Cerpen ~ Sahabat Itu


Cerpen ini sudah lama saya tulis. Tahun 2013 kalau nggak salah. Namun, saya kirim ke Harian Analisa Medan pada 03 Oktober 2014. Dan terbit pada 04 Maret 2015. Penantian selama 5 bulan🙂 Buat teman-teman yang baru mulai menulis, percayalah, menulis itu tidak instan. Tulis, kirim, lupakan. Begitu seterusnya. Yang pasti, semakin banyak tulisanmu, semakin banyak tulisan yang kamu sebar, percayalah, suatu hari kamu akan menuai hasil dari tulisan-tulisanmu itu.

sahabat itu

SAHABAT ITU

Eva Riyanty Lubis

“Pokoknya aku nggak terima!” Ucap Devi yang tiba-tiba sudah muncul di hadapan Amel. Waktu itu Amel lagi asyik sama novel yang baru beberapa hari lalu dia beli. Setiap istirahat sekolah tiba, Amel pasti membaca novel. Dia paling malas untuk pergi ke kantin seperti teman-temannya yang lain.

            “Loh ada apa sih, Dev? Datang kok malah marah-marah.” Jawab Amel dengan nada lemah lembutnya kemudian menutup novel yang sedari tadi ada di genggamannya.

            “Aku nggak terima Ricky sekelompok sama kamu!” Devi menunjukkan wajah kesal. Amel sendiri hanya tersenyum melihat raut wajah sahabatnya itu. Mereka berdua sudah bersahabat sejak SMP. Jadi Amel sudah tahu bagaimana sikap dan sifat Devi.

            Ricky merupakan siswa pindahan dari Jambi. Anaknya pintar, keren, tajir, dan mudah bergaul. Hal itu membuat dia menjadi terkenal di sekolah. Dan sudah pasti banyak siswi cewek yang suka padanya. Ada yang menunjukkan secara terang-terangan dan ada juga yang menyukainya dengan cara diam-diam.

            “Aku suka sama seseorang, Mel.” Ucap Devi suatu hari pada Amel. Wajahnya yang imut tiba-tiba saja memerah. Devi itu mudah suka sama seseorang. Namun hal buruknya dia juga mudah putus dari orang itu jika dia sudah berhasil mendapatkan cintanya.           Wajar juga sih banyak cowok yang suka padanya. Soalnya dia cantik, imut, ramah dan suka menolong.

            “Suka sama siapa? Memangnya Leo udah putus sama kamu?” Tanya Amel dengan kening berkerut. Setahu Amel, Devi benar-benar tergila-gila pada kakak kelas mereka yang bernama Leo. Butuh waktu yang lumayan lama untuk mendapatkan cinta cowok itu.

            “Aku kan kemarin udah cerita sama kamu, Mel. Dia itu nggak cocok sama aku. Masa baru jadian aja udah minta ini itu. Memangnya dia pikir aku cewek apaan?” Devi menggembungkan pipinya yang sedari awal sudah tembem.

            “Oh ya? Aku lupa.” Amel terkekeh.

            Amel sendiri tidak begitu perduli sama cowok. Dan sampai saat ini dia belum pernah berpacaran.

            “Ih kamu gitu sama sahabat sendiri.” Devi menunjukkan wajah sedih.

            “Iya deh, maaf. Jadi kamu suka sama siapa sekarang?” tanya Amel dengan wajah serius. Dia tahu kalau dia tidak menanggapi ucapan Devi dengan serius, gadis imut itu bakalan tidak mau ngomong dengannya.

            “Sini aku bisikin.”

            Devi pun membisikkan sesuatu pada Amel.

            “Hah? Serius kamu?”

            Devi menganggukkan kepalanya berkali-kali.

            “Ih Dev, dia itu cowok ngeselin. Pemberi harapan palsu. Kamu lihat sendiri kan kalau banyak cewek yang dekat dengannya tapi dia nggak pernah menggubris perasaan mereka?”

            “Aku nggak perduli. Pokoknya aku suka sama dia. Titik!”

            Amel menggelengkan kepalanya.

            “Terserah kamu deh! Kalau patah hati jangan ngadu ke aku!”

            “Jangan didoain dong patah hati. Emang siapa yang pengen patah hati? Pokoknya aku pengen dapatin cinta dia. Kamu setuju kan, Mel?” Tanya Devi dengan mata berbinar.

            “Terserah kamu deh!” Amel angkat tangan.

            “Nah, gitu baru sahabat aku.” Devi mengamitkan lengannya pada lengan Amel. “Aku traktirin makan di kantin ya. Kita makan nasi goreng. Makanan kesukaan kamu.”

            “Nggak usah, Dev.” Tolak Amel. Maklum dia masih pengen menamatkan novel terbarunya.

            “Jangan bilang kamu pengen baca novel lagi. Ayo dong Mel. Kamu itu jangan keseringan baca novel. Hidup ini nggak seindah dalam novel. Pokoknya ikut aku ke kantin!” Devi membawa Amel ke kantin. Meski dengan berat hati, mau tak mau Amel ikut juga melangkahkan kakinya ke kantin.

            “Ada Ricky, ada Ricky.” Ucap Devi antusias dengan nada pelan pada Amel.

            “Biasa aja, Devi. Lagian kita sekelas kok dengannya.” Jawab Amel malas.

            “Untung banget kita ke kantin.”

            “Hmmm….” Amel tidak menjawab. Hanya mengunyah makanannya dengan cepat.

            Setelah kejadian itu, Devi semakin semangat untuk menarik perhatian Ricky. Dia tidak perduli dengan cibiran teman-teman yang mengatakan kalau Devi kegatelan.

*

            “Devi, kan bukan aku yang minta Ricky untuk sekelompok denganku. Ibu guru yang milih. Lagian kenapa sih?” Tanya Amel dengan kening berkerut.

            “Aku itu suka sama dia, Mel. Kamu ngerti nggak sih?” Nada suara Devi mulai meninggi.

            “Dev, aku nggak suka sama Ricky. Harusnya kamu tahu itu. Aku nggak bakalan saingan denganmu. Santai dikit napa sih?” Amel mulai gusar. Lama-lama dia kesal dengan ulah Devi yang menurutnya sangat berlebihan.

            “Pokoknya kalau kamu ada apa-apa dengannya, aku nggak bakalan ngomong sama kamu lagi.”

            “Terserah deh!” Jawab Amel kemudian kembali dalam bacaaanya. Devi yang melihat ulah Amel jadi merasa kesal. Kemudian dengan hentakan kaki yang keras, dia berjalan menuju kantin. Tempat favoritnya kala istirahat tiba.

*

            Amel dan beberapa teman yang lain sedang berada di rumah Ricky. Mereka dipilih sebagai satu kelompok untuk menampilkan drama yang menjadi tugas Bahasa Inggris.

            “Jadi drama kita tentang apa? Cinderella, Putri tidur, Putri Salju atau apa?” Tanya Amel pada teman-temannya.

            “Cinderella sama Putri tidur sudah dipilih sama kelompok lain deh kayanya, Mel. Kita pilih Putri Salju saja.” Ucap Brenda.

            “Oke. Yang lain gimana? Setuju?” Tanya Amel pada teman-temannya.

            Semuanya pun setuju.

            “Sekarang penentuan pemain. Nanti aku yang nulis naskah drama. Tapi kalau bisa aku nggak usah ikut main ya.” Ucap Amel dengan senyum lebarnya. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

            Yang terjadi malah sebaliknya. Amel terpilih sebagai Putri Salju dan Ricky yang menjadi pangeran.

            “Jangan, aku nggak bisa!” Tolak Amel. Namun teman-temannya tidak perduli.

            “Kamu pasti bisa kok, Mel.” Ucap Ricky tiba-tiba dengan senyum manisnya.

*

            Penampilan drama pun tiba. Drama dari kelompok Amel terpilih sebagai drama yang paling bagus. Kontan saja Devi yang melihatnya merasa sebal.

            “Kamu keterlaluan!”

            “Maksudmu apa sih, Dev?” Tanya Amel yang bingung dengan sikap Devi.

            “Kamu mesra banget sama Ricky. Kamu pikir itu nggak nyakitin hati aku?” Mata Devi mulai berkaca-kaca.

            “Loh itu kan cuma dalam drama. Kami nggak ada apa-apa.” Jelas Amel.

            “Nggak! Kalian sengaja mengumbar kemesraan supaya aku emosi. Iya kan?” Nada suara Amel meninggi.

            “Kamu nggak percaya sama aku, Dev? Aku ini sahabatmu. Aku nggak bakalan jadian sama cowok yang kamu suka. Lagian kamu tahu kalau aku nggak suka sama dia.”

            “Kalian pelukan! Bukan hanya di depan aku. Tapi di depan semua teman-teman. Perasaanku sakit, Mel.”

            “Oke, oke. Aku minta maaf. Harusnya kamu ngungkapin perasaanmu sama Ricky. Biar kamu tahu jawaban darinya. Aku nggak suka kalau kamu nuduh yang aneh-aneh padaku.” Terang Amel.

            Dan keesokan harinya ketika jam pulang sekolah tiba, Devi pun menjumpai Ricky yang sedang duduk manis di sudut kelas sambil memainkan game di ponselnya. Ricky ikut ekskul basket yang latihan sejam setelah pulang sekolah, jadi dia tidak langsung pulang ke rumah.

            “Oh Devi. Kenapa?” Tanya Ricky yang menyadari kehadiran Devi di sampingnya.

            “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Boleh?”

            “Ya bolehlah. Kamu mau bilang apa sama aku, Dev?”

*

            Amel mengendarainya motor maticnya kesana kemari. Beberapa menit yang lalu orang tua Devi menanyakan keberadaan Devi yang hingga jam delapan malam belum juga pulang sekolah. Langsung saja Amel keluar rumah untuk mencari sahabatnya itu.

            “Kenapa ponselnya mati sih?” Rungut Amel kesal memandangi ponselnya.

            Amel memutuskan untuk mencari Devi di sekolah mereka. Rasa takut yang menyergap tubuhnya tak dia perdulikan. Dengan ditemani Pak Ujang, satpam sekolah, mereka menelusuri kelas untuk mencari Devi. Namun hasilnya nihil. Devi tidak ada di sana.

            Amel pun menghubungi nomer ponsel beberapa teman sekelasnya. Menanyakan keberadaan Devi pada mereka. Tetep saja hasilnya nihil.

            “Kemana sih kamu, Dev?” Ucap Amel dalam hati. Merasa khawatir akan keberadaan sahabatnya itu.

            Tiba-tiba Amel teringat dengan Ricky. Secepat kilat Amel menuju rumah cowok itu.

            “Loh Amel, ada apa malam-malam gini ke rumah aku? Harusnya kamu bilang kalau kamu mau datang, aku kan bisa jemput kamu. Ini udah jam sembilan. Nggak baik kalau cewek sendirian.” Jelas Ricky kemudian menyuruh Amel untuk duduk dulu di bangku yang tersedia di teras rumahnya.

            “Aku buru-buru, Ky. Aku pengen nanya sama kamu. Apa kamu ngeliat Devi sehabis pulang sekolah?”

*

            Ponsel Amel berbunyi. Sebuah pesan masuk.

            Amel, Devi sudah ketemu. Dia ada di rumah neneknya.

            Secepat kilat Amel berlari menuju tempat Devi berada. Dia tahu rumah nenek Devi karena mereka berdua sering bermain ke sana.

            “Dev, kamu kenapa sih?” Tanya Amel yang mendapati Devi meringkuk di sudut kamar.

            Bukannya menjawab, Devi malah menangis sesegukan.

            “Ricky nolak aku, Mel. Dia nolak aku.” Tangis Devi membanjir.

            “Tapi nggak harus gini juga. Kamu udah buat orang tuamu khawatir.”

            “Ricky suka sama kamu, Mel. Dia sukanya cuma sama kamu!” Teriak Devi tanpa menatap wajah Amel.

            Jantung Amel berdetak cepat. Tidak menyangka kalau Ricky suka padanya.

            “Dengar ya Dev, aku nggak perduli Ricky suka sama siapa. Meski dia suka padaku, aku nggak perduli. Aku nggak suka padanya dan aku tak ingin kehilangan sahabatku hanya gara-gara cowok! Dan satu lagi Dev, aku hanya menganggap Ricky sebagai teman. Seperti teman-teman cowok yang lain.” Ucap Amel lirih.

            Devi terharu mendengar kalimat Amel. Dia tidak menemukan kebohongan di kedua bola mata sahabatnya itu. Kemudian mereka berdua berangkulan dengan erat. Devi tak ingat lagi tentang emosinya pada Amel karena Ricky. Yang dia ingat saat ini, dia memiliki sahabat dengan hati luar biasa. Amel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Cerpen ~ Sahabat Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s