Ketika Sandi Kehilangan Cinta


Harian Analisa. Minggu, 14 Juni 2015

Harian Analisa. Minggu, 14 Juni 2015

Stop dong Rama comblangin gue dengan cewek-cewek di sekolah. Gue nggak minat sama sekali.” Ucap Sandi dengan tampang kesal.

“San, lo itu sudah pantas punya pacar. Lo mau dicap sebagai perjaka tua?” Rama memasang tampang ngeri.

“Tapi ini beda, Rama. Gue nggak bisa jatuh cinta pada mereka. Pokoknya belum ada satupun dari mereka yang bisa naklukin hati gue. Dan gue mohon lo jangan comlangin gue lagi. Kalau lo masih melakukan itu pada gue, jangan harap gue mau temanan lagi sama lo!” Sandi memandang Rama tajam sebelum akhirnya pergi meninggalkan sahabatnya itu. Rama hanya bisa melongo mendengar perkataan Sandi. Niatnya sih baik, nggak taunya akan berakhir seperti ini.

*

“Gue nggak bisa lupain lo, Rin. Gue nggak bisa meski gue udah coba berkali-kali. Mereka nggak faham sama perasaan gue dan selalu nyuruh gue buat cari pacar. Emang menerima cinta mereka semudah memilih baju di pasar? Gue juga sebel banget pada Rama. Pokoknya semuanya menyebalkan!”

“Harusnya lo nggak ninggalin gue, Rin. Gue belum bisa menerima kepergian lo. Gue kangen banget sama lo.” Sandi memandang nisan putih itu dengan tetesan air mata.

*

Rama tidak akan menyerah begitu saja. Dia terus-terusan mencarikan cewek untuk Sandi. Dia nggak mau sahabatnya itu kesepian terlalu lama. Lama-lama akhirnya Sandi luluh juga. Habis dia bosan bertengkar dengan Rama gara-gara masalah yang sama. Sebenarnya dia tahu kalau niat Rama itu baik. Tapi hatinya masih susah untuk menerima.

*

“Nama gue Devi.” Ucap cewek berperawakan tinggi langsing itu ketika Sandi dan dia bertemu di salah satu café terkenal di Jakarta.

“Udah tahu.” Jawab Sandi cuek. Padahal sebenarnya dia dag dig dug sejak pandangan pertama karena penampilan Devi yang waaaaaah banget. Mirip Cinta Laura dah. Dalam versi lebih cool.

“Lo lagi nyari cewek ya? Sampai-sampai Rama harus jadi pak comblang buat lo? Lo benar-benar payah nggak bisa nyari cewek sendiri.” Dengan santainya kalimat itu mengalir dengan cepat dari bibir tipis Devi.

Sandi menyergitan keningnya. “Lo sok banget sih jadi cewek? Kalau lo nggak mau dicomblangin sama gue ya udah. Gue juga nggak berharap sama lo. Emang lo doang cewek di muka bumi ini? Kalau bukan gara-gara Rama yang maksa-maksa gue buat pacaran, gue nggak bakalan mau!” Sandi memandang Devi dengan geram.

Bukannya kesal Devi malah tersenyum sangat manis.

“Gue suka sama lo. Gue mau kok jadi cewek lo.” Ucap Devi tiba-tiba.

Jantung Sandi berdetak lebih cepat. Tidak menyangka kalimat itu keluar dari bibir tipis Devi. Tapi dia segera menepis itu. Dia pikir Devi sedang mencoba mengerjainya.

“Jangan ngarep deh! Lagian gue nggak pengen-pengen amat pacaran. Makasih sudah luangin waktu buat ketemu sama gue.” Sandi mengambil langkah untuk pergi. Namun secepat kilat Devi menarik lengan Sandi. Hingga kedua bola mata mereka bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Perasaan nggak karuan yang Sandi alamin akhirnya timbul lagi. Eh, perasaan posenya kebalik ya? Harusnya Sandi yang melakukan ini pada Devi. Ah, bodo amat!

“Gue suka sama lo, San. Dari dulu. Sejak Rina bercerita banyak tentang lo. Lo tahu gue siapa?”

Sandi menggeleng pelan. Keningnya tiba-tiba berkerut. Lalu dia melepaskan pegangan Devi dari lengannya.

“Gue sepupu Rina, San. Gue baru balik dari Australia.”

Bola mata Sandi tiba-tiba membesar.

“Gue suka sama lo. Gue selalu berharap bisa bahagiain lo. Sama seperti pesan Rina buat gue. Lo mau kan jadi cowok gue?”

Hati Sandi mendadak luruh. Sebab Sandi menemukan ketulusan di mata Devi. Awalnya dia merasa kalau Devi terlalu agresif sebagai cewek. Mungkin karena lama di luar negeri ya? Eh, tapi bagaimana dengan Rina? Tidak! Sandi tidak akan pernah melupakan sahabat kecilnya itu. Sahabat sekaligus cinta pertamanya. Belum ada orang yang bisa menggantikan posisi Rina di dalam hatinya.

“Gue sayang sama lo, sejak dulu. Sejak Rina selalu curhat tentang sahabat cowoknya yang manis dan menyenangkan.” Ucap Devi lirih.

*

Sandi mendekati Rama yang tengah duduk santai di pinggir lapangan sekolah.

“Ram, gue mau cerita.” Ujar Sandi.

“Ada apa? Mau cerita tentang Devi? Bagaimana pertemuan kalian semalam?” Tanya Rama yang sangat antusias.

“Masa lo kenalin Devi yang jelas-jelas sepupunya Rina pada gue?”

“Sejak kita kecil dulu, kita kan selalu bareng sama Rina. Lo nggak pernah liat cewek lain selain Rina dalam hidup lo. Gue juga yakin lo nggak tahu tentang Devi yang sering diceritakan oleh Rina. Devi cewek kuat yang selalu berjuang dalam hidupnya. Lo nggak tahu kan bagaimana kehidupannya? Dia itu yatim piatu, San. Tapi dia pintar makanya bisa sekolah gratis di sana. Dia nggak mau nyusahin familynya. Asal kamu tahu ya San, Devi itu salah satu cewek populer di sekolahnya. Tapi ya gitu, sejak Rina cerita tentang lo padanya, dia selalu tergila-gila pada lo.”

“Haruskah aku membuka hatiku padanya?”

“Yap! Wajib! Lo nggak bisa mikirin Rina terus. Dia udah tenang di alam sana.”

Sandi menganggukkan kepalanya dengan mantap. Besok dia akan menemui Devi dan meminta maaf atas sikapnya yang tidak sopan. Dan dia juga berjanji untuk membuka hatinya pada cewek itu.

 Oktober, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s