Pasti masih mikirin si lelaki sok cool itu. Iya kan? Ayolah Fiolin, lupakan dia. Kau sudah terlalu lama menunggu. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik darinya. Dan harusnya kamu sudah mendapatkan itu di Prancis.”

Fiolin mendengus kesal.

“Mending kau nyanyi lagi. Aku tak suka melihatmu terus-terusan melamun. Aku takut kau nantinya jadi gila. Masa cakep-cakep gila,“

Fiolin terkikik. “Kau ada-ada aja. Ok deh. Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu.“ Ucap Fiolin pelan.

“Kalau bisa pakai biola aja ya. Aku kangen mendengar permainan biolamu,“

“Ye…. Kalau mau request bayar dong.“

Kali ini Fiolin menyanyikan lagu Rindu dari Agnes Monica. Yang spesial, dia memadukannya dengan permainan biolanya yang luar biasa menyayat hati.

selama aku mencari
selama aku menanti
bayang-bayangmu dibatas senja
matahari membakar rinduku
ku melayang terbang tinggi

tuk slalu mega-mega
menembus dinding waktu
kuterbaring dan pejamkan mata
dalam hati kupangil namamu
semoga saja kau dengar dan merasakan

getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisaikan kata-kata ku cinta padamu

peluhku berjatuhan
menikmati sentuhan
perasaan yang teramat dalam
telah kau bawa segala yang kupunya
segala yang kupunya ouoooo

Setelah menyanyikan lagu itu, tiba-tiba lampu mati. Fiolin panik luar biasa. Pasalnya dia fobia kegelapan. Hampir saja ia menangis. Tiba-tiba seseorang datang mendekat dan membisikkan sesuatu padanya.

“Jangan menangis. Jangan takut. Aku di sini menemanimu.”

Hati Fiolin berdesir hebat. Siapa yang membisikkan kata-kata itu? Suaranya seperti suara seseorang yang telah lama ia rindukan. Ketika Fiolin hendak menyentuhnya, sosok itu telah lenyap.

Beberapa menit kemudian lampu kembali hidup. Fiolin berlari ke sana kemari mencari sosok misterius itu. Semua lingkungan cafe telah ia telusuri. Namun tak jua ia temukan. Nafasnya kini terengah-engah.

“Kau mencariku?” tanya seseorang yang sudah berada di belakang Fiolin. Fiolin berbalik.

“Revan….” Air mata Fiolin tumpah. Segera ia menghambur kepelukan Revan. “Aku merindukanmu.” Ucap Fiolin terisak.

Revan tersenyum. Tampak bahagia. Usianya hampir kepala tiga, namun tidak melunturkan parasnya yang rupawan.

“Apa kamu masih meragukan cintaku?“ tanya Fiolin.

Revan hanya berdehem.

“Revan…“

“Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian terlalu lama. Kau bahkan masih takut pada kegelapan.“

Fiolin tersenyum sumringah.

“Kamu kok tahu?“

“Aku bahkan mengetahui semua tentangmu.“

“Lantas mengapa kamu baru datang sekarang? Aku sudah lama menantimu, Revan,“ Fiolin kembali terisak.

“Maafkan aku. Kini kamu sangat cantik. Melebihi perkiraanku. Apa masih pantas bersanding denganku?“

“Kamu dengar nada-nada yang aku mainkan? Aku bahkan tidak pernah bermain-main dengan perasaanku.“

“Maafkan aku, Fio. Sesungguhnya aku sangat merindukanmu. Gadis lugu yang bisa mencuri hatiku. Aku mencintaimu.“

Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Fiolin.


[1] Satu Jam Saja, Audy.

[2] Pada Pandangan Pertama, Butterfly.

4 thoughts on “UNTAIAN NADA FIOLIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s