Ketika Mudik Tiba dan Kami Berkumpul Bersama


Setiap tahunnya, aku, ibu dan ketiga adikku berlebaran ke kampung nenek di Pinarik, salah satu desa di kecamatan Batang Lubu Sutam, Kabupaten Padang Lawas, provinsi Sumatera Utara. Sebuah desa yang benar-benar desa. Menampilkan pemandangan alam yang luar biasa indah. Tidak ada mall, atau fasilitas umum yang sering kita jumpai di kota. Namun kesederhanaannya membuat pendatang selalu rindu untuk berkunjung. Dari Padangsidimpuan—tempat tinggal kami— dengan mengendarai kendaraan umum, kurang lebih memakan waktu tujuh hingga delapan jam.

Ini adalah lebaran keempat tanpa ada ayah bersama kami—beliau meninggal pada bulan November 2010. Rasa sedih selalu ada. Namun membayangkan untuk bisa berjumpa dengan nenek, selalu berhasil membuat kami bersemangat. Nenek kami tinggal satu. Yakni dari pihak ibu. Sekarang usianya telah mencapai sembilan puluh tahun. Hidup sendiri di rumah mungil sebab tidak ingin merepotkan putra-putrinya. Alhamdulillah, salah satu kakak ibuku tempat tinggalnya tepat di depan rumah nenek. Sehingga beliau bisa melihat keadaan nenek sesering mungkin.

Nenek yang kami sayangi. Cerita-cerita dari beliau selalu kurindukan

Nenek yang kami sayangi. Cerita-cerita dari beliau selalu kurindukan

Lebaran tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Aku dan adik lelakiku yang kini berusia sembilan belas tahun memilih untuk mengendarai sepeda motor ke kampung nenek. Sedang ibu dan adik lainnya tetap menggunakan angkutan umum. Melalui restu ibu, kami berhasil tiba di rumah nenek dengan selamat. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Sebab dengan menggunakan sepeda motor, kami dapat menikmati pemandangan alam yang luar biasa indah. Hamparan sawah, rumah masyarakat dengan keanekaragamannya, peponanan rindang, hewan-hewan yang tampak di pinggir jalan, dan masih banyak lainnya.

Biasanya, anak nenek yang tinggal di luar kota, jarang sekali bisa mudik dan berkumpul bersama saudara lainnya. Namun, tahun ini sungguh luar biasa. Selain kami, Paman dari Pekanbaru juga hadir. Pun begitu dengan menantu nenek yang tinggal di Bogor.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hal yang kami lakukan bila lebaran tiba adalah berkumpul bersama di rumah nenek. Meminta maaf atas segala perbuatan. Kemudian berbincang-bincang dengan berbagai macam topik. Intinya, saling melepaskan rindu. Sebab bertahun tidak bertemu. Lalu berziarah ke makam kakek, uak, dan saudara lain yang telah pergi menghadapNya lebih dulu. Selain itu kami juga mengunjungi keluarga yang mengadakan acara “sidokah”. Yakni makan bersama dan membagi-bagikan nasi berserta lauk pauk kepada para tetangga terdekat.

Rumah nenek akan selalu kebanjiran tamu hingga lebaran kelima, atau keenam. Dan itu membuatku sangat bersemangat.

Ketika kami berkumpul bersama

Ketika kami berkumpul bersama

Selain itu, lebaran di kampung rasanya lebih menyenangkan dibanding bila berlebaran di kota. Anak-anak berpakaian baru dengan wajah-wajah penuh ceria. Tidak ada wahana permainan di sana. Namun, dengan menumpang angkutan umum, keliling kampung berkali-kali, sudah berhasil membuat lebaran mereka penuh dengan kebahagiaan.

Di halaman rumah nenek, banyak juga anak-anak yang berkumpul. Sebab halaman rumah nenek tergolong luas. Anak uak akan berjualan makanan berupa nasi goreng dan mie goreng di sana. Sehingga suasana ramai selalu membuat lebaran benar-benar terasa. Mendengarkan cerita-cerita mereka dengan bahasa Mandailing atau Bahasa Indonesia bercampur Mandailing selalu berhasil menorehkan senyum di pipiku. Sungguh, melihat kepolosan dan tingkah laku alami dari mereka, membuatku menyadari bahwa hidup ini sangat indah bila kita banyak bersyukur. Dengan segala keterbatasan, mereka meyakinkan bahwa mereka juga bisa bahagia.

Anak-anak dengan kepolosan dan kebahagiannya

Anak-anak dengan kepolosan dan kebahagiannya

Lebaran tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Karena keluarga kami bisa berkumpul jauh lebih banyak dibanding lebaran tahun lalu. Selain itu kami juga pergi ke kebun semangka. Memetik semangka yang kami inginkan secara langsung. Bermain bersama bocah-bocah cilik, berjalan ramai-ramai melintasi persawahan, duduk santai dengan para sepupu sambil menceritakan bagaimana hidup kami berjalan selama ini, dan masih banyak lainnya.

Memetik Semangka

Memetik Semangka

Lebaran tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Sebab mereka berhasil mengajariku bahwa untuk bahagia, tidaklah susah. Bahwa untuk bahagia, tidak perlu uang yang banyak. Bahwa untuk bahagia, hanya butuh tulus dan ikhlas.

Sebab kebahagian itu ada di sekitar kita

Sebab kebahagian itu ada di sekitar kita

Semoga lebaran tahun depan bisa lebih baik lagi dan kami kembali berkumpul bersama. Amin amin ya robbal alamin.

2 thoughts on “Ketika Mudik Tiba dan Kami Berkumpul Bersama

  1. Carita mu sangat seru membuat saya rindu ke kampung,semoga kamu dapat membuat cerita yg jauh lebih seru lgi & bisa membuat org banyak terinspirasi. Semoga makin sukses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s