[PERCIKAN GADIS] – Nggak Tega


Alhamdulillah, senang banget pas dapat kabar kalau percikan saya dimuat [lagi] di Gadis😀 Kalau dulu, bakalan dapat konfirmasi dari pihak Gadisnya, kali ini nggak. Makanya saya kaget setengah ampun. Saya kirim tulisan ini awal Februari 2015. Terbitnya di edisi No. 8. 17-26 Maret 2015.

Yang pengen kirim Percikan atau cerpen ke Gadis, yuk beli dulu majalahnya. Di dalamnya dipaparkan ketentuan pengiriman naskah. Good luck🙂

***

Nggak Pede

percikan di sini

NGGAK PEDE

Eva Riyanty Lubis

            “Fril, pulang sekolah ini aku dan teman-teman mau nonton bareng di XXI. Kamu ikut nggak?” tanya Padma, teman sebangku Frily.

            Frily menggeleng-gelengkan kepalanya pelan beberapa kali.

            “Yakin?” tanya Padma lagi dengan kening berkerut.

            “Iya, Padma. Makasih sudah ajakin aku. Aku mau langsung pulang saja ke rumah,” jawab Frily sembari memberikan senyum tipisnya.

            “Ya udah deh kalau gitu. Sampai jumpa Senin ya, Fril. Hati-hati di jalan.”

            “Oke,” sahut Frily mantap.

            Padma sudah sering mengajak Frily untuk bergabung bersama teman-teman yang lain. Namun, Frily selalu menolak. Frily lebih suka duduk sendirian di bangkunya. Menyibukkan diri dengan buku-buku bacaan.

            Sebenarnya, Frily merupakan siswa pindahan dari Bandung. Ibunya memutuskan untuk membawanya pindah ke Jakarta agar bisa memulai hidup baru yang lebih baik. Frily sendiri saat ini duduk di kelas sebelas. Dan sudah sebulan ini dia menjadi siswa SMA Merah Putih.

*

            “Fril, kamu kenapa sih pendiam sekali? Kamu nggak suka ya sekolah di sini? Nggak mau temanan sama kami?” tanya Padma ketika jam istirahat tiba.

            “Nggak. Kamu kok ngomong kaya gitu?” tanya Frily heran.

            “Karena kamu nggak pernah mau bergaul dengan teman-teman di sini. Kamu benar-benar sangat pendiam. Sadar nggak sih Fril, selama kamu menjadi teman sekelas kami, kamu cuma ngomong agak sering sama aku doang?” tukas Padma dengan wajah serius.

            Frily tersenyum masam. “Maafin aku. Bukannya aku nggak mau berteman dengan kalian. Tapi aku nggak bisa,” sahut Frily yang kemudian menampilkan raut wajah sedih.

            Padma mengerutkan keningnya. “Nggak bisa kenapa?”

            “Karena aku nggak pede,” ujar Frily akhirnya mengakui.

            Padma terngaga mendengar ucapan teman sebangkunya itu. “Ya ampun Frily…. Kok bisa nggak pede sih? Beneran deh kamu harus mengubah sikapmu ini sebelum orang-orang berpikiran buruk tentangmu.”

            “Aku memang sudah menduga. Kemarin-kemarin pas Pak Sitompul ngasih soal dan nyuruh salah satu dari kita untuk menjawab di papan tulis, nggak ada yang acungkan jari. Padahal jelas-jelas aku lihat di bukumu, kamu bisa menjawab semua soal yang Bapak itu berikan. Fril, kamu harus pede,” tambah Padma geram.

            “A… a… aku berubah menjadi pendiam dan nggak pede sejak ibu dan ayahku sering bertengkar. Lalu beberapa bulan yang lalu mereka memutuskan untuk bercerai. Makanya ibu membawaku pindah dari Bandung ke Jakarta ini. Aku nggak tahu bagaimana memulai semuanya dari awal, Padma,” cerita Frily tiba-tiba dengan kristal bening yang hendak luruh.

            “Ya ampun, Fril. Maafkan aku. Harusnya aku tahu pasti ada penyebab kenapa sikapmu demikian,” jawab Padma merasa bersalah.

            Frily tersenyum samar. “Maaf aku jadi curhat sama kamu.”

            “Aku temanmu, Fril. Dan aku juga mau jadi sahabatmu,” kata Padma yang kemudian membawa Frily dalam pelukannya. “Kamu harus kuat dalam menjalani semuanya. Aku memang nggak bisa ngerasain apa yang kamu rasakan. Tapi paling tidak, jadilah Frily yang kuat dan tangguh. Tidak terpuruk pada keadaan.” Padma mengelus punggung Frily dengan penuh kelembutan.

            “Makasih, Padma. Kamu sangat baik padaku.”

*

            Sejak curhat pada Padma, Frily pun berniat dan berusaha untuk merubah sifatnya yang nggak pede. Sekarang, dia berjalan dengan penuh percaya diri. Memandang orang-orang tanpa kenal rasa takut. Senyumnya yang manis pun dia tunjukkan pada orang-orang sekitarnya.

            “Baru dua minggu tapi kamu sudah berubah. Aku senang melihat perubahanmu,” ucap Padma jujur ketika Frily sudah duduk manis di bangkunya.

            “Aku sadar kalau hidup cuma sekali, Padma. Dan aku nggak ingin suatu saat aku menyesali kehidupanku,” jawab Frily dengan senyuman manisnya. “Kamu tahu Padma, aku sangat bahagia punya teman sepertimu.”

            “Ah, kamu bisa aja,” sahut Padma dengan senyum mengembang. “Tapi Fril, sejak nggak pedemu itu kamu buang, kamu jadi murid kesayangan Pak Sitompul. Aku jadi iri. Pokoknya kamu harus ajari aku matematika. Harus!” pinta Padma dengan mulut menggembung.

            “Hahaha…. Baiklah. Apa sih yang tidak untuk Padma sahabatku?”

            Lalu keduanya tertawa bersama.

***

8 thoughts on “[PERCIKAN GADIS] – Nggak Tega

  1. Kerenn… emang sih kalau nggak pede itu bikin kita rugi sendiri.. mending enjoy aja ngadapin apapun..
    Selamat ya.. cerpenmu bisa dimuat dimajalah GADIS.. Aku sendiri nggak pernah bisa nembus majalah GADIS, susah banget, naskah qu selalu ditolak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s