Cerpen – Dendam Salah Alamat

Eva Riyanty Lubis

            Kalau saja aku bisa bersikap lebih tegas, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Kalau saja aku bisa sedikit lebih dewasa, mungkin masalah itu akan selesai. Hah… Berbagai macam pengandaian. Namun hidup terus berjalan. Tak akan pernah ada pintu ajaib doraemon untuk mengulangnya kembali.

            Aku gadis kecil diam sendiri. Duduk meringkuk menahan dingin. Memeluk sisa tulang yang membungkus. Mulut terkunci rapat padahal menangis. Getaran tubuhku berkata seolah ia hendak ingin berlari. Rambutku pun demikian. Tarik menarik seolah ingin berpisah denganku. Ah…. Mereka berontak! Ingin mencari raga baru.

Pilu hatiku. Tidakkah mereka ingat kisah manis selama puluhan tahun itu? Tidakkah mereka cukup dewasa memikirkan nasibku kini?

            Aku berjalan. Terus berjalan tanpa memperhatikan tatapan orang yang mungkin memandangku dan berfikir kalau aku ini aneh. Sebab aku terus berjalan dan menundukkan wajah. Murung. Gelisah. Aku berjalan tanpa tujuan. Lunglai. Lesu. Tak ada gairah hidup. Lama-lama seperti manusia tak bernyawa. Pucat.

            Suara desiran air mengalir pelan. Dedaunan bergerak ke sana kemari seolah menyambutku. Sungai. Kini aku ada di tepian sungai. Aku bahkan tidak menyadari kalau aku sudah berjalan sejauh itu.

Saat ini, aku tinggal di sebuah kampung kecil di Padangsidimpuan. Keluarga kami merupakan keluarga terpandang di sini.

Di kampung ini, ada sebuah sungai yang sangat jernih. Namun, penduduk tidak lagi melakukan aktifitas di sungai seperti mandi, mencuci dan sebagainya disebabkan mereka telah memiliki sumur sendiri. Hal itulah yang membuat sungai ini tetap bersih dan jernih.

Kuputuskan untuk beristirahat sejenak. Meregangkan sendi-sendi yang mulai kelu. Ingin aku menikmati desiran air yang mengalir begitu tenang. Dan aku bersyukur hanya ada aku di sini. Kulipat celanaku ke atas. Lalu aku berlari kecil ke sungai yang begitu jernih itu. “Segarnya….”  Aku pun mulai membasuh wajahku.

Ah…. Baru kusadari bahwa lelah ini begitu menumpuk.

            “Apa yang kamu lakukan di sini?” Seseorang mengagetkan dan membuatku hampir terjatuh. Suaranya yang menyeramkan berhasil membuat bulu kudukku berdiri. Tubuhku seakan menegang. Aku masih berdiri di tempatku. Namun aura seseorang yang ada di belakangmu menyuruhku agar berbalik. Dan perlahan tapi pasti, aku lakukan itu.

            Sesosok banyangan. Berdiri beberapa meter di depanku. Namun kakinya tak menyentuh tanah. Mukanya hitam legam. Tampak beberapa goresan luka di sana. Rambutnya menjuntai panjang tak terurus. Kukunya hitam panjang. Warna bajunya juga hitam. Aku benar-benar ketakutan. Apalagi dengan tatapan matanya yang sangat tajam. Melotot seperti hendak keluar.

            “Kau seharusnya di rumahmu! Bukan di sini!” Dia membentakku. Aku kaget dan terhenyak. Ingin kuberlari, namun kakiku serasa lumpuh. Ya Tuhan…. Aku benar-benar takut. Saking takutnya aku bahkan ingin menangis.

            “Kau bodoh! Sudah tujuh belas tahun namun sikapmu benar-benar kekanak-kanakan. Ayo ngomong! Kau punya mulutkan?”

            Dia kembali membentakku. Kurasakan kalau keringat dingin mulai mengucur deras di tubuhku.

            “Bodoh!”

            Dia kembali mengataiku. Dengan tatapan matanya yang menakutkan dan diakhiri tawa nyaring yang menyeramkan.

Aku paling tidak terima kalau dikatai bodoh. Aku yang semula takut akhirnya memberanikan diri untuk menjawab perkataannya.

            “A… a… apa maksudmu mengataiku? Siapa kau?”

            “Akulah yang akan melindungimu. Sekarang pulanglah ke rumah, dan katakan kau membenci mereka. Katakan kau menyesal telah mempunyai orang tua seperti mereka.”

            “Tidaaaaaaaaak!” entah dari mana keberanian itu datang. Ya…. Aku berteriak membentaknya.

            “Kau kesalkan dengan keputusan mereka? Kau bencikan sama mereka? Ayolah, katakan kepadaku!”

            Kali ini suaranya lebih pelan. Namun, ada senyum sinis di sudut bibirnya yang hitam legam itu.

            “Aku memang kesal kepada mereka. Tapi tidak benci. Mereka orang tuaku,” jawabku juga dengan intonasi yang mulai pelan.

            Dia tertawa. Nyaring. Persis seperti suara kuntilanak yang sering aku tonton di televisi. Membuatku semakin merinding. Kucoba melangkahkan kakiku ke luar dari sungai. Namun sia-sia. Seperti tertancap. Dia memandangku dengan seringainya yang mengerikan. Mungkin dia tahu kalau aku berusaha pergi dari tempat itu.

            “Bunuh mereka! Setelah itu kau akan bahagia. Kau akan puas! Tidak akan ada lagi yang mengusikmu. Lalu kau akan bebas dari kegalauan dan kegundahan. Hidupmu akan menjadi indah. Kembali seperti semula. Hidup yang memang kau inginkan.”

            Setelah mengucapkan itu dia kembali tertawa nyaring.

            “Aku tidak bisa melakukan itu,” ucapku agak berteriak dan menatap bola matanya lekat.

            “Kau bisa. Tak perlu pisau atau alat senjata lainnya. Pulanglah ke rumah. Temui mereka dan katakan kau membenci mereka. Setelah itu bunuh mereka. Tatkala kebencian itu muncul dari dasar hatimu, kukumu akan berubah semakin panjang. Bunuh mereka dengan itu! Sangat mudah bukan? Jangan takut. Aku akan selalu mendampingimu. Aku akan selalu ada untukmu. Tanpa kau panggil pun, aku akan datang.”

            “Cepat lakukan! Sebelum mereka pergi dan kau akan susah untuk mencari jejak mereka! Percayalah padaku, Gadis manis…”

            Itu kalimat terakhirnya. Kemudian, ia kembali tertawa. Setelah tawa nyaringanya itu reda, dia kemudian menghilang dalam sekejap dari pandanganku.

            Aku kaget bukan main.

Setelah kepergiannya, aku mencoba melangkahkan kakiku. Oh, kau harus tahu, dengan mudah aku bisa melangkahkannya. Lalu secepat kilat aku kembali berjalan. Begitu cepat. Seperti ada seseorang yang menggerakkanku. Aku bahkan tidak bisa mengontrolnya. Aku terus berjalan dan tak lama lagi aku akan tiba di rumah.

Kemudian yang muncul dalam dipikiranku hanya satu. Membunuh mereka. Orang tuaku.

            Tiga bulan yang lalu. Sebelum semuanya bermula.

            Aku beserta orang tuaku tinggal di sebuah perumahan mewah di Medan. Tetapi karena perusahaan sawit Bapak mengalami masalah, yakni adanya kasus pencurian sawit yang seharusnya dikirim ke Medan tetapi tak jua kunjung tiba. Hal itu terjadi hingga berkali-kali. Akibatnya keuangan perusahaan pun menjadi menipis.

            Akhirnya Bapak dan Ibu memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Kampung halaman Bapak tepatnya. Dan yang mengurus perusahaan di Medan adalah orang kepercayaan Bapak. Sedang aku tetap berada di Medan. Menunggu libur sekolah tiba agar bisa menyusul mereka di kampung.

            Cinta tak pernah salah menuju tuan rumahnya. Walau dengan kondisi apa pun. Cinta tetaplah sama. Sebab, tak ada penghalang untuk cinta. Dan semua berhak mendapatkannya. Tanpa terkecuali.

            Hari libur sekolah telah tiba. Sebelum berangkat ke kampung, aku menyempatkan diri pergi ke mall untuk membeli beberapa keperluan yang mungkin sulit di dapatkan di kampung. Namun sesuatu menghentikan langkahku. Yang membuat aliran darahku mengalir tersendat. Nafasku sesak. Kurasakan mukaku memanas.

            Malaikatku bergandengan tangan mesra dengan seseorang yang tak kukenal. Oh ya, kusebut dia malaikatku sebab selain rupanya yang menawan, dialah yang selalu ada untukku di kala susah dan senang.

Lelaki yang bersamanya itu mungkin berusia sama dengannya. “Ah… pasti salah lihat. Ibu kan ada di kampung dengan Bapak,” lirihku dalam hati.

Kugeleng-gelengkan kepalaku agar bayangan mereka segera menghilang dari pikiranku. Dan setelah itu aku berbalik arah. Berjalan dari arah yang tidak akan mungkin mereka lihat.

*

            Akhirnya aku tiba di kampung. Bapak menyambutku dengan hangat. Itu sifatnya yang sangat kusukai. Begitu lembut. Memanjakanku penuh dengan kasih sayang.

            “Ibu di mana?” tanyaku setelah tak menemukan wajahnya di rumah besar itu.

            “Ada urusan katanya. Dua hari yang lalu dia berangkat ke Medan.”

            Burrrrrrr…. Ada gejolak lain dalam diriku. “Apa yang kemaren itu Ibu?” pikirku mengingat kejadian tempo hari. “Tidak! Pasti tidak!” kupaksa batinku untuk menolak kenyataan pahit itu.

            Keesokan harinya Ibu muncul. Wajahnya tampak lelah. Tak ada senyum manis di sana. Dia lebih banyak diam. Hal yang jarang kudapati. Sampai ketika kami berkumpul untuk makan malam bersama.

            “Ceraikan aku, Bang Jon.”

            Grrrrrrr…. Petir seakan meledak dari dalam diriku. Ku lihat Bapak juga merasakan hal yang sama. Matanya melotot karena terkejut. Suasana mendadak hening. Makanan yang sudah terhidang lengkap di depan kami akhirnya tak tersentuh.

            “Apa maksudmu?” Bapak akhirnya buka mulut. Menatap malaikatku dengan tatapan matanya yang tajam.

            “Ceraikan aku,” ulang Ibu sambil memandang makanan yang ada di hadapannya tanpa menatap Bapak sedikitpun.

            “Kau seharusnya tidak mengucapkan itu di dekat putrimu!”

            “Biar dia tahu. Dia sudah dewasa. Tak ada yang perlu ditutup-tutupi.”

            “Ada masalah apa ini?” aku memberanikan diri untuk buka suara. Namun kurasakan genangan kristal bening mulai jatuh di pipiku. Aku benar-benar takut untuk menerima kenyataan seperti saat ini.

            “Ibu nggak cinta sama Bapakmu. Ibu sudah punya kekasih,” jawab Ibu tanpa rasa bersalah sedikitpun.

            “Setelah tujuh belas tahun kamu berani mengatakan itu? Di mana harga dirimu, Irma?” Bapak tampak naik pitam. Ditatapnya Ibu lekat-lekat. Ada gurat kekecewaan di wajahnya. Aku benar-benar panik. Tidak tahu harus berbuat apa.

            “Aku nggak bisa mencintaimu, Bang! Aku sudah berusaha. Namun hatiku yang tersiksa!” Suara Ibu meninggi.

            “Setelah kamu mendapatkan semuanya kini kamu berani mengatakan itu? Kau yang memulai, Irma! Kau! Kau yang datang padaku mengemis belas kasihan! Kau lupakan itu semua? Setan doho!”[1]

            Tampak emosi terpancar di wajah Bapak yang biasanya tak banyak omong. Setahuku mereka pasangan yang serasi. Walau umur mereka terpaut jauh yaitu dua puluh tahun.

Aku memang tak pernah menemukan mereka sekedar bercanda tawa atau bermesra-mesraan. Tetapi walau begitu, aku bisa merasakan cinta yang alami dari mereka berdua. Dari cara mereka bertatapan, cara mereka mengasuhku, aku bisa melihat itu. Setahuku mereka juga tak pernah bertengkar. Tetapi mengapa ini bisa terjadi? Ada apa di balik semua ini? Aku benar-benar bingung.

            “Aku minta maaf, Bang. Aku masih mencintainya. Kekasihku di masa lalu. Dia berjanji akan mencintaiku lagi. Kami akan memulainya dari awal. Abang, aku terus menerus diliputi rasa bersalah dengan berpura-pura mencintaimu. Abang boleh mengambil Naya. Aku ikhlas. Pun kekasihku, dia ikhlas. Kami sama-sama ikhlas kalau Naya sama Abang.”

            Mendengarnya, air mataku semakin mengucur deras. Mulutku seakan terkunci rapat. Hanya bisa menangis dan melihat pertengkaran mereka.

            “Kau datang mengemis cinta di saat aku memiliki segalanya. Sekarang tatkala perusahaan sedang mengalami masalah, kau pun bertingkah. Harusnya dari awal aku sadar kau hanya memanfaatkanku. Sekarang, bawa anak harammu itu dan pergilah dari hidupku. Polo idoma giotmu!”[2]

            Aku ternganga. “Apa maksud Bapak dengan anak haram? Akukah itu?”

            “Abang lebih dekat dengan Naya. Dia juga akan memilih bersamamu, Abang. Kami tidak keberatan, Abang.”

            “Tidaaaaaak! Ambil semua barangmu dan pergi dari sini!” Bapak membentak Ibu. Nafasnya tampak naik turun tidak beraturan. Kemudian ia pergi meninggalkan kami.

            Aku sungguh merasa kaget, tidak bisa berkata-kata. Tangisku kembali pecah. Semakin kencang. Ibu juga melongos pergi meninggalkanku. Aku kini sendiri. Tanpa seorang pun yang memperhatikan.

*

            Aku menatap kedua manusia yang tengah membereskan barangnya masing-masing. Pertama aku berjalan ke arah Ibu. Rasa benciku semakin menggunung sejak aku tahu bahwa aku anak haram hasil hubungannya dengan mantan kekasihnya itu. Pasti lelaki yang kulihat di mall waktu itu. Karena lelaki itu tidak bertanggung jawab, Ibu meminta Bapak menikahinya. Dulunya Bapak merupakan bos di tempat ibu bekerja.

            Kasihan, Bapak akhirnya menerima Ibu. Dan waktu itu memang Bapak juga belum menikah. Keasyikan mencari uang membuatnya lupa akan kewajibannya berkeluarga.

            Aku menatap Ibu dengan perasaan jijik. Tanganku hendak mencekik lehernya. Dan secara tiba-tiba aku dikejutkan dengan kukuku yang telah berubah menjadi panjang. Aku menatapnya dengan penuh rasa kebencian. Lalu mulai menikam lehernya. Dia menjerit. Berteriak histeris. Meminta pertolongan. Napasnya mengap-mengap.

            Lambat laun ku dengar derap langkah kaki seseorang. Bapak. Yang berusaha melepaskan cengkramanku dari leher Ibu.

            Bapak berteriak. Menyuruhku menghentikan semuanya. Mukanya memerah. Namun sekuat mereka berusaha meleraiku, aku malah mencekik Ibu sejadi-jadinya. Mungkin sosok hitam itulah yang memberiku kekuatan hingga bisa berbuat begini.

            “Hentikan Nayaaaaaa!!!”

            Tidak kugubris ucapan Bapak. Aku semakin menjadi-jadi. Kulihat muka Ibu sudah menunjukkan kelelahan. Nafasnya terpenggal-penggal. Mungkin beberapa menit lagi dia sudah berada di alam lain.

            “Nayaaaaaaaa….” Bapak kembali berteriak semakin keras. Menarikku sekencang-kencangnya dari tubuh Ibu.

            Tiba-tiba.

            “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….” Teriakan histeris menggema di ruangan itu. Sedang aku sudah terpelanting beberapa meter dari mereka. Aku ternganga melihat pemandangan yang tampak di depan mata. Ibu, dengan matanya yang memerah serta kukunya yang tiba-tiba memanjang, menancapkan kuku-kuku itu dengan sempurna di perut Bapak.

[1] Kau setan.

[2] Kalau itu maumu.

(Tulisan ini dimuat di Harian Analisa. Rabu,03 Agustus 2016)

Advertisements

Cerpen – Kakakku Berhati Mulia

Eva Riyanty Lubis

k-er

            Kisah ini bukan kisahku. Melainkan kisah orang yang sangat dekat denganku. Dia adalah kakakku. Putri dari kakaknya ibuku. Namanya Erni Lubis.

            Kak Erni, begitu dia kupanggil. Usianya 9 tahun di atasku. Merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Awalnya dia tinggal bersama kedua orangtuanya di Pinarik[1]. Namun, pas dia tamat SD, orangtuaku mengajaknya untuk ikut dan sekolah di kota kami saja, Padangsidimpuan. Soalnya kata ibuku, kak Erni anak yang cerdas, ibu takut kalau tetap tinggal di kampung, kak Erni tidak lagi melanjutkan sekolah. Apalagi di kampung pada masa itu belum ada SMP. Harus pergi ke kampung sebelah yang jaraknya tergolong jauh. Karena hal itu kebanyakan anak gadis di sana setelah tamat SD langsung memilih untuk menikah.

            Dia setuju ikut dengan kami. Sebab dia juga serius untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya.

            Hal pertama yang kurasakan setelah kehadiran Kak Erni di rumah adalah cemburu. Sebab sudah pasti cinta dari kedua orangtuaku akan terbagi menjadi tiga. Ya, waktu itu kami hanya dua orang. Yakni aku dan adikku Ihsan. Aku juga merasa kesal karena dia berasal dari kampung. Karena aku malu kepada teman-teman yang menanyai tentangnya.

            Kak Erni memang luar biasa. Dia diterima di SMP dan SMA favorit di kota kami. Dia juga berhasil memenangkan berbagai macam lomba seperti lomba renang, dan lomba berpidato. Nilai akademiknya juga selalu tinggi. Aku semakin cemburu padanya.

            “Ah, menang renang juga karena keseringan mandi di sungai waktu di kampung. Kalau aku juga tinggal di kampung, pasti bisa renang,” sindirku suatu kali padanya.

            “Juara lomba pidatokan karena umak[2] yang ngarang. Coba kalau kakak ngarang sendiri, mana biasa juara?” tambahku juga suatu kali.

            Tapi sesering apapun aku menyakiti hatinya, dia tidak pernah marah.

“Va, contoh kakakmu. Dia dari kampung tapi prestasinya sangat membanggakan. Orang yang tinggal di kota saja kalah. Kamu harus bisa seperti kakakmu,” ucap ibu suatu kali. Aku hanya mendengus kesal. Paling tidak suka dibanding-bandingkan dengan Kak Erni.

            Kalau ibu tidak ada di rumah, aku sering memarahinya. Mengatainya bodoh, jelek, bahkan aku ingat kalau aku juga pernah mengatainya sebagai pembantu.

            Berbagai cara kulakukan agar dia tidak betah tinggal di rumah. Padahal sejujurnya dia tidak pernah berbuat salah pada keluarga kami. Malah sebaliknya. Dia sangat cekatan. Dia membantu ibu memasak, menyapu, menyuci, menimba air, pokoknya hampir seluruh pekerjaan rumah dia kerjakan. Padahal tugas sekolahnya sangat banyak.

            Dia selalu mengerjakan tugas pada jam 4 pagi. Ya, hanya disitulah dia bisa mengerjakan tugas-tugasnya. Sebab kalau malam tiba, aku selalu merecokinya dengan menyuruhnya mengerjakan peer-peerku.

            Suatu hari karena lelah habis bermain di sekolah, pulang ke rumah jadi bawaanya emosi melulu. Karena yang ada di rumah hanya Kak Erni, maka dengan mudahnya semua kata-kata makian keluar dengan lancar dari mulutku untuknya. Dia tampak sedih dan kemudian lari masuk ke kamar. Sedang aku tersenyum puas.

            *

            Beberapa hari setelah kejadian itu, kak Erni pamit kepada kedua orangtuaku ingin ngekos. Katanya mau belajar mandiri dan tidak menyusahkan kami lagi. Orangtuaku sangat bersedih. Mereka berusaha membujuk kak Erni untuk tetap tinggal di rumah, tapi gadis berhati mulia itu tetap menolak dengan caranya yang halus.

            Akhirnya orangtuaku menyerah. Ketika itu aku merasa sangat bahagia.

            Sayangnya perasaan itu tidak berlangsung lama, sebab setelah kusadari, aku benar-benar telah jahat kepadanya. Dan aku malu untuk mengakui itu. Bahkan aku tidak berusaha sedikitpun untuk meminta maaf.

            *

            Tamat SMA dengan prestasi gemilang. Peringkat kedua dengan NEM tertinggi kala itu. Kemudian Kak Erni pindah ke Batam. Sebab di sana ada kakak pertamanya yang sudah bekerja. Kudengar, kak Erni juga ikut bekerja. Setahun bekerja, kemudian dia melanjutkan pendidikannya pada salah satu universitas terkemuka di kota itu.

            Tak ada usaha yang sia-sia. Dan niat tulus akan membuatkan hasil gemilang. Kerja sambil kuliah merupakan pilihan yang lumayan sulit. Tapi Kak Erni mampu menjalani keduanya dengan baik. Bahkan dari jerih payahnya sendiri dia bisa membantu uak di kampung. Rumah mereka yang dulunya kecil kini sudah berubah menjadi besar berkat jerih payahnya.

            Dia berhasil membuktikan kalau dia bisa. Meski begitu, dia tidak pernah melupakan asal usul dan saudara-saudaranya. Materi yang dia miliki tidak pernah dimakan sendiri. Selalu berbagi. Lalu Allah membalasnya dengan meluluskannya dalam test penerimaan PNS Kejaksaan. Padahal dia tamatan Managemen Informatika Komputer. Begitulah kuasa Sang Pencipta. Tidak ada yang tidak mungkin.

            Yang membuatku sedih sekaligus terharu, dia tidak pernah dendam padaku. Malah kak Erni rajin mengirimiku surat yang di dalamnya berisi kalimat-kalimat motivasi agar aku tidak pernah menyerah dalam menggapai cita-cita. Dia juga selalu mengirimiku uang walau hanya sekedar untuk jajan. Penyesalan itu selalu muncul. Sesal karena aku sudah berbuat jahat padanya. Sesal karena aku tidak menghargai dan menyayanginya. Begitu banyak waktu terbuang sia-sia.

            Kini aku berusaha memperbaiki semuanya. Bukan hanya kepada kakak. Namun kepada semua orang yang pernah kusakiti hatinya baik sengaja ataupun tidak.

*

 

Untuk kakakku tercinta Erni Lubis semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.

 I miss you.

Padangsidimpuan, Januari 2012.

[1] Merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Batang Lubu Sutam, kabupaten Padang Lawas, provinsi Sumatera Utara,Indonesia.

[2] Ibu

(Tulisan ini dimuat di Harian Analisa. Minggu, 04 September 2016)

Katakan Tidak pada Narkoba!

Eva Riyanty Lubis

say_no_to_drugs_by_conemrad1984

            Hari Anti Narkoba Sedunia atau yang dikenal dengan sebutan World Anti-Drug Day diperingati setiap 26 Juni untuk melawan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Peringatan ini dimulai sejak tahun 1987 oleh PBB. Itu artinya, narkoba tidak boleh dipandang sebelah mata.

            Di Indonesia sendiri kasus narkoba (narkotika dan obat-obat terlarang lainnya) semakin merebak. Dari pengkonsumsi, pengedar, penjual, bahkan bandar. Yang mengkonsumsi narkoba pun semakin meningkat, mulai dari kalangan orangtua sampai dengan generasi muda, dari yang hidup di jalanan sampai yang tinggal di rumah mewah. Jenisnya bermacam-macam, antara lain: morfin, heroin (putauw), petidin, termasuk ganja atau kanabis, mariyuana, hashis, kokain, dan sebagainya. Sedangkan jenis Psikotropika yang sering disalahgunakan adalah amfetamin, ekstasi, shabu, obat penenang seperti mogadon, rohypnol, dumolid, lexotan, pil koplo, BK, termasuk LSD, Mushroom.

            Seiring berjalannya waktu, penyebaran narkoba pun hampir tidak terbendung. Oknum-oknum tidak bertanggung jawab melakukan berbagai cara agar masyarakat Indonesia banyak yang menjadi korban. Seperti beberapa bulan lalu, ditemukannya narkoba jenis baru berbentuk kertas, ganja dicampur aduk dengan bahan makanan kemudian dimasak sehingga berbentuk seperti brownies, coklat, atau permen. Benar-benar mengiris hati. Pasalnya hal tersebut membuat pihak-pihak yang tidak tahu menahu menjadi korban.

            Kita sendiri tahu bahwa narkoba sangat dilarang di Indonesia kecuali digunakan dalam bidang kedokteran. Kepada orang-orang yang mengkonsumsi, pengedar, penjual, dan bandar yang ketahuan pasti dikenakan sanksi yang sesuai dengan undang-udang. Mulai dari masuk penjara, denda, hingga hukuman mati. Namun, hal itu tidak membuat ‘mereka’ jera. Kita lihat sendiri fakta yang terjadi di Negara kita.Tingkat penyalahgunaan narkoba semakin tinggi. Bahkan gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat) mencatat sebanyak lima juta jiwa menjadi pengguna dan pecandu Narkoba di Indonesia pada tahun 2012.

            Benar-benar mengiris hati. Sebab narkoba berpotensi mengancurkan bangsa dan peradaban. Mau dibawa ke mana Negara kita ini bila generasi muda banyak yang terjerumus narkoba? Bukankah pemuda adalah pemimpin di masa yang akan datang?

            Sebenarnya, narkoba bisa diberantas. Asal rakyat dan pemerintah saling bekerja sama. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses panjang. Namun, bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, pasti akan membuahkan hasil yang maksimal. Contoh nyatanya adalah dulu Indonesia berhasil merdeka dari tangan penjajah. Hal itu terjadi sebab rakyat dan pemerintah bekerja sama sampai titik darah penghabisan. Begitu pula dengan kasus narkoba. Jadi, tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi.

            Sebagai remaja beberapa hal yang bisa dilakukan agar terhindar dari narkoba antara lain:

  1. Kuatkan iman, mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
  2. Selalu pakai logika, pemikiran, serta pertimbangan. Jangan gunakan emosi semata.
  3. Bila ada masalah, cepat temukan solusinya. Atau bisa juga meminta pendapat dari orang-orang terdekat atau orang tersayang. Misalnya orangtua dan sahabat.
  4. Pandai-pandailah dalam memilih teman.
  5. Bila memiliki waktu luang yang banyak, gunakan waktu itu dengan mengikuti kegiatan yang bermanfaat. Misalnya dengan gabung komunitas yang menarik hati, mengembangkan hobi, dan lain-lain.
  6. Jika libur tiba, habiskan waktu dengan orang-orang yang disayang. Bisa dengan melakukan piknik, karoke, masak bersama, makan bersama, dan sebagainya.
  7. Jadilah sosok yang bertanggung jawab. Jujur kepada diri sendiri dan menjadi contoh yang baik bagi orang sekitar.

Untuk itu, jauhi narkoba dengan tidak menyentuh apalagi mengkonsumsinya. Sebab bila sudah terjerumus dengan obat terlarang itu, akan datang penyesalan di kemudian hari. Hidup pun jauh dari kata menyenangkan. Lindungi diri dan orang-orang yang disayang. Jadi, katakan tidak pada narkoba!

Medan, Mei 2015.

(Tulisan ini dimuat di Harian Analisa. Minggu, 26 Juni 2016)

Olahraga di Bulan Puasa

Eva Riyanty Lubis

Jumlah-Otot-yang-Berbeda-dari-Pria

Sumber gambar: Google

Ketika puasa, tidak menutup kemungkinan badan akan menjadi lemas. Apalagi kalau kerjaan seharian hanya nonton, baca buku, dan tiduran. Padahal, dengan tetap aktif selama puasa, tubuh akan semakin sehat. Kuncinya adalah mengatur waktu olahraga. Saat berpuasa, energi yang dimiliki tentu saja tak sebesar biasanya. Karena itu, pengaturan waktu dan pemilihan jenis olahraga saat puasa sangatlah penting. IPFA (International Fitness Proffesional Association) merekomendasikan untuk tetap melakukan olah raga 60 % dari intensitas yang dikerjakan secara rutin di luar bulan puasa.

Dalam melakukan aktivitas olahraga cairan tubuh akan banyak terbuang, untuk itu kita harus memperbanyak konsumsi air di luar jam berpuasa yang bertujuan untuk mempertahankan stamina saat melakukan olahraga dan memperkecil terjadinya resiko dehidrasi selama berolahraga.

Waktu yang tepat untuk melakukan olah raga adalah pagi hari 1-2 jam setelah makan sahur, namun apabila karena kesibukan aktivitas yang kita kerjakan bisa juga dikerjakan 1-2 jam setelah makan  saat berbuka puasa.

Beberapa jenis olahraga yang bisa kita lakukan antara lain:

  1. Jalan Santai

Bagi pemula, jalan santai keliling komplek rumah bisa menjadi pilihan. Cukup 20 menit. Namun, sesuaikan juga dengan kemampuan. Nanti seiring dengan berjalannya waktu, kita bisa meningkatkan waktu lebih lama setiap harinya.

  1. Jogging

Bagi yang terbiasa dengan olahraga lari, jogging bisa menjadi pilihan. Yang penting, jangan terlalu memaksakan diri melalukan jogging dengan waktu yang lama sebab kita bisa dehidrasi. Perhatikan juga detak jantung. Biasanya ketika berolahraga di saat puasa, jantung jadi mudah berdebar. Kalau sudah begitu, kita bisa istirahat sejenak atau mengurangi kecepatan lari.

  1. Bersepeda Santai

Bersepeda santai bisa dilakukan pada pagi atau sore hari. Cukup 20 – 30 menit sehari atau sesuaikan dengan kemampuan.

  1. Yoga

Banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan berlatih yoga saat puasa. Yoga sendiri akan membantu dan mempercepat proses detoksifikasi dalam tubuh. Selain itu, berlatih yoga saat puasa dapat menjaga kondisi tubuh juga pikiran agar tetap sehat, bugar, dan tenang. Latihan yoga yang fokus pada teknik pernapasan akan menambah suplai oksigen dalam tubuh serta membantu menyeimbangkan produksi hormon. Pilihlah gerakan yoga yang lembut, peregangan otot, dan teknik-teknik pernapasan. Hindari gerakan yang menahan beban tubuh terlalu berat.

  1. Tenis atau bulutangkis

Olahraga ini baik dilakukan sembari menunggu waktu berbuka. Melakukan orahraga ini bersama keluarga pasti sangat menyenangkan.

  1. Berenang

Berenang membuat seluruh otot tubuh bergerak. Cukup 30 menit sehari. Lakukan olahraga ini di pagi hari. Hati-hati jangan sampai air masuk ke dalam mulut.

  1. Aerobik

Olahraga ini sangat baik bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan. Bisa dilakukan secara efektif tanpa harus melakukan berolahraga berat dan berkeringat.

Demikian beberapa jenis olahraga yang bisa kita lakukan saat berpuasa. Salam sukses dan selamat menunaikan ibadah puasa.

Medan, Mei 2015.

(Tulisan ini dimuat di Harian Analisa Medan. Minggu, 12 Juni 2016)

Menyapa Keindahan Air Terjun Silima-Lima

Eva Riyanty Lubis

Air Terjun Silima-Lima adalah salah satu kekayaan alam milik Tapanuli Selatan. Sebenarnya sejak 2012 pariwisata ini sudah mulai terdengar gaungnya ke beberapa penjuru daerah. Namun, hingga kini masih banyak masyarakat yang kurang peduli pada air terjun Silima-Lima. Salah satu alasannya tentu saja karena letaknya yang berada di tengah hutan belantara.

3

Perjalanan dari desa menuju air terjun Silima-Lima.

Air terjun Silima-Lima sendiri terletak di Desa Simaninggir, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan. Secara geografis tempat ini diapit oleh dua gunung. Yakni Gunung Sibual-Buali dan Gunung Lubuk Raya. Tempatnya sendiri berada di atas ketinggian kurang lebih 800 meter dari permukaan laut. Membutuhkan waktu kisaran satu jam menggunakan sepeda motor dari Padangsidimpuan untuk sampai ke desa ini. Lalu dari desa ini, kita harus berjalan kaki kurang lebih satu jam lagi untuk tiba di lokasi wisata.

Menuju Silima-Lima, kita harus melewati persawahan, kebun salak, lalu perkebunan karet milik warga. Bila cuaca mendukung, sebenarnya perjalanan untuk menempuh tempat ini tidaklah begitu susah. Namun, bila kita kesana ketika suhu lembab atau habis hujan, kita harus benar-benar ekstra hati-hati. Sebab jalannya akan menjadi sangat licin.

1

Perjalanan melewati hijaunya tumbuh-tumbuhan.

Perjalanan kurang lebih satu jam akan terbayar lunas ketika air terjun Silima-Lima sudah berada di depan mata. Sebuah pemandangan yang sangat luar biasa. Apalagi baru Air terjun Silima-Limalah yang menjadi air terjun yang sangat tinggi, yang ada di Tapanuli Selatan. Ketinggiaannya kurang lebih 80 meter. Air jernih dan bersih yang jatuh ke dasar membuat kita terkagum-kagum. Sungguh indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa ini.

Kalau saja pemerintah bisa mengelolanya dengan baik, tentu saja air terjun Silima-Lima akan semakin terdengar gaungnya ke penjuru Indonesia, khususnya Sumatera. Hal itu juga akan memberikan penambahan pemasukan buat Tapanuli Selatan.

Sayang, letaknya yang ada di tengah hutan belantara membuat banyak orang khususnya yang berkeluarga dan memiliki putra-putri kecil, yang ingin menikmati liburan enggan memilih destinasi tersebut.

Hingga kini, kebanyakan yang datang menyapa keindahan Silima-Lima adalah para pecinta alam dari kampus, ataupun dari luar daerah. Bila libur tiba, tempat ini akan dipadati pengunjung.

2

Padatnya pengunjung air terjun Silima-Lima.

Sebelum menikmati keindahan pariwisata lainnya, apalagi yang jauh dari tempat tinggalmu, yuk sapa dulu air terjun Silima-Lima. Jangan sampai pendatang dari berbagai kota lebih fasih bercerita tentang tempat ini dibanding kamu yang tinggal tak jauh dari sini. Pasti kamu idak akan menyesal bila sudah berjumpa langsung dengan air terjun Silima-Lima. Bahkan akan ketagihan untuk datang kembali mengunjungi tempat ini.

Selamat bertualang!

(Dimuat pada Harian Analisa Rubrik Pariwisata. Minggu, 25 September 2016)