Cerpen Analisa – Tujuh Sumpah


tujuh sumpah

Harian Analisa Medan. Minggu, 22 November 2015

TUJUH SUMPAH

Eva Riyanty Lubis

 

Ketika bersamamu, waktu terkikis begitu cepat. Apa benar kebersamaan sering melenakan? Ya, mungkin saja. Yang harus kamu tahu, bahwa seberapa besar aku percaya padamu, adalah seberapa besar kutitipkan cinta pada hatimu. Maka, jangan pernah kecewakan aku. Jangan kamu lupakan atau sia-siakan hati yang telah kuberi. Lagian kamu juga telah bersumpah dihadapanku. Kamu beri aku tujuh sumpah. Dan sumpah itu sudah melekat pada diriku. Lekat. Aku dan dia menjadi satu.

Bagiku, kamulah yang telah menghangatkan pagi. Kamu juga menyalakan hari. Bersamamu aku tak pernah takut pada apapun. Di sampingmu sepertinya semua terasa mudah dan tak ada masalah. Jadi, bisa kusimpulkan bahwa kamu adalah salah satu anugerah terbesar di dalam hidupku.

“Kamu selalu pandai merangkai kata,” ujarmu jika aku mengungkapkan rasa yang ada pada diriku. Sebenarnya tak pernah ada niat dalam hatiku untuk bermetafora padamu. Entahlah. Kalimat demi kalimat tak terduga itu selalu muncul tanpa kuperintah. Spontan.

“Aku hanya mengungkapkan apa yang tengah aku rasa. Bukankah kamu juga tahu kalau aku bukanlah tipikal orang yang pandai menyembunyikan perasaan?”

“Ya, Sayang. Ya. Aku tahu,” jawabmu dengan senyuman manis yang selalu kunantikan. Belaian lembut jemarimu di wajahku membuatku merasa nyaman, terlindungi dan dicintai.

Sadarkah kamu kalau ini kali pertama aku merasakan hal seluar biasa ini? Rasa yang membuatku bersemangat melakukan apapun. Tak takut pada apapun. Satu keinginan terbesarku saat ini, bisa hidup bersamamu secepatnya.

*

            “Nur, Bapak ingin bicara denganmu,” tukas lelaki paruh baya itu ketika mendapati aku tengah asyik dengan gadget di ruang tamu. Aku memandang Bapak beberapa detik sebelum menganggukkan kepala. Dengan langkah pelan, kuikuti Bapak yang memilih untuk duduk di teras rumah. Salah satu tempat favorit beliau di rumah ini.

            “Bapak mau bilang apa?” tanyaku setelah ambil posisi duduk di samping Bapak. Hanya ada meja kecil sebagai penghalang di antara kami.

            Bapak mengembuskan rokoknya sedalam mungkin. Membiarkanku menerka-nerka seputar ucapan yang hendak beliau utarakan. Bapak adalah sosok lelaki yang tak banyak basa-basi. Berbicara seperlunya saja. Dulu aku sempat membenci sikap Bapak. Namun seiring berjalannya waktu, barulah aku mengerti bahwa Bapak memang demikian adanya.

            “Sudah sejauh apa hubunganmu dengan si Bambang, Nur?”

            Pertanyaan dengan nada pelan dari bibir Bapak tersebut berhasil membuat pandanganku menjadi fokus sepenuhnya kepada beliau. Selama ini, Bapak tidak pernah komentar seputar urusan asmaraku. Lagian, aku juga sudah dewasa. Usiaku saja sudah jalan dua enam. Kini, aku bekerja di salah satu perusahaan swasta terkemuka di kota tempat aku lahir dan dibesarkan, Padangsidimpuan—Sumatera Utara.

            Aku mulai menjalin hubungan dengan beberapa lelaki sejak duduk di bangku sekolah tingkat atas. Tidak pernah ada hubungan yang awet. Paling lama hanya dua bulan. Begitu seterusnya sebelum aku bertemu dengan Bambang.

            Bambang, wartawan muda dari kota Medan yang ditugaskan di kotaku ini. Dia lebih tua setahun dariku. Parasnya tak begitu luar biasa. Penghasilannya juga. Mungkin kalau dibandingkan denganku, gajiku lebih banyak dari pada dia. Lantas, mengapa aku bisa menitipkan hati padanya?

            Cinta terkadang tak bisa ditafsirkan dengan kata-kata. Begitulah Bambang padaku. Dia bukanlah lelaki romantis. Bahkan bisa dibilang dia mirip dengan Bapak. Tentu saja dengan tambahan pembuktian cinta yang sangat luar biasa padaku.

            Dua tahun sudah kami lalui bersama. Berawal dari perkenalan singkat di salah satu toko buku yang ada di kotaku. Saat itu aku tengah mencari buku resep makanan, sedangkan dia sibuk dengan buku motivasi. Dan ucapan “Hai” mengantarkan kami ke tahap selanjutnya.

            “Nur?”

            “Seperti yang Bapak lihat. Kita serius menjalani hubungan ini,” ucapku dengan penuh keyakinan.

            “Kamu mencintainya?”

            “Tentu saja, Pak. Kalau Nur tidak mencintainya, tidak mungkin kami bisa tetap bersama. Bapak tahu sendiri bagaimana Nur sebelumnya,” sahutku dibarengi senyuman. Sebenarnya agak canggung berbicara dengan Bapak dengan topik asmara seperti ini. Biasanya, aku hanya bercerita kepada Ibu. Pada Ibu, aku bisa menumpahkan segala rasa. Ibu juga dengan senang hati menjadi pendengar setia sekaligus pemberi nasehat nomor satu untukku.

            Ibu adalah puisi abadi yang tak akan pernah kutemukan di dalam buku. Ah, betapa kumerindukan Ibu. Memikirkannya selalu membuat hatiku pilu. Ibu, cintaku, malaikatku, memutuskan untuk pergi menghadapNya empat bulan yang lalu. Meninggalkan aku, abang—satu-satunya saudaraku yang telah menikah dan kini tinggal di Kota Batam—, dan Bapak.

            Awalnya aku gamang bagaimana seharusnya aku melanjutkan hidup tanpa Ibu. Namun, Bambang selalu ada disisiku. Memberi kekuatan dan keyakinan bahwa ini adalah jalan terbaik yang harus kuhadapi.

            “Kamu bisa melalui ini semua, Sayang.”

            “Tidak… tidak… aku tak sanggup,” ucapku dengan air mata berderai kala itu.

            “Kamu jauh lebih kuat dari apa yang kamu duga. Aku tahu kamu, Sayang. Jangan menyerah sebab itu bisa membunuh jiwamu.”

            Aku harus menata hati dan kehidupanku setelah kepergian Ibu. Kepergian mendadak tanpa ada sakit apalagi pamit. Tentu saja bukan hanya aku yang merasa kehilangan. Bapak juga demikian. Dia semakin diam dalam diamnya. Kami seperti dua orang asing yang tinggal di dalam satu atap. Berbicara seperlunya saja. Saling larut dalam pikiran masing-masing.

            Satu yang aku tahu pasti, Bapak mencintai Ibu teramat sangat.

            “Kalau kamu mencintainya, begitu juga dia padamu, maka bersegeralah untuk menikah.”

            “Pasti, Pak. Kita telah membicarakan itu. Selama ini kita juga tengah menabung untuk mempersiapkan segalanya.”

            “Ya. Itu bagus. Bapak tak sabar ingin melihat kamu bahagia.”

            Sungguh, begitu terharu aku mendengar ucapan Bapak.

            “Nur juga ingin Bapak bahagia. Sejujurnya Nur merasa bersalah sebab merasa menjadi orang yang paling kehilangan atas kepergian Ibu. Padahal Bapak juga merasakan hal yang sama.”

            “Semua yang bernyawa akan kembali padaNya, Nur.”

            “Tapi…”

            “Bapak ingin kamu bahagia. Sudah saatnya, Nur. Sudah saatnya.”

            “Kalau Nur bahagia, apa Bapak juga bahagia?”

            “Tentu saja,” jawab Bapak dengan senyuman yang membuat hatiku bergetar.

            Ya Tuhan… betapa bersyukurnya aku masih ada Bapak dan Bambang di sisiku. Tanpa kuduga, kristal bening itu luruh juga.

            “Maafkan Bapak tidak bisa menjadi Bapak yang baik untukmu. Bapak tidak seperti Ibu yang bisa memberimu kasih sayang penuh.”

            “Jangan berkata seperti itu, Pak,” sahutku tak suka. Bapak adalah Bapak. Begitulah beliau.

            “Nur sayang Bapak,” ujarku tulus.

            Bapak menganggukkan kepala.

            “Masuklah ke dalam Nur. Malam sudah semakin dingin. Besok pagi kamu masih harus bekerja.”

            “Baiklah, Pak. Bapak juga jangan kelamaan duduk di teras. Nanti masuk angin. Lagian bukan Nur saja yang besok harus kerja. Bapak juga,” jawabku mengingatkan.

*

            Aku dan Bambang tengah duduk berhadapan. Kami memutuskan untuk makan malam bersama. Aku memperhatikan wajah lelakiku itu dengan seksama. Bahkan melihatnya sedemikian dekat sudah membuat rasa bahagiaku membuncah.

            “Hayooo… jangan dilihatin terus akunya.”

            “Habis aku kangen,” jawabku jujur.

            “Iya, Sayang. Aku tahu. Maaf membuatmu menunggu sampai berhari-hari.”

            Kami memang tidak bertemu beberapa hari belakangan ini sebab dia harus kembali ke kota Medan. Katanya ada urusan pekerjaan.

            “Sebenarnya seminggu merupakan waktu yang cukup lama. Tapi karena sekarang kamu udah ada di depanku, jadi tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi,” ucapku singkat.

            Beberapa detik kemudian, pramusaji hadir di antara kami bersama makanan yang telah dipesan.

            “Makan yang banyak. Aku nggak suka lihat kamu makin kurus.”

            “Kan aku diet, Sayang. Kamu lupa kalau aku pengen dihari pernikahan kita, aku jadi perempuan tercantik?”

            “Tanpa diet pun kamu tetap menjadi perempuan tercantik di mataku.”

            “Sudah pandai ngegombal ya sekarang?” ledekku senang.

            “Kan belajar dari kamu,” jawab Bambang tak mau kalah.

            “Sayang, boleh aku minta sesuatu darimu?”

            “Tentu saja. Apa itu?”

            “Aku ingin kita menikah secepatnya.”

*

            7 Sumpah itu masih melekat. Di hati bahkan di dinding kamarku.

  1. Aku mencintai dan menginginkanmu, Nur.
  2. Hanya kamu.
  3. Hanya kamu.
  4. Hanya kamu.
  5. Hanya kamu.
  6. Hanya kamu.
  7. Hanya kamu selamanya.

Cinta memang sering kali dibodohi dengan kata-kata. Mana yang mesti kupercaya? Kata atau mata?

“Nur, jangan melamun terus. Yuk sarapan dengan Bapak. Bapak masak nasi goreng spesial untuk kita berdua.”

Dan ternyata hingga kini, cinta sejati hanya kutemukan dari kedua orangtuaku.

Padangsidimpuan, September 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s