Cerpen Tabloid Nova – Lokot yang Tak Lokot


Tabloid Nova. 1440/XXVIII. Rubrik Cerita Pendek. Edisi 28 September s/d 04 Oktober 2015.

Tabloid Nova. 1440/XXVIII. Rubrik Cerita Pendek. Edisi 28 September s/d 04 Oktober 2015.

Lokot namanya. Lelaki yang berhasil menyentuh hatiku, dari sekian banyak lelaki yang mencoba mendapatkan cinta dariku. Benar kata sebahagian orang. Cinta itu buta. Ya, aku dibutakan oleh cinta. Karena dia, aku rela meninggalkan keluargaku –ayah, ibu beserta saudaraku tak pernah menyetujui hubungan kami. Kata mereka, Lokot tidak berpendidikan, tidak mempunyai pekerjaan tetap, dan tidak terlahir dari keluarga terpandang. Aku seharusnya bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik darinya.

            Aku benarkan apa yang dikatakan orang tentangnya. Sayangnya, aku sudah terlanjur jatuh cinta pada lelaki itu, sehingga aku tak peduli apa pendapat orang tentangnya, juga tentangku.

Senyumannya yang meneduhkan, kalimat-demi kalimat yang berhasil menenangkanku, belum lagi caranya memperlakukanku. Penuh cinta dan kelembutan. Akhirnya kami memutuskan untuk kawin lari. Berbekal tabungan masing-masing seadanya. Dari Medan, kami menuju salah satu kota kecil yang masih berada di Sumatera Utara, Padangsidimpuan.

Aku pikir dengan cinta, semua akan berjalan dengan sempurna. Ternyata pemikiranku salah. Setelah putri pertama kami lahir, Remli, Lokot mulai menunjukkan perubahan sikap dan perilaku. Dia mulai malas bekerja, –selama di perantauan ini, dia bekerja sebagai buruh bangunan– sering keluyuran tak jelas dan pulang ke rumah tengah malam.

“Abang, ada apa denganmu? Kalau ada masalah, tolong beri tahu aku,” tukasku suatu hari kala menemukan lelaki itu duduk termenung di ruang tamu kami yang mungil.

Lelaki itu tidak menjawab. Bahkan memandang kedua bola mataku pun dia tak sudi.

“Bang?” ulangku lagi dengan nada selembut mungkin. Aku ambil posisi duduk di hadapannya. Kupandangi dia dengan seksama. Mencoba mencari tahu apa yang tengah dia sembunyikan.

“Kau nggak tahu apa-apa, Seri!” tukasnya dengan mata melotot tajam kepadaku.

Sontak aku kaget dengan nada suaranya yang meninggi.

“Kau lahir dari keluarga kaya raya yang tidak pernah memusingkan bagaimana susahnya mencari uang!” timpalnya lagi.

“Bang, kalau ini masalah uang, dari awal aku sudah bilang ke Abang apa aku boleh bekerja? Abang yang tidak pernah ngasih izin. Abang bilang aku di rumah saja. Ngurus rumah dan anak-anak. Abang lupa pada omongan abang sendiri?” tukasku dengan wajah menegang.

“Ahhh!” jawabnya kemudian berdiri, lalu berjalan meninggalkanku, meninggalkan rumah ini.

Setelah itu, dia mulai jarang pulang ke rumah. Membuatku gamang akan kelanjutan hidupku dan buah hati kami. Kalau aku bertanya padanya, dia sering membalas dengan kalimat-kalimat kasar yang membuatku sakit hati.

“Abang, kontrakan rumah kita belum dibayar. Uang listrik, susu si Remli—”

“Aku nggak peduli, Seri. Aku udah capek! Aku capek jadi orang miskin. Sudah kau rasakan gimana nggak enaknya jadi orang miskin itu kan?”

“Kau nggak boleh ngomong seperti itu, Bang. Kau bertanggung jawab sebab kau tulang punggung di keluarga kita. Kau seorang suami. Ayah si Remli.”

“Kau tahu, Seri, dulu kupikir kalau kita menikah, aku bisa sedikit bersenang-senang sebab orangtuamu orang berada. Sayangnya hubungan kita tak direstui. Untuk mengurus diri sendiri saja aku masih susah. Ini ditambah pula harus tanggung jawab padamu dan si Remli,” lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak memikirkan bagaimana sakitnya perasaanku dengan ucapannya itu.

“Aku capek jadi orang miskin, Seri,” ucapnya lagi dengan wajah yang sekarang menurutku memuakkan.

“Kalau gitu pergilah dari rumah ini. Carilah kehidupan yang membuatmu bahagia,” jawabku akhirnya –putus asa.

Kedua mata Lokot berbinar. Dipandanginya aku beberapa detik sebelum dibawanya aku ke dalam pelukannya. Tanpa kusadari, air mataku menetes satu persatu. Dan aku sadar, dia bukan lagi Lokot yang kucintai.

“Aku tahu kalau kau perempuan yang sangat luar biasa baik. Kau selalu menerimaku bagaimanapun aku. Terima kasih, Seri. Aku bangga memiliki istri sepertimu,” sahutnya seolah tidak peduli dengan kesedihanku. Setelah itu, dia berbalik. Keluar dari rumah mungil kami.

Sudah seminggu dia pergi. Namun, hingga kini tak ada sedikit pun kabar tentangnya yang sampai padaku. Entah di mana dia kini berada.

“Mak, Bapak mana?” tanya putri kecilku yang masih berusia dua tahun.

Aku mengecup keningnya dengan hati teriris. “Bapak kerja, Nak. Jauh.”

*

            Untunglah masih ada orang yang berbaik hati padaku. Uni Marni, tetangga yang berjarak tiga rumah dari rumahku. Beliau asli Padang. Kuanggap beliau sebagai kakak di tempat perantauan ini. Usianya sudah lima puluh tahunan. Suaminya sudah lama meninggal. Namun dia berhasil membuktikan kalau dia tetap bisa bertahan dengan keenam putra-putrinya. Bahkan semua putra-putrinya berhasil menjadi orang sukses. Di daerah tempat tinggalku ini, keluarga Uni Marnilah yang perekonomiannya terbilang bagus. Sedang yang keluarga lainnya, sama sepertiku. Tingkat ekonomi ke bawah.

            Uni Marni memberiku pinjaman uang untuk kebutuhanku dan putriku. Beliau juga menyuruhku untuk bekerja.

            “Nggak usah berharap suamimu pulang, Seri. Bekerjalah. Fokus pada kehidupanmu dan putrimu.”

            “Apa yang bisa kulakukan, Uni? Aku tidak punya pengalaman bekerja,” sahutku sedih. Terkadang rasa menyesal hinggap di sanubariku. Mengapa tamat kuliah dulu aku tidak bekerja? Mengapa aku langsung mau diajak nikah kawin lari? Apa arti prestasi-prestasi gemilang yang kudapatkan selama aku sekolah kalau aku tak tahu bagaimana cara untuk bertahan hidup?

            “Berjualan, bekerja sama orang,” Uni Marni memberikan pilihan.

            Hingga akhirnya kuputuskan untuk bekerja sebagai tukang cuci. Di daerah tempat tinggalku ada sebuah sungai. Di sana, banyak ibu-ibu yang bekerja sebagai tukang cuci. Ah, dulu aku selalu merasa kasihan pada mereka. Mereka yang kebanyakan harus berjuang demi keluarga dan putra-putri mereka disebabkan suami yang tidak bertanggung jawab. Ada yang suaminya harus meringkuk di dalam penjara karena ketahuan mengkonsumsi narkoba, ada yang suaminya selingkuh, dan ada pula yang ditinggal pergi suaminya ke hadapan Ilahi. Tak pernah kuduga kalau aku juga ‘bersama’ dengan mereka sekarang.

Uni Marni dengan tangan terbuka menerima Remli. Merawat seperti cucunya sendiri.

“Nggak apa-apa, Seri. Lagian di rumah ada Riza, Siska, –cucu-cucunya– jadi Remli nggak akan kesepian.”

Bekerja sebagai tukang cuci awalnya sulit. Tanganku yang tidak biasa mencuci banyak pakaian sampai melepuh. Ruas-ruas kakiku pun terkena kutu air. Belum lagi punggung yang harus menerima sengatan matahari sebab seharian harus berada di sungai.

“Awalnya memang tidak enak, Seri. Tapi lama-kelamaan kamu akan terbiasa,” tukas Kak Ani. Perempuan beranak lima yang harus rela dimadu, karena suaminya memilih untuk nikah lagi.

“Kak, apa Kakak tidak pernah mengeluh dengan kehidupan Kakak?” tanyaku ingin tahu.

“Tentu saja aku pernah mengeluh. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Sering aku berpikir untuk meminta cerai darinya. Sayangnya aku tidak tega pada anak-anak. Tak pernah bisa kubayangkan kalau aku harus berpisah dengan anak-anak, Seri. Merekalah hidupku. Aku berjuang seperti ini demi mereka.”

*

            Lelaki itu tak pernah datang. Setahun lamanya aku menunggu. Namun kabar yang kudapatkan malah membuat hatiku semakin teriris. Padahal aku sudah menduga ini akan terjadi. Hanya saja sebahagian dari diriku belum bisa menerima kenyataan itu.

            Pikiranku semakin kalut ketika putri kecilku terkena demam berdarah. Untuk biaya berobatnya saja, aku harus mengeluarkan seluruh uang tabungan. Sayang, nyawanya tidak terselamatkan. Dia meninggalku seorang diri.

            Berhari-hari, kesedihan hinggapi diriku. Aku bahkan tak peduli lagi dengan kondisi diriku sendiri, rumah, apalagi pekerjaan. Aku begitu larut dalam kesedihan.

            “Seri, kamu tidak boleh seperti ini. Semua yang kamu hadapi adalah ujian dari Sang Pencipta,” nasehat Uni Marni sembari membelai lembut rambutku. Seperti seorang ibu yang menenangkan putrinya.

            “Ini nggak adil, Uni,” isakku sedih.

            “Tidak ada kehidupan yang berjalan sempurna, Seri. Setiap manusia pasti diberi cobaan. Tetapi tidak semua bisa lulus dari cobaan itu. Sama sepertimu. Kamu harus kuat.”

            “Untuk apa lagi aku hidup, Uni? Suami meninggalkanku. Dia menikah dengan perempuan tua kaya raya, seperti impiannya. Putriku, satu-satunya alasanku untuk bertahan hidup, juga memilih untuk meninggalkanku. Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Uni,” isakku makin keras.

            “Kamu masih punya Uni. Uni akan selalu ada bersamamu. Dan orangtuamu? Mereka masih ada, kan? Kenapa tidak kamu temui saja mereka, Seri? Mereka pasti merindukanmu.”

            “Tapi, aku sudah mengecewakan mereka, Uni.”

            “Bagaimana pun kelakuan putra-putri mereka, pada akhirnya, orangtua akan selalu membuka pintu maaf.”

*

            Benar kata Uni Marni. Ayah dan Ibu kembali menerimaku. Aku, putri yang durhaka pada mereka. Harusnya dulu aku mendengar perkataan orangtua yang sangat kucintai ini. Harusnya! Sayang penyesalan selalu datang terlambat.

            “Lokot yang tak lokot[1], Bu. Dia menelantarkan putrimu ini,” tukasku sembari menceritakan bagaimana kehidupan yang selama ini kujalani.

            “Seri tahu, ini balasan karena Seri sudah durhaka pada ibu dan ayah,” tambahku lagi.

            Ibu tersenyum kemudian membawaku ke dalam pelukannya. “Kamu masih punya kesempatan untuk kembali menata hidupmu, Nak. Pergunakan waktu itu sebaik mungkin.”

*

            Masa lalu tidak dapat dilupakan. Juga tidak dapat dihapus dari kepingan kehidupan. Tetapi masa depan yang baik, bisa direncanakan. Aku memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bekerja sampingan sebagai guru privat. Kunikmati hari demi hari dengan penuh rasa syukur. Pelan-pelan aku mengerti. Apa yang terjadi di masa laluku adalah cara Tuhan untuk membuatku menjadi perempuan tegar, tangguh dan mandiri.

[1] Lengket. Bahasa Mandailing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s