23 April, Hari Buku Sedunia


Harian Analisa Medan. Minggu, 19 April 2015

Harian Analisa Medan. Minggu, 19 April 2015

Eva Riyanty Lubis

Tidak banyak masyarakat yang tahu tentang peringatan Hari Buku Sedunia. Bahkan pelajar atau mahasiswa sekalipun. Hari Buku Sedunia atau yang disebut dengan World Book Day pada awalnya merupakan tradisi yang diselenggarakan di Katalonia, Spanyol. Yang mana laki-laki memberikan bunga mawar merah pada perempuan, dan perempuan tersebut membalas dengan memberikan sebuah buku. Acara yang dikenal dengan sebutan Festival Sant Jordi itu pun kemudian dikenal sebagai Hari Buku.

Selain itu pada tanggal 23 April juga bertepatan dengan tanggal kematian pengarang terkemuka asal Spanyol, Miguel de Cerventes. Sehingga pada tahun 1995 untuk pertama kalinya Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO) menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia.

Di Indonesia sendiri, Hari Buku Sedunia dirayakan sejak tahun 2006, yang diprakarsai oleh Forum Indonesia Membaca dan didukung oleh berbagai pihak, baik itu dari bidang pemerintahan, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum.

Perayaan WBD di berbagai dunia

            Berbagai Negara di belahan dunia memiliki cara yang berbeda-beda untuk merayakan peringatan hari buku. Di Meksiko, sejak tahun 2008, mengadakan pembacaan buku di depan publik selama dua belas jam berturut-turut. Di Brazil, perayaan buku diisi dengan kampanye kesusasteraan. Di Madagaskar dan Afrika, mereka merayakan dengan melakukan kegiatan bertema pendidikan dan hak cipta. Di Spanyol, mereka membaca buku secara marathon.

            Di Swedia, mereka merayakan dengan menyelenggarakan kontes buku terbaik yang dipilih oleh anak-anak maupun dewasa.

            Sedangkan di Negara kita sendiri perayaan dilakukan di berbagai daerah misalnya dengan mengadakan bazar buku, temu penulis, seminar, workshop, dan sebagainya.

Minat Baca Indonesia

 

            Pada tahun 2012, UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya dalam setiap 1000 orang, hanya ada satu orang yang mempunyai minat baca tinggi. Di tahun yang sama, kepala bidang Pengembangan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengatakan, Indonesia sebagai Negara berpenduduk 165,7 juta lebih hanya memiliki jumlah terbitan buku sebanyak 50 juta per tahun. Itu artinya, rata-rata satu buku di Indonesia dibaca oleh lima orang. Sementara di Amerika, dengan jumlah penduduk 285,5 juta lebih memiliki jumlah terbitan buku sebanyak 1 miliar per tahun. Sehingga satu orang Amerika rata-rata membaca empat sampai lima judul buku.

            Itulah fakta yang ada. Padahal kita ketahui sendiri bahwa tidak ada suatu bangsa yang unggul dan maju tanpa manusia yang unggul. Dan manusia yang unggul itu sendiri adalah manusia yang memiliki pengetahun, dimana hal itu diperolah melalui membaca.

            Ada beberapa faktor yang menghambat atau mempengaruhi masyarakat untuk menyenangi dan mencintai buku sebagai sumber informasi, yakni:

  1. Banyaknya hiburan, game, dan tayangan televisi yang berhasil mengalihkan perhatian masyarakat dari buku. Ketika surfing di internet, malah lebih rela menghabiskan waktu berjam-jam dengan asyik di sosial media, membaca berita gosip, dan sebagainya.
  2. Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat siswa atau mahasiswi harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan.
  3. Masyarakat sekarang lebih memilih untuk untuk mengabiskan waktu luang di mall, karoke, night club, dan sebagainya.
  4. Orangtua yang sibuk bekerja tidak memiliki waktu untuk mengajarkan putra-putrinya agar cinta membaca.
  5. Harga buku kian hari kian mahal.
  6. Di beberapa daerah yang tergolong jauh dari ibu kota, perpustakaan tergolong langka. Kalau pun ada, stok bukunya tidak banyak dan up to date.

Menumbuhkan Minat Baca

 

            Untuk mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh Negara-negara lain, kita sebagai masyarakat Indonesia perlu menumbuhkan minat baca sejak dini. Apalagi tekhnologi sudah berkembang dengan canggih. Itu artinya, kita sudah gampang untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Adapun langkah awal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan minat baca adalah:

  1. Mulailah untuk memotivasi diri sendiri. Tanamkan dalam pikiran kalau dengan membaca, pandangan dan wawasan kita akan semakin luas.
  2. Pilih bacaan sesuai minat. Jangan paksa otak untuk membaca bacaan yang susah difahami.
  3. Sisihkan waktu untuk membaca. Contohnya satu jam dalam satu hari. Bisa dilakukan ketika kita ada waktu luang, atau hendak ingin tidur.
  4. Jangan malu bertanya seputar buku kepada orang-orang sekitar yang sedari awal mempunyai minat baca tinggi.

Sebenarnya, peranan orangtua, pemerintah, dan lembaga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Tetapi, semuanya tetap kembali ke individu masing-masing. Intinya, jangan jadikan peringatan Hari Buku Sedunia sebagai seremonial belaka. Namun, lakukan perubahan dengan menumbuhkan minat baca. Jika tidak bisa menginspirasi orang lain agar cinta membaca, paling tidak lakukan untuk diri sendiri.

Anyway, selamat memperingati Hari Buku Sedunia ya🙂

Medan, Maret 2015.

2 thoughts on “23 April, Hari Buku Sedunia

    • Hai Kak Sukariyati Binti BUSANEN
      Maaf saya baru sempat online.
      Saat ini saya tergabung dengan Komunitas Sastra Indonesia Medan. Terima kasih kalau kakak mau memberi sumbangan buku bekas. Atau boleh saya minta nomer ponsel kakak?
      Makasih sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s