Aku dan Dinding


Harian Analisa. Minggu, 14 Juni 2015

Harian Analisa. Minggu, 14 Juni 2015

AKU DAN DINDING

Eva Riyanty Lubis

Mereka memanggilku si Pemurung, si Tak Punya Gairah Hidup, si Menyedihkan, atau si Kaku. Setahuku, lebel itu sudah kudengar sejak aku berusia enam belas tahun. Saat aku memutuskan untuk berhenti berbicara banyak, berhenti bersifat ceria, berhenti untuk memulai pertemanan, dan berhenti melakukan hal-hal yang dulunya sangat kusuka. Aku telah hidup dengan duniaku sendiri. Hanya ada aku. Tidak ada yang bisa melarang ataupun mencoba membuatku hidup seperti aku yang dulu. Aku telah memutuskan bahwa inilah aku kini. Dan aku tidak peduli ucapan orang tentangku.

  1. Aku tak lagi berada di tempat aku lahir dan dibesarkan. Padangsidimpuan, itulah nama kotaku dulu. Sebuah kota kecil pada bagian Sumatera Utara yang berusaha kuenyahkan dalam ingatanku. Sayangnya, ingatan itu lucu. Dia berhasil menipu dengan membuatku percaya bahwa aku sudah berhasil melupakan kota itu—beserta kenangannya—, kemudian ketika aku tengah memutar otak untuk mencari sebuah informasi yang berhubungan dengan hal lain, tiba-tiba ‘dia’ kembali muncul seraya berujar, “Hai, apa kabar? Apa sekarang kau rindu padaku?” Kemudian aku sadar, aku belum membuang dia seutuhnya. Aku hanya menyimpannya pada salah satu bilik di otakku dan seharusnya tak heran bila kini dia datang menyapa.

Jakarta kini menjadi rumahku. Sama sekali tidak pernah terpikir olehku kalau aku akan memilih ibukota ini sebagai rumah. Macet, padat, polusi, banjir, dan segala tetek bengek yang seharusnya membuat perut mual serta kepala pusing. Tetapi ramainya penduduk di kota inilah yang menjadi pilihanku. Aku tak ingin hening. Dan kota ini memberiku pilihan tersebut.

Sabet, salah satu teman baikku kala SMP—dan dia tetap berusaha menjadi teman yang baik untukku hingga kini walau aku tidak begitu menggubrisnya— pernah bertanya di pesan facebook-ku, “Bagaimana kamu bisa hidup di sana? Apa kamu tidak takut orang-orang berbuat jahat padamu? Jakarta lho, Jakarta! Berbagai jenis manusia ada di sana. Lagian kamu nggak lihat berita? Penculikan, pemerkosaan, dijual, dan sebagainya ada di sana!”

“Aku baik-baik saja, Sabet,” jawabku cepat.

“Pulanglah. Lari dari kenyataan tidak menyelesaikan apapun.”

Aku tidak pernah cerita apapun tentang hidupku padanya. Tapi Sabet, siswi paling peduli di kelas tidak akan tinggal diam begitu saja. Dia menjelma bak peri, ibu yang baik, ibu BK, atau apapun sebutannya. Kupikir, dia hanya mencari cara agar mendapatkan banyak teman. Namun seiring berjalannya waktu, dia tetap tidak mengalami perubahahan. Dia memang baik. Meski aku tidak pernah mau mengakuinya.

Jakarta menawarkan segalanya tanpa batas. Aku bisa menjadi apapun yang aku mau. Mau jungkir balik, bertingkah gila, dan sebagainya, tidak akan ada yang peduli.

Hingga akhirnya ‘hal’ itu terjadi. Membuat malam penuh kelam kembali menghantuiku. Ternyata, aku tak sekuat yang aku bayangkan.

*

Hidup di Jakarta tidak mudah. Aku harus punya penghasilan. Demi kelangsungan hidupku. Lagian pada siapa aku harus mengeluh bila aku tidak memiliki uang? Aku tidak punya siapa-siapa lagi—bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku dikelilingi orang-orang yang mengatakan kalau mereka mencintaiku.

Usiaku tepat delapan belas tahun ketika aku tiba di Jakarta. Berbekal tabungan yang tidak pernah kuduga akan ‘diwariskan’ padaku. Aku tinggal di sebuah kost-an kecil. Benar-benar bermodal nekat. Tak takut pada apapun.

Aku mencoba mencari pekerjaan—yang ternyata tidak semudah kubayangkan. Berhari-hari ke sana kemari hingga akhirnya aku diterima di salah satu rumah makan sebagai tukang cuci piring. Hidup tidak sampai disitu. Aku harus membayar uang kost, biaya makan, transportasi, dan biaya tak terduga lainnya. Hal ini membuatku merasa lebih tua dari usiaku yang sebenarnya. Jadi, inikah hidup?

Suatu hari salah satu tetangga di kost-anku mengajak berkenalan. Dia manis dan aku suka senyumannya. Meneduhkan. Belum pernah sebelumnya aku mendapati senyuman semanis itu. Ikbal namanya. Bekerja di salah satu perusahaan swasta dan sudah dua tahunan ini merantau di Jakarta. Katanya, dia asli Surabaya.

Dia berhasil membuat hidupku sedikit berwarna. Aku bisa melihat sesuatu dari sisi berbeda. Hal yang dulunya tidak pernah terpikir dalam hidupku. Dia menjadikanku teman, juga adik. Hingga lama-kelamaan aku bisa berbicara dengan nyaman padanya. Padahal kenyamanan tidak berarti segalanya.

Dia menumbuhkan cinta di hatiku. Membuatku ingin memilikinya. Namun ketika dia berhasil menanam benih di rahimku, dia malah kabur. Menghilang entah ke mana. Aku hancur. Berkeping-keping. Saat seperti ini, aku bisa merasakan mengapa orang-orang yang mengalami hal yang sama sepertiku memilih untuk bunuh diri!

Hari-hariku penuh dengan tangisan. Hanya dinding biru yang menemani. Sama seperti dulu. Padahal sejak aku di Jakarta, aku tidak lagi menganggapnya ada. Aku mengabaikan dinding-dinding yang ada. Aku ingin suara tanpa pembatas. Dan kini aku kembali berbagi cerita padanya. Dia selalu mendengar meski tidak pernah memberi solusi apapun. Tetapi di dengar olehnya saja sudah cukup. Seperti dulu.

*

Lagi-lagi aku meringkuk di sudut dinding kamar. Ibu dan ayah kembali bertengkar. Alasannya klasik! Ayah ketahuan selingkuh.

“Harusnya kau tahu kenapa aku jadi seperti ini!” teriak lelaki berperut buncit itu pada ibu.

“Kau memang lelaki gila nafsu! Hanya itu yang ada dipikiranmu! Kau tidak ingat kalau kau masih punya istri dan anak? Kau tidak pikirkan itu?” balas perempuan yang kupanggil ibu itu, lantang.

“Alah, jangan munafiklah kau. Kau sendiri tahu kalau sejak dulu aku memang tidak suka padamu. Semua ini salahmu. Kau lupa kalau dulu kaulah yang menggodaku agar aku menanam benih di rahimmu!”

Aku muak. Benar-benar muak. Mengapa mereka berpura-pura menjadi orangtua dengan keadaan seperti ini? Sejak aku kecil, aku sudah menduga kalau ada yang tidak beres dengan hubungan kedua orangtuaku. Mereka tidak pernah beromantis ria—tidak seperti orangtua Julia, Merry, atau tetanggaku lainnya. Mereka hanya mencoba melakukan statusnya dengan baik. Dan itu tidak berhasil.

Aku tidak pernah berani untuk mengemukakan pendapat. Atau menyuarakan isi hatiku. Aku terlalu takut. Pengecut. Yang aku tahu, aku benci pada mereka. Benciku semakin memuncak ketika ibu ditemukan tidak bernyawa di atas kasurnya. Dia meninggalkanku dengan keadaan seperti ini. Dia benar-benar tidak bertanggung jawab. Sedang ayah memutuskan untuk menikahi kekasih gelapnya.

Brengsek! Mereka hanya meninggalkan uang dan berbangga hati karena itu. Aku benar-benar benci pada mereka. Juga pada hidupku. Lalu, siapa lagi yang harus kusalahkan?

Harusnya aku juga ikut mati. Harusnya aku tidak hanya cerita tentang betapa menyedihkannya hidupku pada dinding. Tetapi aku benar-benar tidak punya keberanian untuk mengakhiri denyut nadiku. Parah! Apa aku takut? Apa masih ada iman di dalam hatiku?

*

Lari dari kenyataan, begitu kata Sabet. Pergi ke Jakarta dan merubah seluruh duniaku? Tidak mungkin. Aku bahkan tidak tahu siapa diriku di Padangsidimpuan, jadi apa yang membuatku mengira aku akan tahu siapa diriku di Jakarta?

“Dinding, kau adalah satu-satunya sahabatku. Beri tahu aku apa yang harus kulakukan saat ini,” ujarku lirih. Menyentuhnya dengan kegamangan yang bersemayam di tubuhku.

“Beri aku jawaban,” desisku lagi dengan tangis berderai kian banyak.

Keesokan harinya ketika aku membuka mata, aku mendapatkan jawaban yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Janinku hancur. Dia memutuskan untuk luruh dari dalam perutku. Mungkin dia tahu kalau aku belum menginginkannya. Dan aku tahu bahwa ini pertanda kalau aku bisa mengubah jalan hidupku.

KSI Medan, Mei 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s