Harian Analisa Medan. Peluk. 12 Januari 2014


PELUK
Eva Riyanty Lubis

Malam itu kamu hadir di hadapanku. Seperti biasa, kamu selalu tampil dengan sangat cantik. Gaun merah polos selutut dipadukan dengan cardigan hitam. Melekat dengan pas dibadanmu yang langsing. Lalu high hells dengan panjang kira-kira 15 sentimeter terpasang di kakimu yang jenjang. Rambut lurus panjangmu kamu biarkan terurai indah. Sesekali kuliat angin merecoki rambutmu. Tapi itu membuatmu semakin cantik di mataku.
“Bud,” ucapmu pelan. Tapi bisa kusadari ada gores luka di sudut matamu. Nada suaramu juga menyiratkan kecemasan mendalam. Ah, aku tidak pernah bisa melupakan tatapan mata itu. Kedua bola mata terindah yang pernah kutemi.
“Ada apa, Nisa? Untuk apa kamu datang ke rumahku?” Tanyaku karena kehadirannya yang tiba-tiba. Ini kali pertama kami bertemu sejak putus hubungan lima tahun yang lalu. Aku pikir aku telah salah menerima pesan beberapa jam yang lalu.
Kamu menggelengkan kepalamu. Tiba-tiba saja ada kristal bening di kedua bola matamu. Aku tercekat. Kaget. Apa ada sesuatu yang menyakitimu, Nisa? Aku tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Bahkan hingga kamu pergi meninggalkanku.
Tapi, angin apa yang telah membawamu datang ke rumah kecilku ini? Bagaimana kamu tahu kalau aku ada di sini? Dan tidakkah kamu takut ketahuan olehnya? Ya, dia. Seseorang yang telah merebutmu dariku. Ah, entahlah. Mungkin tidak pantas aku mengatakan atau sekedar membayangkan perihal tersebut.
“Boleh aku masuk ke dalam rumahmu?” Tanyamu tidak menjawab pertanyaanku.
Tiba-tiba saja aku tersadar. Kami berdua masih berdiri di teras rumahku. “Oh iya. Silahkan masuk.” Ucapku masih dengan nada pelan.
Kamu melangkahkan kakimu dengan langkah bak model. Sangat anggun. Menyita seluruh perhatianku. Seperti masa-masa dulu. Bayangan masa lalu tiba-tiba menghantui pikiranku.
*
“Kamu yang namanya Budi?”
Aku mendongakkan wajah kemudian menemukan seorang cewek cantik telah berdiri cukup dekat denganku. Aku sampai keringat dingin dibuatnya. Kaca mataku yang seharusnya dalam kondisi pas di hidung, tiba-tiba saja menjadi longgar sehingga aku harus berulang kali membetulkan letaknya.
Kamu tersenyum. Sangat manis. Hatiku sampai bergetar di buatnya. Aku tahu siapa kamu. Celia Khoirunnisa. Mahasiswi jurusan komunikasi. Idola mahasiswa di kampus. Selain aktif di bidang sosial, kamu juga jago olahraga, enerjik dan juga ramah. Dan sudah pasti sangat cantik.
“Budi….” Kamu memandangku lebih dekat. Berusaha menyadarkanku yang masih melongo dengan mimik ndesonya.
Aku terkesiap. Menjauhkan wajahku darimu. Hal itu membuatmu tertawa kecil. Ah, cantik sekali.
“A… a… ada apa?” Tanyaku tergugu. Akhirnya bisa juga keluar kalimat kecil itu dari mulutku. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menetralisir keadaan. Jujur, aku tidak ingin degupan jantungku yang kencang menimbulkan keributan di dalam perpustakaan ini.
“Aku dengar-dengar kamu itu seorang penulis ya?” Tanyamu dengan senyum ramah. Cowok mana yang tidak bergetar hatinya di berikan senyum manis seperti itu?
Aku tidak menjawab. Hanya memberikan anggukan ringan.
“Wow…. Great! Kamu bisa bantu aku nggak, Bud? Pleaseee….” Kamu memelas dengan wajah penuh harap.
“Bantu a… apa, Nisa?” Tanyaku kemudian.
“Bantu aku buat pidato dong. Aku butuh nih. Bisa kan, Bud?”
Melihat wajahnya yang memelas, aku tak kuasa menolak. Lalu kuanggukkan kepalaku seraya mencoba memberikan sebuah senyuman tipis padanya. Dia tersenyum lebar dan berteriak kegirangan. Ibu perpustakaan sampai melerai kami. Tapi aku sangat bahagia. Bahagia melihat dia bahagia. Rasa-rasanya pada hari itu aku adalah cowok paling beruntung di dunia. Tuhan memang baik. Mengabulkan keinganku untuk bisa melihatmu secara dekat. Aih, ini sudah kuidam-idamkan sejak lama. Aku… aku mengagumimu.
Sejak pertemuan pertama kami, aku dan dia mulai melakukan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Ada saja yang kami bahas. Aku juga ikut dalam kegiatan sosialnya. Dan dia juga ikut dalam seminar-seminar kepenulisan yang selalu kuikuti. Bersama Nisa, aku yang pendiam menjadi banyak bicara dan tersenyum.
Nisa menularkan energy positif dalam hidupku. Tidak bertemu sehari dengan dia saja rasa-rasanya hariku menjadi hambar. Kami berjanji menjadi sahabat selamanya. Nisa yang mengatakan itu. Padahal sungguh dalam hatiku, aku ingin memilikinya. Ah, pantaskah aku? Aku hanya bisa tersenyum membayangkan itu.
Sudah menjadi sahabatnya saja merupakan anugrah terindah dalam hidupku.
“Kamu siapanya Nisa, hah? Asal kamu tahu ya. Saya cowoknya! Jangan dekati dia kalau kamu masih ingin hidup bebas di kampus ini!”
Sandi membentakku kala aku tengah asyik dengan buku-buku tekhnik di tanganku. Semua penghuni perpustakaan memandang kami dengan penasaran. Ibu Mila sampai memelototkan matanya padaku. Ah nyaliku seketika menciut. Aku tidak ada apa-apanya dibanding cowok itu. Dia tampan dan kaya raya. Sedang aku, hanya seorang manusia yang biasa-biasa saja.
Sejak saat itu aku mulai menjauhi Nisa. Ah, sakit sekali perasaanku melakukan hal tersebut. Harusnya aku lebih dewasa dan bisa melawan Sandi. Bukankah kami memiliki hak dan dan kewajiban yang sama di kampus ini? Ya, seharusnya aku tidak takut padanya. Pun kepada orang lain. Tapi bisakah aku? Kalau bukan karena Nisa, mungkin aku masih menjadi mahasiswa yang kehadirannya tidak pernah dinggap.
Tiba-tiba kalimat Nisa terngiang di benakku.
“Apa sih yang kamu takutkan, Bud? Kenapa harus jadi orang pendiam? Kamu boleh saja nulis semua apa yang ada di dalam pikiranmu, tapi bukankah akan lebih terasa lega kalau kamu mengungkapkannya secara langsung? Ada hal-hal yang lebih baik diungkapkan langsung ketimbang ditulis lho kalau menurut aku.”
Aku hanya tersenyum malu mendengar ucapan Nisa kala itu. Dan detik itu juga aku berjanji untuk mulai memberanikan diri buka suara. Aku ingin kehadiranku di kampus dirasakan oleh mahasiswa lain. Jujur, sendiri itu sebenarnya tidak pernah mengasikkan.
Beberapa hari setelah Sandi mengancamku agar tidak berhubungan dengan Nisa, gadis cantik itu malah muncul di teras rumahku.
“Kenapa ngejauh dari aku sih, Bud? Aku ada salah sama kamu? Aku telpon nggak di angkat. Di sms apa lagi. Aku cek di kelas kamu nggak pernah ada. Kamu ada masalah?” Nisa memberiku pertanyaan bertubi-tubi. Dari sudut hatiku aku merasa kalau dia benar-benar perhatian padaku. Dan aku senang akan hal itu.
Aku menggelengkan kepala seraya memberikan senyum tipis padanya.
“Ih kamu gitu banget sama aku. Kita kan sahabatan, masa kamu nggak mau jujur sama aku, Bud? Atau perlu aku tanya sama ibu kamu?”
“Eh eh jangan. Ibu lagi masak di dapur. Jangan di ganggu.”
“Ya udah! Makanya cerita.”
“Nggak ada apa-apa, Nisa.”
“Bohong!”
“Suer!”
“Sandi bilang apa sama kamu?”
Brrr…. Tubuhku seperti disiram dengan air dingin. Kenapa Nisa bisa tahu?
“Udah aku bilang. Aku ini sahabat kamu meski baru beberapa bulan. Jadi aku nggak suka kalau kamu diemin aku. Aku bilangin ya Bud. Sandi itu memang pacar aku. Tapi aku lebih percaya kamu dibanding dia. Oke! Ingat itu. Sahabat segala-galanya bagi aku. Soalnya dapet sahabat itu susah!”
Ya Tuhan…. Apa dia sadar dengan ucapannya? Ucapannya membuatku melayang tinggi. Jauh. Begitu bahagia. Semua penat di dadaku mendadak sirna. Hanya bahagia.
Setahun persahabatan kami, tiba-tiba Nisa meninggalkanku. Tidak ada kata perpisahan dari mulutnya. Yang aku tahu, dia sudah pergi. Meninggalkan aku, kampus, Sandi, dan teman-temannya. Dan tidak ada seorang pun yang mau memberitahukan keberadaannya padaku. Termasuk orang tuanya.
*
“Kamu pergi meninggalkan aku, Nisa. Kamu tahu bagaimana aku kala itu? hancur lebur!” ucapku jujur.
Kamu meneteskan air mata. Ya Tuhan, maafkan aku membuatnya seperti itu. ah, andai saja aku bisa menghapus air matanya.
“Aku tak pernah ingin meninggalkanmu, Bud.” Ucapmu di sela-sela tangisan.
“Tapi kamu melakukannya.” Ucapku dengan nada kecewa.
Karena kehilangan Nisa, aku sampai kehilangan akal. Gila. Aku masuk pusat rehabilitasi selama 2 tahun. Setelah masa rehabku pulih, aku tetap tidak bisa menghilangkan Nisa dari pikiranku.
“Bisakah kata maaf menyelesaikan masalah kita, Bud?” Tanyamu dengan nada bergetar.
Aku tidak menjawab. Hanya memandang bola matanya. Sekian lama aku menantikan pertemuan dengannya. Namun ketika kini dia ada dihadapanku, semua yang ingin kutanyakan mendadak hilang dari ingatanku.
“Bud percayalah. Kamu selalu ada di dalam hatiku. Kamu sahabat aku yang luar biasa. Kamu mengerti aku sepenuhnya.”
“Berhentilah berkata demikian, Nisa. Sadarkah kamu kalau kamu sudah memberikan harapan padaku sejak dulu?” Ucapku akhirnya.
Kamu menangis. Semakin deras. Hatiku kian teriris.
“Maaf, maafkan aku, Budi.” Ucapmu tulus.
“Sudahlah, Nisa. Semua sudah terjadi. Pulanglah. Nanti suamimu tahu keberadaanmu di sini, bisa muncul masalah besar.”
Aku pindah ke Medan setelah masa rehabku selesai. Kampung halaman nenekku. Tak kusangka kalau Nisa juga tinggal di sini. Pernah aku melihatnya di salah satu stasiun televisi swasta. Aku masih ragu apakah itu memang dia. Namun setelah kucari tahu, ternyata benar. Nisa juga tinggal di Medan.
Kamu menggelengkan kepalamu berkali-kali. Aku tak mengerti apa yang tengah ada di dalam pikiranmu.
“Boleh aku minta satu hal padamu, Budi?”
“Kamu sudah mendapatkan segalanya, Nisa. Suamimu orang yang paling dihormati di Kota ini. Kamu cantik dan punya bisnis. Apa lagi yang kamu inginkan dari aku?” Tanyaku dengan hati teriris.
“Bawa aku pergi, Bud. Aku sudah tidak kuat menjalani semuanya.” Ucapmu terisak. Aku memandangmu dengan kening berkerut.
“Jangan bodoh, Nisa! Kamu sudah memilih jalan hidupmu sendiri. Dan kamu bertanggung jawab untuk menuntaskannya sendirian!”
Kamu semakin terisak mendengar ucapanku. Lalu kamu datang mendekatiku. Bersimpuh di dahapanku.
“Hei, apa yang kamu lakukan?” tanyaku dengan nada lebih tinggi.
Kamu memandangku dengan wajah penuh air mata.
“Kalau begitu kabulkan satu keinginan terakhirku. Kumohon dengan sangat, Budi.”
Entah kenapa kalimat yang baru saja keluar dari bibir mungilnya membuat seluruh persendian tubuhku menjadi ngilu. Aku… aku sangat merindukannya.
“Katakan…” ucapku pelan.
“Peluk aku, kumohon….”
Air mataku luruh satu persatu. Aku memeluknya. Sesuai keinginannya. Sesuai keinginanku. Kami berdua meneteskan air mata. Deras. Aku… aku tak ingin melepaskannya. Aku tidak ingin kehilangan dia untuk yang kedua kalinya.
“Budi, percayalah. Aku mencintaimu dari dulu hingga sekarang.” Bisiknya sebelum melepaskan dekapanku darinya lalu berjalan cepat meninggalkan aku yang masih berdiri mematung.
*
Keesokan harinya aku mendapati berita yang membuat hatiku hancur berkeping-keping. Celia Khoirunnisa ditemukan tidak bernyawa di kediamannya. Diduga dia stress karena perlakukan suaminya yang selalu melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Nisa menikah dalam keadaan terpaksa karena ayahnya butuh uang. Lalu menjual Nisa pada suaminya yang tergolong kaya raya itu.
Tangisku pecah. Bayangan wajah ceria Nisa masih kurekam dengan rapi dalam memoriku. Lalu sedang apa dia kini?
Ku ambil pisau dan kupotong urat nadiku. Aku ingin bertemu Nisa secepatnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s