Selamat Hari Guru, Bu


Kepada seluruh guru yang hadir dalam hidupku. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa seperti sekarang.

Cara mengirim cerpen anak ke Harian Analisa Medan:

Tulisan berupa cerpen anak atau dongeng. Kira-kira 3 halaman A4. Kirim ke email: online@analisadaily.com

Honor: Rp 50.000

Masa tunggu: bisa cepat, bisa lama

Kalau cerpen anak saya ini masa tunggunya seminggu

Semoga beruntung ^_^

Selamat Hari Guru, Bu

Selamat Hari Guru, Bu

SELAMAT HARI GURU, BU

Eva Riyanty Lubis

            Halim pusing tujuh keliling. Bawaannya jadi pendiam dan uring-uringan. Dan itu sudah terjadi selama dua hari ini. Mama sampai bingung dikarenakan tingkahnya. Setiap mama tanya dia kenapa, dia malah melongos pergi dari hadapan mama.

            Karena cemas, mama pun menyuruh papa dan Ricko, abang Halim, untuk mencari tahu penyebab berubahnya sikap Halim. Sebab sehari-harinya Halim tergolong anak yang ceria dan tidak pernah betah di rumah. Apalagi kalau ada waktu luang. Dia pasti memilih bermain bersama teman-temannya di luar. Main sepeda, kelereng, dan sebagainya.

            Papa dan Ricko ternyata tidak berhasil membujuk Halim untuk berbicara. Mama semakin cemas dibuatnya.

            “Nanti dia pasti ngomong, Ma.” Papa membesarkan hati mama.

            “Mama nggak senang lihat Halim kaya gini, Pa,” tukas mama sedih.

            “Mama percaya saja, nanti dia pasti cerita. Sekarang kita biarkan dia sendiri dulu,” sahut papa akhirnya.

*

            Di sekolah, sikap Halim pun tetap seperti itu. Hendra teman sebangku Halim sebenarnya paham apa yang Halim pikirkan.

            “Nggak usah pusing, Lim. Kamu pasti bisa,” ucap Hendra dengan mata berbinar.

            “Ish, ini ulah kalian semua. Gara-gara ini aku jadi pusing tujuh keliling,” gerutu Halim kesal.

            “Haiyaa, masa gitu aja kamu nggak bisa hadapi? Kan kamu ketua kelas. Ini udah jadi tugasmu juga,” ledek Hendra.

            “Harusnya kalian yang merasakan apa yang aku rasakan,” rungut Halim.

            “Bismillah saja, kamu pasti bisa. Hayoo semangat, Halim!”

            Dan Halim hanya bisa geleng-geleng kepala.

*

            Malamnya, Halim berjalan ke ruang keluarga. Di dapatinya mama dan papa tengah menonton televisi bersama.

            “Eh, Halim, duduk sini, Nak,” ucap Mama dengan suara lembutnya.

            Halim menurut dan duduk tepat di samping Mama.

            “Ada apa, Sayang?” tanya Mama lagi.

            “Hmm…. Halim nggak tahu harus ngomong dari mana,”

            “Halim ada masalah apa sih, Sayang? Mama benar-benar penasaran lho. Mama nggak suka lihat Halim uring-uringan gitu. Kan Mama selalu bilang sama Halim, kalau ada masalah, cerita sama Mama. Nanti kita coba cari solusi bersama-sama. Ya kan, Pa?” mama memandang Papa. Papa pun menganggukkan kepala.

            “Halim disuruh teman-teman untuk ngucapin selamat hari guru buat Ibu wali kelas.”

            “Wali kelas Halim Bu Zahrona, kan? Apa susahnya, Sayang?” tanya Mama penuh tanda tanya.

            “Salahnya Halim lagi merasa bersalah sekaligus kesal sama Ibu itu, Ma. Beberapa hari yang lalu Halim kena hukum gara-gara lupa ngerjain peer,” jelas Halim dengan kening berkerut.

            Mama tersenyum. “Nak, kalau kamu nggak buat salah, Bu Zahrona juga pasti nggak bakalan hukum kamu. Nah, pas ngucapin selamat hari guru nanti, ungkapin deh rasa menyesalmu pada beliau. Mama yakin Halim pasti dimaafin,”

            “Tapi Halim malu, Ma. Mama kan tahu kalau Halim ketua kelas. Masa gara-gara lupa ngerjain peer aja Halim dihukum?”

            “Biar adil, Sayang. Kalau kamu nggak dihukum, bagaimana pula dengan temanmu yang lain? Udah, pokoknya kamu nggak perlu pusing. Minta maaf sama Bu Zahrona pas di hari Guru itu momen yang tepat. Gimana, bisa kan?”

            Halim pun mengangguk pelan. Mama tersenyum memandangi putra bungsunya tersebut.

*

            Halim berdiri di depan kelas. Ungkapan selamat hari Guru mengalir lancar di bibirnya. Bu Zahrona dan teman-teman sampai kagum dibuatnya.

            “Dan yang terakhir, Halim minta maaf pada Ibu karena Halim belum bisa menjadi murid yang baik. Halim bahkan sempat benci sama Ibu sebab Ibu ngasih hukuman ke Halim. Maafin Halim ya, Bu. Halim salah dan Halim udah sadar. Halim sayang sama Ibu. Tanpa Ibu, Halim mungkin bakalan jadi anak bodoh selamanya,” sahut Halim jujur.

            Bu Zahrona tersenyum penuh haru mendengar pengakuan Halim. Ketika Halim sudah duduk di kursinya, Bu Zahrona berkata, “Ibu juga minta maaf pada kalian. Ibu sayang kalian. Dan Ibu pengen kalian menjadi anak-anak cerdas yang nantinya bisa membanggakan orang tua, bahkan Negara Indonesia tercinta ini. Dan Halim, terima kasih pidato singkatnya yang penuh kejujuran.”

            Di kursinya, Halim tersenyum malu sekaligus senang. Ternyata, semua tidak seburuk yang dia pikirkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s