RIZKI MULIANI NASUTION, BAKAT BUKAN SEGALANYA


Rizki Muliani Nst

Oleh: Eva Riyanty Lubis

Rizki Muliani Nasution atau yang sering disapa dengan sebutan Kiki adalah perempuan yang lahir di Padangsidimpuan, 16 September 1992. Saat ini dia masih tercatat sebagai mahasiswa STKIP Tapanuli Selatan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Ketika ditanya kesibukan kuliah, dengan senyuman ramah dia menjawab, “Saya baru selesai sidang meja hijau dengan nilai kuantitatf 88,6. Alhamdulillah saya mendapat predikat terpuji atau cumlaude.”

            Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan. Kiki sendiri dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ayahnya telah dipanggil Yang Maha Kuasa ketika dia masih duduk di bangku SMA. Kiki memiliki dua orang adik perempuan dan yang paling kecil seorang lelaki. Yap, Kiki adalah anak pertama dari empat bersaudara.

            Ibunya membuka warung kecil-kecilan di rumah untuk membiayai kehidupan mereka. Sedang Kiki sendiri melakukan berbagai cara agar bisa menyelesaikan kuliahnya. Sebab dia tahu kalau dia tidak bisa berharap banyak dari ibunya. Mulai dari memberikan les privat kepada anak SD, SMP, dan SMA, berjualan pulsa, bergabung dengan berbagai macam MLM, dan menulis di media dia jalani dengan sepenuh hati.

            Disamping menunggu detik-detik penyematan gelar sarjana dan aktivitas pekerjaannya, Kiki juga aktif menggiatkan cinta menulis di kota Padangsidimpuan bersama “Sanggar Menulis Tapanuli Selatan” dan saat ini tengah menggodok Klub Bahasa Inggris.

            Sejak kecil Kiki sudah bercita-cita menjadi seorang guru yang professional. Guru yang benar-benar guru. Makanya sejak kuliah di STKIP Tapanuli Selatan jurusan Bahasa Inggris, tidak ada keraguan sedikit pun yang menghinggapi hatinya. Selama menjadi mahasiswa, tentu saja dia mengalami suka dan duka.

Sukanya, dia dapat berkumpul berbagi ilmu bersama teman-teman, bertukar pendapat dengan para dosen, serta merasakan kerja-sama dalam pembuatan film untuk mata kuliah drama, kerja kelompok yang menyita waktu, dan pengalaman saat PPL di SMK N 2 Padangsidimpuan. Baginya semua itu sangat menyenangkan dan tidak akan pernah terlupakan.

Bagian dukanya adalah saat dia harus kelimpungan mencari uang untuk membayar biaya kuliah. Tak jarang dia harus membayar denda karena terlambat dalam pembayaran. Namun dia yakin kalau itu semua merupakan cara Tuhan menunjukkan cinta padanya.

Sampai saat ini prestasi yang telah dia peroleh antara lain: Peringkat 6 Tes Uji Kemampuan Sekolah Dasar (SD) yang dilaksanakan di Perguruan Sariputra pada tahun 2004, Juara 2 Olimpiade Biologi tingkat Kota Padangsidimpuan pada tahun 2005, mewakili kabupaten Tapanuli Selatan untuk mengikuti Olimpiade tingkat Provinsi di kota Medan pada tahun 2005, sebagai wakil dari SMA Negeri 1 Padangsidimpuan lomba pidato Bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh kampus UMTS pada tahun 2008, Juara 1 lomba membaca puisi di STKIP Tapanuli Selatan antar Program Studi pada tahun 2012, Wakil untuk kompetisi debat Bahasa Inggris selama dua kali berturut-turut di Kopertis Wilayah I Medan pada tahun 2013 dan tahun 2014, dan menjadi salah satu mahasiswa dengan IPK tertinggi yakni 3,90. Selain itu, Kiki juga langganan juara satu dari SD hingga SMP.

Di samping prestasi akademik, Kiki juga berprestasi di bidang menulis. Tahun 2011 cerita pendeknya menjadi karya favorit Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) yang diadakan Rohto Mentholatum Golden Award. Dia juga menulis puisi dan cerita pendek di Koran Riau Hari Ini, Medan Bisnis, dan Harian Analisa Medan. Novel pertamanya yang berjudul Cinta untuk Ayah terbit oleh penerbit Zettu pada tahun 2013.

Kalau ditanya siapa orang yang paling berjasa dalam hidup Kiki sehingga bisa menjadi perempuan yang berprestasi seperti saat ini, dengan lantang dia menjawab, “Almarhum ayah.” Baginya, ayah adalah segalanya. Sejak dia kecil, ayahnya tidak pernah lelah untuk memberi motivasi agar Kiki bisa menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Minimal bagi kota Padangsidimpuan sendiri. Tempat Kiki lahir dan dibesarkan.

Ketika ditanya apa Kiki memiliki rencana untuk kembali melanjutkan pendidikan, dengan senyum mengembang dia menjawab, “Ya.” Namun dia belum tahu kapan itu akan terlaksana. Bagi Kiki, sudah berhasil menyelesaikan S1 saja sudah sebuah anugrah terindah dalam hidupnya. Tapi dia yakin dan percaya bahwa Allah akan memberi yang terbaik untuknya.

Perempuan yang berulang kali mendapat beasiswa ini berkata bahwa motto dia dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan ujian ini adalah, “I don’t have special talent, I believe, so I can. Jadi, bagi teman-teman mahasiswa lainnya, tidak ada yang tidak mungkin selama ada usaha. Thomas Alva Edison gagal 999 kali untuk menciptakan bola lampu, masa kita yang baru gagal 3 kali sudah menyerah? Seperti di bidang menulis. Walaupun saya tidak punya bakat mengarang, kalau saya terus berlatih menulis setiap kata setiap hari, saya pasti bisa,” ujarnya lantang.

Dimuat di harian Medan Bisnis.

Minggu, 14 Desember 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s