Cerpen ~ PERMINTAAN EMAK DAN BAPAK (Harian Analisa, 22 feb 2015)


permintaan emak dan bapak

permintaan emak dan bapak

Saya tidak pernah mengira kalau cerpen ini bakalan dimuat. Soalnya saya menuliskan kisah ini pas saya baru belajar menulis cerpen. Yap. Ini cerpen lama. Saya kirim ke Analisa pada April 2012. Kebayang nggak lamanya?😀 Memang sih, antriannya di Analisa itu puanjang banget. Makanya sempat kaget pas ini dimuat. “Lah, ini cerpen kapan?” Sempat gitu mikirnya.

Sok yang mau baca. Ini versi tulisan saya. :p

*

PERMINTAAN EMAK DAN BAPAK

Oleh: Eva Riyanty Lubis

Keluarga itu tengah duduk menis di ruang tamu. Mereka terdiri dari seorang lelaki paruh baya yang usianya sudah mendekati setengah abad, seorang wanita yang usianya juga tidak jauh beda dengan sang suami, dan empat anak perempuan yang jarak usianya hampir berdekatan. Tampak semuanya terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali kening kedua orang tua itu berkerut. Dan kadang kala mereka mendesah panjang.

“Sebenarnya apa yang hendak Bapak utarakan kepada kami sehingga kami harus dikumpulkan di ruangan ini?” tanya si sulung memecah kesunyian. Dan kini pandangan beralih kepadanya.

Beberapa menit kemudian lelaki itu buka suara. “Anita, pergilah ke Jakarta. Kamu harus kuliah di sana!”

Anita membelalakkan matanya. “Maksud Bapak? Aku tidak mau pergi dari kampung ini, Pak!” gadis itu menatap orang tuanya dengan pandangan tajam sembari menyergitkan kening.

“Kamu sudah tamat SMA. Bapak ingin kamu kuliah. Bapak ingin kamu jadi anak yang berhasil. Biarlah kami dan adik-adikmu yang tinggal di sini. Insya Allah dengan hasil kebun kita, Bapak yakin masih bisa membiayai sekolahmu. Bapak ingin yang terbaik untukmu.” Jelas lelaki itu tegas. Apa yang keluar dari mulutnya biasanya sudah ia pikirkan matang-matang. Dan sudah pasti kalimat tadi benar-benar telah ia pikirkan dengan serius.

Kampung mereka terletak di Sumatera Utara. Karena masih jauh dari dunia pendidikan, anak-anak remaja yang ada di sana tidak begitu memikirkan nasib pendidikan mereka. Apalagi kalau sudah tamat SMA. Bagi mereka itu sudah cukup. Dan kebanyakan anak gadis di sana setelah tamat SMA akan dikawinkan oleh orang tuanya dengan pria yang dianggap sudah mapan di kampung itu. Tak peduli tua ataupun muda.

Anita baru saja lulus SMA. Pernah ia berpikir untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya. Namun melihat kondisi perekonomian keluarganya yang kurang mendukung untuk kuliah di luar kota, ia jadi mengurungkan niatnya itu. Apalagi ia memiliki tiga orang adik yang masih membutuhkan banyak biaya. Sehingga ia memutuskan untuk membantu orang tuanya saja bekerja di kebun.

Dia masih bingung dengan keputusan kedua orang tuanya yang menyuruh ia harus kuliah. Malah tidak tanggung-tanggung, di Jakarta.

Setelah dijelaskan lebih detail, ternyata alasan orang tua Anita menyuruhnya untuk kuliah di Jakarta adalah supaya juragan cabai di kampung mereka mengurungkan niatnya untuk mempersunting Anita. Dan yang kedua ternyata keluarga Anita memiliki saudara yang tinggal di Jakarta.

“Tapi biaya di sana nggak murah, Bapak. Untuk biaya hidup saja mahal apalagi biaya kuliah,” ucap Anita sendu.

“Alhamdulillah Bapak dan Emak[1]mu sudah ada tabungan. Ini sudah kita rencanakan sejak kau tamat SMP. Kamu harus sukses, Nak! Kamu mau kan melaksanakan permintaan kami ini?”

Dan entah ada angin apa, Anita dengan segera mengangguk pelan.

Anita tidak pernah menyangka bahwa keputusannya akan mengubah hidupnya secara tiba-tiba. Tanpa ada persiapan, mental dan niat ia harus berangkat menuju Jakarta. Tempat yang dulu pernah ia impikan untuk meraih cita-citanya. Dan kini malah orang tunya yang membangunkan kembali mimpi yang telah lama tertidur itu.

Namun sejujurnya saat itu ia lebih memilih untuk tidak pergi ke Jakarta. Bukan berarti ia setuju untuk menikah dengan Bang Jufri si juragan cabai. Tetapi ia sudah terlalu mencintai kedekatan dengan keluarganya. Dan baginya, kebahagiaan itu adalah segalanya. Tidak bisa dinilai dengan uang.

Keluarga mereka yang sederhana, rumah mungil yang masih berdindingkan kayu. Namun di antara rumah-rumah penduduk yang lain, rumah mereka sudah termasuk salah satu yang mewah. Ayahnya merupakan kepala desa di sana. Selain berkebun, ibunya juga membuka warung kelontong. Ketiga adiknya, Aisyah, Anisa, dan Adelina merupakan anak perempuan yang berbudi pekerti baik.

Anita dan ketiga adiknya sudah sangat akrab. Selain bersaudara, mereka juga bersahabat. Kedamaian yang timbul dikeluarga itulah sebenarnya yang membuat hati Anita kelu jika pergi meninggalkan mereka.

Di Jakarta, Anita memulai semuanya dari nol. Baginya, itu sangat menyakitkan. Apalagi rasa rindu kepada kedua orang tuanya kian membuncah. Sedang di Jakarta ia tidak bisa lagi bermanja-manja. Harus benar-benar mandiri.

“Anita, sehat, Nak?” tanya ibunya tatkala menelpon. Anita tersenyum. Suara yang yang sangat ia rindukan.

“Anita sehat, Mak. Di kampung bagaimana? Sehat juga kan? Tumben Emak nelpon. Ada sesuatu yang penting, Mak?”

“Semua sehat, Nak. Emak cuma mau bilang sesuatu. Si Jufri sudah masuk penjara. Ternyata selain jadi juragan cabai, iya juga pengedar ganja. Syukurlah kamu nggak nikah sama dia. Pokoknya baik-baik di sana ya, Nak.”

Anita seperti disambar petir. Ternyata ada hikmah dari kepergiannya ke Jakarta.

[1] Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s