Kamu Tidak Sendiri


kamu tidak sendiri

Eva Riyanty Lubis

 

“Boleh berkenalan denganmu?” ucap seseorang mengangetkanku yang tengah menikmati hembusan angin sepoi-sepoi sembari memanjakan mata dengan pemandangan yang luar biasa indah di atas salah satu batu besar, di pantai Tanjung Tinggi, Belitung.

Aku menoleh. Menatap sang pemilik suara yang tengah menyunggingkan senyumnya padaku. Shit! Mengapa dia begitu menawan? Mengapa dia begitu mirip dengan aktor yang akhir-akhir ini kusukai aktingnya dalam film The Divergent? Siapa namanya? Hmmm…. Oh ya, Theo James! Pasangan Tris. Dan… tunggu! Bukankah namaku juga Tris? Jangan-jangan ini takdir? Ah, aku tak percaya dengan lelucon kolot itu.

Bola matanya yang hitam pekat menarikku seketika. Tak ingin berpaling barang beberapa detik. Dan parahnya lagi, tanganku ini gatal ingin membelai wajahnya yang dihiasi bulu-bulu tipis. Membuatnya semakin keren. Dan tentu saja seksi. Gila! Setan apa yang tengah merasukiku?

“Tris?” lelaki itu melambai-lambaikan jemarinya tepat di depan wajahku.

Dan untung saja aku kembali bersikap normal. Meski itu terjadi begitu lama. Dan dia sudah mendapati tingkahku yang konyol.

“Hmm…. Ya? Siapa kamu?” tanyaku ketus. Sembari mengalihkan pandangan darinya. Sialnya, jantungku malah bergemuruh hebat. Pemandangan alam indah di depan mata tidak bisa menghapus pesonanya begitu saja.

“Saya, Theo. Sepupu Dinda. Dinda belum pernah cerita tentang saya padamu? Padahal dia sudah cerita banyak tentang kamu ke saya.”

Oh God. Dan namanya pun harus sama dengan aktor yang tengah kupikirkan itu. Ada apa dengan bumi ini? Kehabisan stok nama?

Dan Dinda, apa-apan dia? Seenaknya meninggalkan aku dan pergi dengan bule Amerika yang katanya mirip Brad Pitt itu. Dia ke sini untuk liburan atau cari gebetan? Jelas-jelas baru putus dengan Aria. Segampang itu untuk berpaling dan cari lelaki baru?

“Tris?” suara Theo kembali terdengar. Dan suaranya pun begitu merdu di telingaku. Tak kalah dengan penyanyi-penyanyi dalam dan luar negeri. Lama-lama aku bisa gila di sini. Ini nyata atau khalayan sih? Someone must help me!

*

Kamu percaya cinta pada pandangan pertama? Bagiku, itu hanya pemikiran anak remaja semata. Mana mungkin dari tatapan pertama langsung menghadirkan cinta?

Mari kukenalkan diriku padamu. Namaku Tris. Dan aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta, apalagi cinta pada pandangan pertama. Sehari-hari aku disibukkan dengan rutinitas sebagai seorang psikolog, mengasuh rubrik konsultasi di salah satu majalah ternama, dan sibuk ke sana-kemari sebagai pembicara dalam berbagai macam acara ofline dan online. Yang pasti, hidupku penuh dengan jadwal. Dan of course, aku menikmatinya. Sebab ini adalah mimpiku sejak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama.

“Tris, kita jalan-jalan ke Belitung yuk. Kita udah lama banget nggak jalan-jalan bareng,” tukas Dinda dengan wajah memelas. Dia merupakan sahabatku satu-satunya. Berprofesi sebagai seorang dosen muda, namun tingkah lakunya di depanku tak pernah menunjukkan kalau dia adalah seorang pengajar.

“Kerjaanku banyak, Nda. Nggak sempatlah buat jalan-jalan,” elakku. Memang sejak 2014 ini, kita berdua belum pernah jalan-jalan ke luar kota. Aku selalu memiliki berbagai macam alasan untuk menolak keinginan sahabat imutku itu. Padahal aku tahu kalau Dinda adalah pencinta jalan-jalan sejati. Sayangnya, dia tidak pernah berani untuk bepergian seorang diri. Dan aku adalah harapan baginya untuk menggapai keinginannya tersebut.

“Tris, aku benar-benar bisa gila! Udah sepuluh bulan dan kita masih sibuk dengan pekerjaan yang nggak ada habisnya. Aku butuh udara segar! Ayolah. Ini nggak bakalan ngerugiin kamu kok. Nggak sampai seminggu. Suer! Aku pengen nikmati suasana Belitung. Masa kita belum pernah ke sana? Di Negara sendiri tahu nggak sih! Please,” rengek Dinda tak menyerah. Membuatku benar-benar pusing tujuh keliling.

*

“Theo nyamperin kamu kan, Tris? Aku lho yang nyuruh dia buat nemani kamu.” Dinda menunjukkan deretan giginya yang rapi.

“Besok aku pulang. Aku nggak suka di sini,” sahutku pelan dengan intonasi acuh tak acuh.

Dinda mengerutkan keningnya. “Lho, kenapa? Apa yang salah? Bukankah tempat ini keren? Bagus untuk membuat pikiran kembali fresh?”

“Kamu yang bagus! Seenaknya ninggalin aku buat dekat-dekat sama bule. Cih!”

“Kamu cemburu?”

Aku memandang Dinda tak percaya. “Cemburu? Untuk apa, Nda?”

“Karena kamu nggak pernah punya pasangan. Kamu nggak pernah ngalamin yang namanya jatuh cinta!” ucap Dinda keras.

“Tahu apa kamu tentang cinta, hah? Cinta itu apa, Dinda? Gonta-ganti pasangan tak jelas? Seperti yang kamu alami? Nyadar dong, Nda. Kamu ini dosen. Dan tingkahmu itu tidak pernah berubah!” balasku marah.

“Dosen juga berhak untuk jatuh cinta, Tris. Dan aku cukup tahu bagaimana menjaga diri kalau itu yang kamu maksud. Kamu juga psikologi yang hanya ngandalin teori. Kamu ngasih solusi ini itu, padahal kenyataannya kamu tidak tahu apa-apa!”

Emosiku sudah sampai puncak. Sampai aku sendiri tidak tahu harus berkata apa pada Dinda. Perempuan satu-satunya yang telah kuanggap sebagai sahabat, teman, dan saudara.

“Dunia ini tidak seburuk yang kamu pikirkan, Trissa. Kamu berhak untuk bahagia. Dan bahagia itu harus kamu yang mencarinya. Buka mata, muka telinga, dan buka hatimu. Nggak bakalan ada orang yang tahu tentang isi hatimu yang terdalam kalau kamu sendiri menguncinya sedemikian rapat. Kamu harus berbagi. Percaya sama orang!” tambah Dinda.

Aku hanya mendengarnya sekilas. Lalu kutinggalkan dia di dalam kamar hotel minimalis tersebut. Kudengar Dinda terisak. Aku sudah tidak peduli. Pun dia sendiri yang tidak mempedulikan hatiku. Sakit.

Pantai memang tempat yang indah untuk menenangkan diri. Meski aku jarang pergi ke pantai, aku tahu kalau tempat ini memang mengangumkan. Malam yang dingin, dan untung saja pantai ini tidak begitu ramai dikunjungi pengunjung. Maklum saja, kami mengambil waktu liburan dikala orang-orang masih sibuk dengan aktivitas pekerjaannya masing-masing.

Aku duduk di atas pasirnya yang lembut. Memandang ombak-ombak kecil yang saling kejar-mengejar. Ah, inginku menjamahnya. Namun suhu udara yang tergolong dingin membuatku enggan beranjak.

“Kamu dan Dinda bertengkar?”

Suara itu lagi. Datang dengan sesuka hatinya. Aku tidak menoleh. Namun kujawab juga pertanyaannya. “Sesuatu hal yang kadang kala terjadi di kehidupan kami. Kenapa kamu bisa tahu?” tanyaku menyelidik sembari mencoba menatap bola matanya. Sayang, malam membuatnya tidak begitu tampak dengan jelas. Aku hanya bisa menerka-nerka jawaban yang dia utarakan. Jujur, atau bohong.

“Saya pemiliki hotel tempat kalian menginap.”

“Oh, I see,” sahutku terkekeh.

“Boleh saya berkata jujur, Trissa?”

“Yap, kenapa tidak?” sahutku sembari mengerdikkan bahu.

“Kamu benci pada cinta. Cinta pada lawan jenis. Koreksi jika saya salah.”

Aku terkekeh. “Kamu juga merangkap sebagai psikolog?” tanyaku ingin tahu.

Theo menggelengkan kepalanya. “Itu pekerjaanmu. Saya hanya sibuk mengurus hotel.”

“Baik Theo, apa lagi yang kamu ketahui tentang aku? Kamu benar-benar mencari tahu semua tentang aku pada Dinda? Atau dia yang dengan entengnya menceritakan kehidupanku padamu?”

Theo tersenyum. Lagi-lagi dengan senyuman mautnya itu. “Saya hanya ingin mengatakan padamu, kalau kamu masih beruntung bisa hidup seperti sekarang ini. Memiliki pekerjaan, sahabat, atau apapun yang sudah berhasil kamu raih. Namun jangan buat alasan perpisahan kedua orang tuamu di masa lalu sebagai alasanmu memandang remeh pada cinta, Trissa. Kamu bukan satu-satunya orang yang mengalami hal seperti ini. Orang lain bisa bangkit dari keterpurukan. Kenapa kamu yang seorang psikolog tidak bisa melakukan hal yang sama?”

*

Kupeluk Dinda, erat. Kami menangis bersama. Saling meminta maaf atas kelakuan yang terkadang begitu kekanak-kanakan.

“Jangan mengatakan apapun lagi pada Theo,” pintaku lirih.

“Theo? Kamu berjumpa lagi dengannya? Tadi?” Dinda tampak kegirangan.

Sedang aku menganggukkan kepala.

“Dia sepupuku yang sangat tergila-gila padamu. Dia mencari tahu semua tentangmu, Tris. Maaf aku belum sempat cerita. Dan hotel ini sebenarnya…”

“Aku tahu, Nda. Dan aku ingin bilang sama kamu. Mungkin, aku telah suka pada pandangan pertama dengannya….”

 

Medan Bisnis. Minggu, 26 Januari 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s