Cerpen Radar Surabaya – Aku, Dia, dan Kepingan Masa Lalu


Radar Surabaya. Minggu, 08 November 2015.

Radar Surabaya. Minggu, 08 November 2015.

AKU, DIA, DAN KEPINGAN MASA LALU

Eva Riyanty Lubis

            Berlin memberikan suhunya yang sejuk tatkala aku duduk di jendela apartemenku yang terletak di lantai tiga puluh lima. Secangkir teh hangat berada dalam genggaman. Sambil menyeruput teh, aku tetap mengedarkan pandang pada hamparan kota Berlin yang padat aktivitas.

            Tak lama kemudian ponselku berdering. Dengan cepat aku melangkah menuju ponsel itu diletakkan.             Senyum sumringah spontan bertengger di wajahku yang kata orang tergolong manis. “Hello, James. Do you miss me?” tanyaku langsung pada si penelepon dengan gaya bicaraku yang centil.

            James, pria asal Inggris yang baru kukenal tiga hari yang lalu di bar milik temanku, Rose. Tampan, parlente, dan sudah pasti mempesona.

            “Oke, I will come,” jawabku cepat sembari meletakkan kembali ponsel itu dan langsung berlari kecil menuju kamar mandi.

            Seperti hari-hari sebelumnya, aku melakukan pekerjaan yang sama. Sebuah pekerjaan yang bertujuan untuk memuaskan pria-pria bangsawan atau paling tidak mereka yang memiliki uang banyak dalam membayar pelayanan yang aku berikan.

            Aku mematut diri di depan cermin. Bayangan wajah dan penampilanku yang menurutku mendekati sempurna membuatku sedikit berbangga hati. Rambut gelombangku yang sepinggang kubiarkan tergerai indah. Aku mengenakan mini dress tak berlengan berwarna hijau dengan dipadukan sepatu boots hitam. Tas kecil mungil bermutiara kubiarkan bertengger di bahuku. Kemudian aku menyapukan lipstick berwarna bening di bibir tipisku. Perfect!

            Sebelum melangkahkan kaki dari apartemen, aku tak lupa membungkus tubuhku yang bak gitar Spayol dengan cardigan berwarna senada.

            Aku memilih taxi untuk menemui James di salah satu hotel ternama di Berlin. Waktu yang di perlukan untuk tiba di hotel itu kurang lebih setengah jam. Dan seperti biasa, aku tetap merasa deg degan untuk melakukan pekerjaanku.

            Lalu secara tiba-tiba, kepingan masa lalu penuhi pikiranku.

            “Ibu kenapa muntah terus menerus? Ibu sakit?” tanyaku pada ibu ketika keluar dari kamar mandi. Dia menatapku tajam kemudian berjalan tanpa mempedulikan pertanyaanku. Sungguh, aku benar-benar dibuat penasaran akan tingkah ibu. Satu-satunya orangtua yang aku miliki.

            Suatu hari, Tante Jannah, teman akrab ibu datang ke rumah untuk menjemput ibu. Namun saat itu ibu sedang pergi berbelanja ke pasar.

            “Jadi Ibumu masih terus-terusan muntah? Halah, sudah kubilang berulang kali untuk memakai pengaman. Tapi tetap saja dia membandel,” desis perempuan berpenampilan menor itu acuh tak acuh.

            Mataku melotot tajam. Tubuhku pun seakan menegang, kaku. “Apa maksud Tante? Ibuku hamil? Tidak mungkin! Ayah sudah meninggal sejak aku kecil!” Ucapku setengah berteriak.

            Tante Jannah mendengus kesal sambil menghidupkan rokok yang sedari tadi ada di dalam sakunya.

            “Kau bodoh apa pura-pura sih, Dewi? Sudah SMA tapi pikirinannya lelet. Atau kau juga belum tahu pekerjaan sampingan Ibumu?” tanyanya yang membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang.

            “Ibu seorang pembantu rumah tangga!” ucapku tegas. Tante Jannah malah tertawa ngakak. Tawa yang membuat bulu kudukku berdiri.

            “Kami ini pemuas nafsu, Dewi. Hah, bodohnya kau tidak menyadari itu!” jawab perempuan itu sembari tersenyum sinis ke arahku.

            Aku tumbang. Lalu semua terasa gelap.

*

            “Aku benci, Ibu. Tidak seharusnya Ibu berbuat jorok seperti ini. Memalukan!” Aku memaki ibu habis-habisan tatkala ibu pulang kerja jam sepuluh malam. Ibuku yang pendiam itu mendadak memelototkan matanya padaku. Mungkin ibu kaget dengan ucapanku itu. Sebenarnya sejak awal aku sudah curiga dengan pekerjaan ibu. Apalagi ibu kerap pulang malam. Padahal dulunya jam enam sore ibu sudah tiba di rumah.

            “Kau pikir hanya dengan menjadi pembantu aku bisa membiayai sekolahmu? Kau selalu merengek untuk di sekolahkan di tempat yang mahal. Aku tahu kau pintar. Tapi keadaan ekonomi kita tidak mendukung. Makanya aku melakukan ini. Salah, Dewi?” Air mata ibu tiba-tiba luluh.

            Hatiku terasa sangat sakit. Namun egoku tetap ingin menang, “Tapi ini menjijikkan Ibu! Kalau sampai teman-temanku tahu, aku bisa dicap sebagai anak pelacur. Aku benci pada Ibu.” Aku membentaknya keras. Kulihat air mata ibu semakin lama mengucur dengan deras.        Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk merantau. Aku sudah tidak kuat lagi. Sebab semua teman-temanku telah mengetahui pekerjaan ibu dan mereka terus menerus mencemo‘ohku.

            Aku berangkat menuju Jakarta. Awalnya aku terlunta-lunta di sana hingga bertemu dengan Pak Reinald, seorang germo kelas kakap yang mengenalkanku pada George. Dia pengusaha tua kaya raya asal Prancis. Awalnya aku menolak hal itu, namun karena aku tidak memiliki uang dan tak satupun perusahaan menerima lamaran kerjaku, mau tak mau aku masuk dalam lubang penuh dosa. Sebuah kehidupan yang awalnya kupandang dengan rasa jijik.

            George melimpahiku materi. Bahkan aku bisa melanjutkkan pendidikan sampai S2 di Jerman. Setelah dia meninggal dan aku masih butuh uang banyak, aku pun mencari pria yang bisa menopang hidupku. Bukannya aku tidak mampu untuk bekerja. Tapi rasanya mengumpulkan duit dengan cara halal itu melelahkan. Butuh waktu lama. Jadi kalau ada jalan pintas, kenapa tidak? Apalagi aku juga menikmati pekerjaan ini.

            Pernah suatu kali ibu menelepon dan menyuruhku pulang.

            “Pulanglah, Nak. Jangan lakukan pekerjaan itu lagi.”

            Aku tidak tahu siapa yang mengatakan kepada ibu tentang pekerjaanku. Atau mungkin saja itu nalurinya sebagai seorang ibu?

            “Nggak bisa, Bu. Aku masih butuh uang yang banyak. Kehidupan di sini keras, Bu,” jawabku tegas.

            “Bukan begitu caranya, Nak. Kembalilah ke jalan yang benar,” ucapnya lembut.

            Aku tertawa pelan, “Loh, inikan Ibu yang ngajarin? Ibu lupa?”

            Aku belum bisa menerima kehadiran Ibu seutuhnya di dalam hidupku. Meski ibu telah kembali ke jalan yang benar, aku tidak peduli. Meski ibu tak pernah menerima uang hasil pekerjaanku, aku juga tidak peduli. Ini hidupku dan aku ingin semua berjalan sesuai dengan kehendakku.

*

            James berdiri di hadapanku dengan gagahnya. Dia memandangku lekat. Lama kami saling berpandangan hingga akhirnya dia mulai menyentuh daguku. Sebuah kecupan manis dia daratkan di bibirku.

            James, aromanya yang harum membuatku terbius.     Dia benar-benar menawan dan membuatku segera ingin melakukan apa yang seharusnya kulakukan.

“Aku tidak bisa, Dewi,” ucapnya tiba-tiba. Tubuhnya bergetar hebat. Dia terduduk di sudut ranjang hotel yang megah itu sambil menopang wajahnya yang rupawan dengan kedua tangan.

            Aku terkejut bukan main. “Apa yang kamu katakan?”

            “Aku tidak bisa melakukannya, Dewi,” ulangnya serak.

            “Kenapa, James? Apa ada yang salah denganku? Pakaianku kurang bagus?” tanyaku hati-hati sembari menggenggam jemarinya.

            James mulai mengalihkan pandangannya dariku. Aku tahu kalau matanya menyiratkan kesedihan mendalam. Tetapi aku masih belum mengerti dengan tingkahnya ini.

            “James?”

            “Pulanglah. Aku akan kembali memanggilmu kalau aku benar-benar sudah siap dan ingin melakukannya denganmu. Untuk bayaran, akan aku transfer secepatnya.” Kemudian James meninggalkanku yang masih tak habis pikir dengan tingkahnya.

            Sakit tiba-tiba menyerang ulu hatiku. Beginikah rasanya sebuah penolakan?

*

            Aku mencoba melupakan James. Satu-satunya lelaki yang berhasil membuatku merasa terhina. Namun tanpa diduga, dia kembali masuk ke dalam kehidupanku.

            “Datanglah ke tempatku. Aku ingin merayakan ulang tahunku denganmu,” ucapnya di seberang sana.

            “Aku tidak bisa,” sahutku mantap. Tak ingin dia melakukan hal yang seperti dulu padaku.

            “Please, Dewi. Datanglah. Aku menginginkanmu, Sayang.”

*

            Malam itu, seperti yang James katakan merupakan malam pergantian usia baginya. Dia sudah tidak seperti James yang membuat hatiku sakit. Dia berbeda. Secara bersama-sama kami mendapatkan kenikmatakan. Tentu saja aku merasa bahagia.

            “Aku jatuh cinta padamu, Dewi,” bisiknya di tengah belaian-belaian liar yang dia lakukan pada tubuhku.

            “Terima kasih telah hadir dalam hidupku,” tambahnya lagi.

            “Jamess,” aku memandangnya dengan napas terengah-engah.

            “Tutuplah matamu, Sayang. Aku akan kembali membuatmu mendapatkan kenikmatan luar biasa,” bisiknya lagi dengan penuh kelembutan.

            Lalu dengan segera kulakukan permintaannya itu.

            Hanya beberapa detik, namun dia berhasil melakukan tugasnya dengan sempurna.

            “George adalah ayahku. Dan kamu perempuan terbejat yang telah merebut dia dari ibuku. Pergilah ke Neraka, Sayang.”

            Sebuah kalimat lembut yang berhasil menutup lembaran kisah hidupku di dunia.

One thought on “Cerpen Radar Surabaya – Aku, Dia, dan Kepingan Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s