Tolong Selamatkan Kami!!!


Kami ada

Kami ada

Kalau kita lebih peka sedikit saja, maka kita akan sadari kalau banyak anak-anak penerus bangsa ini yang ingin menjeritkan isi hatinya sesuai dengan judul di atas. Mereka hanya tidak bisa. Lebih tepatnya tidak tahu harus bagaimana.

Setiap hari, setiap minggu, bahkan setiap tahun, jumlah anak-anak terlantar di Indonesia kian bertambah. Sungguh, miris hati ini. Padahal kita selalu berkata kalau kelak Negara ini akan berada di tangan mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik kalau kita sebagai orang dewasa tidak memastikan mereka untuk mendapatkan hidup yang layak?

Di televisi, berita tentang kekejaman kepada anak selalu wara-wiri. Anak dibunuh orangtuanya, anak kandung sendiri di perkosa, anak kandung sendiri dipaksa mencari nafkah pada usia yang tidak seharusnya, anak kandung dijual, dan masih banyak lainnya.

Mengapa itu terjadi?

Mengapa berbuat sedemikian teganya?

Apakah manusia sekarang tidak punya hati nurani lagi?

Anak-Anak di Padangsidimpuan

Saya lahir dan dibesarkan di kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Kota ini masih tergolong kecil. Sesuai dengan jumlah penduduknya. Sayangnya, meski kota ini tergolong kecil, masalah anak belum juga teratasi dengan baik.

Adapun masalah anak yang sering tampak adalah :

  1. Putus sekolah.
  2. Bocah laki-laki di usia sekolah dasar tetapi sudah pandai merokok.
  3. Bocah laki-laki menjadi peminta-minta di tempat umum seperti pasar tradisional, tempat makan pinggir jalan, dsb.
  4. Mencuri.
  5. Menghabiskan waktu dengan bermain game.
  6. Tidak mendapat asupan gizi dengan baik.
  7. Mendapat kekerasan dari orang-orang terdekatnya.

Sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan itu memiliki keistimewaan dan kelebihan masing-masing. Namun, tidak semua orang terdekatnya—khususnya orangtua—yang peduli akan itu. Ketidakpeduliaan itulah yang menciptakan anak-anak menjadi yang tidak kita inginkan. Padahal, tanpa kita sadari, kitalah yang telah membentuk mereka seperti itu.

Saya jadi teringat dengan salah satu tetangga saya. Sebut saja namanya “Ibu dan Bapak M.” Mereka memiliki anak sebanyak delapan orang. Usianya berdekatan. Ketika orang-orang bertanya mengapa dia tidak mengenakan KB, si Ibu M selalu menjawab, “Kan banyak anak, banyak rezeki.”

Sayangnya, fakta tidak berkata demikian. Ekonomi masih saja di batas pas-pasan. Pas untuk makan. Pas untuk biaya hidup sehari-hari. Alhasil, tidak seorangpun dari anaknya yang menyelesaikan bangku sekolah.

Ada yang baru tamat SD, harus bekerja di toko orang. Ada yang seharusnya masuk SD, harus diundur karena terbatasnya biaya. Yang pasti, kehidupan putra-putrinya terlihat memprihatinkan. Untuk makan saja kadang tidak mencakup empat sehat lima sempurna.

Salah satu putrinya, sebut saja bernama A, yang kini usianya kurang lebih sembilan tahun, menjadi pesuruh beberapa tetangga. Membuang sampah, membelikan sabun ke warung, dan sebagainya. Anak tersebut memang rajin. Bila dikasih uang beberapa ribu rupiah saja, sudah senang. Sayangnya, diusianya yang kian bertambah, dia belum juga bisa menulis, membaca, bahkan bicara saja tidak lancar. Suatu hari musibah tidak diinginkan pun terjadi. Anak itu diculik dan dikabarkan telah dilecehkan oleh seorang pemuda dari kampung lain. Sungguh kasihan! Gadis manis itu hanya bisa menangis ketakutan. Awalnya dia mau diajak orang lain hanya karena sebungkus permen. Untung saja nasib baik masih berpihak pada keluarga Ibu M hingga anaknya ditemukan, dan si tersangka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada pihak yang berwajib.

Bagaimana menyelesaikan masalah ini?

Sesungguhnya tidak ada masalah tanpa penyelesaian. Pertanyaannya adalah dapatkah kita? Mampukah kita? Percayakah kita kalau semua ini dapat diselesaikan?

Jangan tunggu lebih lama lagi. Sebab waktu terus berjalan. Jika masih dibiarkan, korban akan semakin banyak. Sedang penyesalan selalu datang terakhir.

Mereka anak-anak kita. Mereka buah hati kita. Mereka wajib kita jaga.

Lalu, apa solusi yang bisa dilakukan?

  1. Sebagai orangtua, perbanyak waktu dengan anak. Bahkan lebih bagus bila sebagai ibu, menjadi ibu rumah tangga saja. Agar waktu dengan keluarga lebih banyak. Kita pun bisa melihat tumbuh kembang anak dengan baik. Kalau ingin membantu keuangan keluarga—membantu suami—lakukanlah di rumah. Berpikir kreatif. Sebab rezeki itu tidak hanya ada di luar rumah.
  2. Pastikan anak mendapat pendidikan yang baik.
  3. Pastikan anak memiliki teman-teman yang memberi pengaruh positif.
  4. Sesekali, liburan sekeluarga itu penting. Bisa dengan jalan-jalan ke kampung halaman, berkemah, berolahraga bersama-sama, jalan-jalan ke museum, jalan-jalan ke wahana permainan, nonton bareng, baca buku bersama, dan sebagainya.
  5. Walau kita merupakan orangtua dari anak kita, tapi kita juga harus bisa berperan sebagai sahabat. Buat mereka terbuka. Buat mereka percaya pada kita. Buat mereka bangga pada kita. Sebab kita selalu ada untuk mereka.
  6. Selalu awasi tontonan mereka. Sebab sekarang ini banyak siaran untuk anak-anak tapi isinya tidaklah layak dikonsumsi oleh mereka. Bukannya memberi pengaruh positif, malah sebaliknya.
  7. Selalu ajari mereka agama. Agar nantinya mereka tahu mana yang baik dan benar.
  8. Kembangkan bakat yang mereka miliki. Kamu akan tahu seberapa besar minat mereka akan sesuatu bila kamu telah dekat dengan mereka.

Jangan buat anak-anak menangis karena nasib yang mereka dapatkan.

Jangan buat anak-anak menyesali mengapa orangtua mereka harus si A, atau si B.

Hal-hal di atas bisa dilakukan oleh orangtua mana pun. Intinya, maukah kita melakukannya? Dari hal kecil tersebut InsyaAllah akan memberikan efek positif.

At last, semoga anak-anak Indonesia lebih baik ke depannya. Kami ada untuk kalian. Teruslah tersenyum. Kita bersama membangun bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s