Cernak – Bersahabat dengan Nouval (Radar Bojonegoro)


bersahabat dengan nouval

(Radar Bojonegoro. Minggu, 08 Februari 2015)
Eva Riyanty Lubis

“Jadi nama kamu siapa, Nak?” tanya Bu Muslimah dengan intonasinya yang lemah lembut.
“Nouval Ricardo, Bu,” sahut anak berusia sepuluh tahun itu tegas.
Nouval Ricardo merupakan putra satu-satunya dari Bapak Abraham dan Ibu Mayang. Awalnya mereka tinggal di Jakarta. Namun karena usaha mereka di Jakarta mengalami kebangkrutan, dengan terpaksa keluaraga itu memutuskan untuk pulang ke kampung halaman yakni kota Medan.
“Oke Nouval, silahkan duduk di bangku yang kosong,” suruh Bu Muslimah seraya menunjukkan bangku kosong kepadanya.
Nouval menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Ibu.”
“Noval, kenalin. Aku Jamilah,” ucap gadis berbadan kecil di samping tempat duduk Nouval seraya menyodorkan jemarinya.
“Nouval,” jawab Nouval menerima salaman dari Jamilah.
“Senang punya teman baru,” Jamilah tersenyum sangat manis.
Nouval mengangguk kecil. Sebenenarnya dia tidak suka berbasa-basi. Bukan berarti dia tidak suka berteman. Dia hanya sedikit lebih tertutup dibanding siswa lain.
Ketika pelajaran berlangsung dan Ibu Muslimah memberikan beberapa soal, dengan mudahnya Nouval menjawab semua soal itu. Seisi kelas berdecak kagum. Sementara Nouval sendiri hanya bersikap biasa-biasa saja.
Gimana dia tidak bisa menjawab semua soal itu? Di Jakarta pelajaran itu sudah dia pelajari sebelumnya.
Dalam sebulan nama Nouval menjadi terkenal di sekolah barunya. Kecerdasannya membuat banyak siswa iri. Nilai ulangannya juga yang paling tinggi.
Berta tidak suka pada Nouval. Katanya Nouval sombong dan pelit. Tidak mau memberi jawaban kala ujian berlangsung. Tidak seperti dia. Maklum, Berta itu awalnya juara satu di kelas dan merupakan anak dari kepala sekolah. Jadi dia belum bisa terima ada siswa baru yang kepintarannya melebihi dia. Sebisa mungkin Berta menjelek-jelekkan nama Nouval agar teman-teman tidak suka padanya.
*
Suatu hari Nouval dan teman-teman yang lain hendak berangkat menuju rumah Budi. Dia, Jamilah, Ina, Tono dan Berta berkumpul di sekolah. Mereka hendak melakukan kerja kelompok.
“Nouval, kamu kok bisa pindah ke Medan sih? Bukannya di Jakarta lebih asyik?” tanya Tono dengan raut penasaran.
“Keluarga Nouval kan jatuh miskin,” ucap Berta tanpa rasa bersalah.
Nouval hanya diam. Tidak menggubris ucapan teman-temannya itu.
“Kalian jangan gitu dong sama Nouval. Nggak boleh berpikiran negatif,” Jamilah melerai.
“Ah, emang beneran kok. Udah sok pintar, sombong lagi.” Berta nggak mau kalah. Tapi Nouval tetap tidak membalas ucapan temannya itu. Berta memang sering mengejek Nouval. Namun tidak sekalipun Nouval melawan ucapan temannya itu.
Beberapa menit kemudian mereka berlima dicegat oleh tiga cowok berseragam SMA.
“Hei anak kecil. Bagiin duit kalian!” bentak cowok bertubuh paling kurus.
“Jangan melotot! Siniin duit kalian!” Ulang yang disampingnya kepada Nouval dan teman-teman.
Nouval sendiri masih bersikap biasa. Sedang teman-temannya yang lain ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh Nouval.
“Mau melawan ya anak kecil?” tanya yang satunya lagi dengan mimik muka menyeramkan. Dia hendak meraih Berta. Namun dengan sigap Nouval melayangkan tinjuannya.
Brukkk….
Satu cowok ambruk. Teman-teman Nouval berteriak. Beberapa detik kemudian warga bermunculan dan mengejar ketiga cowok SMA berandalan itu.
“Nak, kalian baik-baik aja kan?” tanya seorang Bapak paruh baya pada Nouval dan yang lainnya.
“Kami baik-baik aja, Pak,” jawab Nouval tegas.
“Besok-besok jangan lewat dari sini. Dari jalan raya saja. Di sini jalannya kecil. Anak-anak SMA kaya tadi sering melakukan aksinya.”
Nouval menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Budi. Tidak ada yang bersuara. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesampainya di rumah Budi, Berta mendekati Nouval.
“Maafin aku ya, Nouval. Aku udah jahat banget sama kamu. Meski aku jahat, kamu tetap nolong aku tadi. Maafin aku ya. Aku janji nggak bakalan ngata-ngataain kamu lagi,” sahut Berta dengan tulus.
Nouval tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Kamu mau nggak jadi sahabat aku?” tanya Berta seraya menyodorkan jemarinya.
“Mau dong. Lagian dari kemarin-kemarin kamu dan teman-teman yang lain sudah kuanggap sebagai sahabat aku,” ucap Nouval seraya membalas salaman dari Berta.
Berta tersenyum lebar. Kemudian dia berteriak kencang.
“Teman-teman…. Nouval sekarang sudah jadi sahabat aku lhoo….”
Semua yang melihat Nouval dan Berta tersenyum senang lalu ikutan bergabung dengan keduanya.
“Nouval kamu kok bisa karate sih? Kamu keren banget tadi,” tanya Jamilah penasaran.
“Waktu di Jakarta aku ikut kelas karate. Nanti aku ajarin kalian ya dasar-dasarnya. Kalian mau aku ajari?”
“Mauuu…” teriak mereka serempak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s