Cerpen Harian Analisa – Aku, Kau, dan Pria Berlesung Pipit


Harian Analisa Medan. Rubrik Rabu. Rabu, 07 Oktober 2015.

Harian Analisa Medan. Rubrik Rabu. Rabu, 07 Oktober 2015.

Aku tahu kalau keluargamu sedang mengalami musibah yang sangat berat. Kau masih berusia dua puluh tahun dan harus menanggung semuanya. Seorang papa yang merupakan salah satu menteri Indonesia harus dipecat dan dipenjara karena ketahuan korupsi. Dan mamamu, melakukan perselingkuhan dengan bawahan papamu. Lalu mamamu pergi entah kemana hingga kau tak bisa lagi bersua dengan wanita yang melahirkanmu itu. Sungguh ironis. Hanya tersisa kau dan kakakmu. Namun kakakmu malah memilih untuk mengakhiri hidupnya melalui narkoba dengan dosis tinggi.

            Kau yang harusnya merasakan kehidupan yang indah, sesuai dengan usiamu, mendadak kehilangan arah. Wartawa usil selalu menjahilimu. Berusaha mendapatkan informasi tentang keluargamu yang awalnya terpandang menjadi sebaliknya. Kau menangis setiap waktu yang kau bisa. Kuliahmu, aktivitasmu, semuanya menghilang secara perlahan. Belum lagi saudara dan teman-temanmu. Mereka memandangmu dengan penuh kenistaan. Seolah kau manusia paling menjijikkan di atas dunia ini. Padahal dulunya mereka juga ikut menikmati apa yang kalian punya.

            Malam itu kau menyalakan komputer. Aku tak tahu apa yang sedang kau cari. Namun aku menemukan sebuah senyuman tipis yang bertengger di bibirmu setelah menemukan apa yang kau cari.

            Lalu dengan gerakan cepat, kau mengambil beberapa potong pakaianmu dan beberapa benda yang menurutmu berharga. Memasukkannya dengan asal ke dalam koper. Hingga keesokan paginya, aku tersadar kalau kita sudah berada di dalam pesawat. Penampilanmu yang biasanya sederhana, berubah menjadi glamour. Sebuah wig dengan rambut lurus panjang menutupi rambut aslimu yang hanya sebahu. Lalu kaca mata milik mamamu yang bermerek itu pun bertengger manis dihidungmu yang bangir. Belum lagi make up polos yang hiasi wajah cantikmu. Kau berubah! Aku sampai pangling. Tunggu! Apa kau sedang menyamar, Emily? Kau takut kalau kita diikuti wartawan makanya berubah seperti ini?

*

            Kita tiba di salah satu kota besar di Indonesia. Medan. Aha, aku tahu kemana tujuan kita sekarang! Padangsidimpuan. Salah satu kota kecil di Sumatera Utara. Benar bukan? Kau pasti ingin mengunjungi nenek dari pihak mamamu. Aku memang belum pernah bertemu dengan beliau. Tapi aku tahu kalau mamamu tidak menganggap nenekmu sebagai ibunya. Sebab nenekmu tidak memiliki harta seperti kalian. Maksudku sebelum kasus itu diketahui publik. Benar, kan? Ah, Mamamu memang sudah gila! Jangan marah, Emily. Aku sudah mengamati sikap dan tingkah lakunya tiga tahun terakhir ini. Sejak dia jatuh cinta pada lelaki beristri itu, dia benar-benar semakin gila.

            Beliau tidak mengizinkan kau dan almarhum kakakmu untuk bersua dengan Nenek. Mamamu memutuskan tali silaturrahmi sejak kau duduk di bangku SD kelas enam. Itu terjadi karena keuangan kalian mulai menanjak. Benar, kan Emily? Aku mendengar itu kala kau protes pada Mamamu sebab kau begitu rindu dan ingin jumpa dengan Nenek.

            Dari Medan, kita langsung naik travel ke Padangsidimpuan. Ah, aku tidak bisa memprediksi wajahmu saat ini. Antara tegang, senang, takut, was-was, semua bercampur menjadi satu. Aku hanya bisa berharap kalau semuanya berjalan sebaik mungkin. Aku sudah lelah melihatmu bersedih. Kau pantas untuk mendapatkan kebahagiaan, Emily.

            Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih sebelas jam. Benar-benar melelahkan. Ketika ucapan selamat datang di Kota Padangsidimpuan sudah kelihatan, kudapati kalau kau tengah tersenyum manis. Lalu di terminal, kau memanggil sebuah becak. Di Jakarta ini disebut bentor. Becak bermotor. Kau menunjukkan secarik kertas kepada Abang tukang becak. Lalu pria itu menganggukkan kepala.

            Hatimu terasa ngilu ketika tiba di depan sebuah rumah kecil yang terbuat dari papan. Sangat jauh dari kata sederhana. Tak pernah kau duga sebelumnya kalau inilah rumah nenekmu. Wanita yang melahirkan mamamu. Tinggal seorang diri karena satu-satunya putri yang dia miliki memutuskan untuk tidak menganggap dia sebagai ibunya. Sedang suaminya telah meninggal puluhan tahun yang lalu.

            “Siapa?” tanya wanita tua itu sembari memandangmu dengan pandangan penuh tanya.

            “Nenek, ini Emily,” ucapmu yang bersamaan dengan itu air matamu pun tumpah. Kau memeluk nenek dengan erat. Dan nenekmu turut meneteskan air matanya. Satu persatu. Mengelus punggungmu dengan penuh kelembutan.

            “Emily, cucuku. Kau sudah besar?” tanya Nenek seraya memandangimu dari ujung rambut hingga ujung kaki.

            Kau menganggukkan kepala berkali-kali. Sedang nenek menciumi keningmu dengan penuh kerinduan.

            Lalu kau menceritakan perihal kedatanganmu kepada Nenek.

            “Nenek sudah tahu,” ucap Nenek dengan nada suara yang benar-benar menunjukkan kalau beliau tidak apa-apa karena masalah itu.

            “Apa Nenek masih benci sama Mama? Masih membenci kami sekeluarga? Kami udah durhaka pada Nenek,” lirih Emily.

            “Cucuku, Nenek tidak pernah membenci kalian. Pun ibumu. Sebab Nenek yakin suatu saat hal itu akan berubah. Percaya pada kuasa Sang Pencipta, Emily.”

            Lagi, Kau menganggukkan kepala, “Lalu, bagaimana menurut Nenek kehidupan kami sekarang?”

            “Hidup ini terus berputar, Emily. Kadang di atas, kadang di bawah. Itu sudah ditakdirkan. Hukum sebab akibat berlaku, Emily. Jadi Papa dan Mamamu sedang menuai apa yang dulunya mereka kerjakan.”

*

            Aku bisa merasakan kebahagianmu hidup dengan nenek. Sehari-harinya Nenek bekerja sebagai penjual gorengan. Gorengan itu dijajakan kepada masyarakat dari gang ke gang. Kau pun membantu Nenek berjualan. Kau yang sekarang menjalani kehidupan dengan penuh suka cita.

            Sesekali kau mendengar cibiran dari para tetangga. Ya, mereka tahu kehidupanmu sebab televisi masih terus membahas keluarga kalian. Namun Nenek menyuruhmu untuk tidak ambil pusing.

            Kau semakin bersemangat menjalani hari-harimu. Tidak lagi kutemukan wajah muram itu. Namun belum sampai tiga bulan kau bersama dengan Nenek, Allah malah menjemput Nenek. Menjemput salah satu kebahagiaanmu. Kau pun kembali pada kesedihan. Mengurung diri beberapa hari. Membuatku terhenyak dengan hidupmu. Kau sedih, akupun sedih. Terlalu banyak cobaan yang harus kau jalani, Emily.

*

            Pagi itu kau duduk di depan rumah. Bersandar pada dinding dan melihat orang yang lalu lalang. Ah, mereka tak sedikitpun peduli padamu. Mungkin juga dalam hati mereka merutuki kehidupanmu. Dasar!

            “Kamu Emily? Cucunya Nek Syamsi?” tanya seseorang mengagetkanmu.

            Ya ampun, seorang pria dengan lesung pipit di wajahnya. Sangat menawan, Emily! Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya.

            “Ya. Kenapa? Ada yang salah?” tanyamu ketus.

            Pria berlesung pipit itu tersenyum. “Tidak. Aku Keenan. Aku baru lulus kuliah dari Medan dan sekarang kembali ke kampung halaman. Aku akan mengabdi di kota tempat aku dilahirkan ini,” ucap pria itu dengan mata berbinar.

            Kau menganggukkan kepala perlahan-lahan. “Terus? Kau kenal aku kan? Kau pasti sudah tahu tentang keluargaku. Kalau gitu, ngapain dekat-dekat sama aku?” Kau kembali bertanya dengan nada yang sama.

            “Aku ingin menjadi temanmu. Boleh, Emily? Aku nggak peduli masa lalumu sebab aku tahu semua orang pasti punya masa lalu yang buruk. Namun bagaimana kita mampu untuk bangkit, itu yang paling perlu. Bukankah kita hidup untuk masa depan?” Jelas pria itu dengan senyum hangatnya. Ah, lesung pipi itu membuatku terlena, Emily. Kau harusnya memberi dia kesempatan untuk berteman denganmu!

            “Cih! Kamu hanya pandai berkata-kata!” ucapmu lagi dengan wajah penuh kesinisan itu.

*

            Ah Emily, kau tidak bisa memvonis seseorang seperti itu. Lihat saja, pria berlesung pipit itu tidak pernah lelah meminta kesempatan agar bisa menjadi temanmu. Harusnya kau bahagia! Aku bisa melihat ketulusan di matanya. Dan aku memang yakin kalau waktu akan membuatmu kembali ke Emily yang berhati lemah lembut.

*

            Tiga bulan kemudian, pria berlesung pipit itu berhasil membawamu ke puncak Simarsayang. Tempat yang bisa membuatmu melihat kota Padangsidimpuan secara utuh dengan suhu udaranya yang bagus untuk tubuh. Aih, kau sangat bahagia, Emily! Aku tahu kalau pria berlesung pipit itu berhasil membuat getar-getar cinta di dalam hatimu. Benar begitu?

            “Aku bukan lelaki yang sempurna. Tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Namun aku menyayangimu, Emily. Aku ingin selalu bersamamu,” aku pria berlesung pipit itu tiba-tiba.

            Kau kaget. Senang dan bingung bercampur menjadi satu hingga kau tidak bisa membuka mulut untuk menjawab pernyataan dari pria di hadapanmu itu.

            “Emily, kalungmu putus?” tanya Keenan tiba-tiba ketika matanya tanpa sengaja melihat lehermu.

            Emily meraba lehernya dan mendapati kalung yang sejak lima tahun terakhir ini dia pakai tiba-tiba sudah tergeletak di atas tanah tak jauh dari tempatnya berdiri.

            Emily memandang kalung itu dengan perasaan sendu. “Kalung ini hadiah dari Mama dan Papa kala aku berusia lima belas tahun. Aku tidak pernah melepasnya sekalipun. Namun sekarang, dia malah lepas sendiri,” ujar Emily sedih sembari menggenggam kalungnya yang patah.

            “Setiap barang pasti ada masanya. Namun kenangan tidak akan pernah dilupakan dari benak kita. Lagian kita bisa memperbaikinya, Emily,” Keenan menenangkan Emily.

            Aku tidak bisa lagi mendengar pembicaraan mereka. Yang aku tahu, aku sangat bahagia sekarang. Sebab sudah ada orang yang tulus menyayangi Emily dan membuat perempuan itu kembali menorehkan senyum di wajah cantiknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s