Review : Sekuntum Naysila


23941-sekuntum_naysila

Penulis             : M. Budi Anggoro

Penerbit           : Najah – Diva Press

Cetakan           : I, Januari 2012

Tebal               : 410 halaman

ISBN               : 978 – 602 – 978 – 964 – 5

Sinopsis:

Naysila, gadis cantik yang teramat miskin, mempunyai cita-cita mulia: menjadi guru sekolah atau bahkan dosen perguruan tinggi. Dan, untuk mewujudkan harapannya itu, ia rela bekerja apa saja yang penting halal demi membiayai sendiri kuliahnya.

Pekerjaan-pekerjaan serabutan pun ia jalani, mulai dari membantu pekerjaan di rumah-rumah orang, mencucikan baju tetangga, hingga membantu ibunya berjualan gorengan di pasr. Sampai akhirnya, salah satu pelanggan cucian bajunya, yaitu Galih, mengajaknya berkerja di konter HP-nya.

Ada rasa cinta yang bersemayam di hati Naysila untuk Galih, pria yang baik hati, lembut, dewasa, dan sopan santun itu. Pun begitu dengan Galih. Hanya saja pria itu tidak berani untuk mengungkapkan cintanya. Namun di saat bersamaan, sahabat Galih, seorang playboy yakni Gilang malah dengan semangat menggebu-gebu dan berbagai cara berusaha untuk mendapatkan cinta dari Naysila.

*

“Benarkah masih ada cinta suci di dunia ini?”

Sebuah kisah yang menyentuh hati. Tidak melulu tentang kisah cintanya yang berlandaskan Islam, namun bagaimana perjuangan tokoh utama, Naysila yang bekerja banting tulang demi cita-cita, kuliah, dan untuk keluarganya sangat patut untuk diacungi jempol. Penuturan kisah dengan kata-kata yang mudah dimengerti. Dan akan ditemukan banyak hikmah dikala kita membaca buku ini.

“Sesungguhnya, cinta kita kepada Allah akan membuat kita senantiasa mencintai pasangan hidup kita dengan segenap jiwa raga. Akan tetapi, sebaliknya, cinta kita kepada pasangan hidup kita semata, sesungguhnya belum tentu akan membuat kita mencintai Allah.”

Kita sebagai pembaca dibukakan pikirannya kalau kita bisa menggapai impian bila kita selalu menanam sikap optimis di dalam hati dan pikiran. Selalu berdoa untuk apa yang diinginkan. Pun berjuang akan hal yang hendak dicapai. Namun jangan lupa kalau kita manusia juga tidak bisa berharap besar dan ketika harapan itu tidak tercapai, kita marah kepada Sang Pencipta. Sikap ikhlas, sabar, tawakkal, harus selalu ditanamkan pada diri masing-masing individu. Selalu bersyukur atas pencapaian yang didapat dari hari ke hari.

Pak M.Budi Anggoro benar-benar piawai dalam memainkan kata-kata. Namun menurut saya pribadi, ada beberapa hal yang patut direvisi. Yakni bagaimana si tokoh utama kalau berdialog yang selalu berbuhungan dengan agama, dialognya sangat panjang lebar. Bisa sampai satu halaman dan itu membuat pembaca jengah. Belum lagi si tokoh utama yang berusia dua puluh dua tahun namun berwawasan tinggi dan tahu banyak tentang ilmu agama, namun saya tidak menemukan dia pernah menolak yang namanya pacaran terjadi kepada orang-orang di sekitarnya. Contohnya kepada Cindy.

Keseluruhan, buku ini sangat patut untuk dibaca. Apalagi penulisnya juga sudah lama malang melintang di dunia kepenulisan. So, grab it past in book store, guys!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s